Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

“Yang indah dari Papua apa, sih?” Aku dan Sistha bertanya kepada wajah-wajah lugu di sekeliling kami.

Satu per satu dari mereka menjawab,
“Hutannya!”
“Lautnya!”
“Rusa-rusa!”
“Sungainya!”
“Sungai yang ada buayanya!”

Semua tertawa mendengar jawaban terakhir. Kami kebingungan di antara dua kemungkinan: apakah segala hal menjadi begitu indah di Papua atau justru semua kombinasi unik itu yang menjadikan Papua indah.

Continue reading “Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan”

Advertisements

Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar

Aku, Arief, Cycy, Juwandy, dan Sistha adalah lima karakter dengan jalan hidup berbeda yang dipertemukan semesta di persimpangan yang sama. Persimpangan itu berupa jalanan terjal penuh batu dan liku di sudut Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Dikelilingi oleh cuaca ekstrem dan ganasnya lautan, persimpangan tersebut bernama Desa Tanusan.  Continue reading “Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar”

“You’re a Blessing to Me.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra ketiga yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Jauh sebelum aku mengenal Ekspresi dan mendekatkan diri dengan adik-adikku, ada seseorang yang selalu menjadi yang pertama mengetahui segalanya. Tempat semua ceritaku bermuara.

Tentang pacar pertama. Kenakalan-kenakalan saat SMA. Masalah keluarga. Meminta doa sebelum lomba. Pengakuan dosa. Buku yang kubaca. Lagu yang kusuka. Cita-cita. Cinta-cinta. Semuanya.

Setelah tujuh tahun lamanya—tujuh tahun penuh liku: bertemu, bertengkar, berdamai, berpisah, bertemu, bertukar kisah, berpisah, bertemu, berkeluh kesah, berpisah—hubunganku dengannya tetap tidak berubah. Terlepas dari banyak orang baru yang hadir dalam hidup kami berdua, kepadanyalah aku tetap bercerita, meski kini ia tidak selalu menjadi yang pertama.

Sebagaimana telah diketahui, kepalaku adalah dunia yang aku sendiri tidak bisa mengerti. Ia benar-benar berantakan seperti kamar tahanan, atau lebih buruk dari itu bahkan. Dari hari ke hari, ia meminta untuk selalu kubenahi meski pada akhirnya kekacauannya justru semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaosan tersebut tiba di puncaknya, sahabatku ini adalah salah satu yang kerap menerima getahnya. Aku bisa meneleponnya berkali-kali, mengiriminya pesan yang luar biasa panjang dengan bahasa yang sangat tidak tertata (percayalah, ketika aku berada di fase seperti ini, tidak ada satupun sahabat-sahabatku yang mengerti apa yang aku bicarakan dan tuliskan karena rangkaian kalimatku benar-benar berantakan), bahkan mengirim pesan suara yang tidak jelas isinya.  Continue reading ““You’re a Blessing to Me.””

“Mereka Benar-benar Pemberani.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra kedua yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Pernah suatu waktu salah seorang adikku menghampiri dan berbicara empat mata perihal depresi. Ia khawatir sedang mengidapnya karena ia merasakan berbagai gejala pada dirinya. Isi kepalanya seringkali kusut, banyak hal membuatnya takut, tampak luar ia tetap beraktivitas seperti biasa sesuai tanggung jawabnya meski sebenarnya tidak ada lagi hal yang menarik minatnya, berkali-kali menyalahkan diri atas berbagai kesalahan di masa lalu hingga merasa dirinya tak bernilai lagi, sampai akhirnya gagasan untuk menyakiti diri dan bunuh diri muncul berulang kali.

Aku tidak bisa memberikan diagnosis tentu saja, sehingga kuberikan seluruh waktu dan perhatian yang kupunya untuknya. Aku senang ia memilih untuk tidak melakukannya ketika pikiran bunuh diri itu menghampirinya, tidak bisa kubayangkan seandainya hal itu terjadi. Aku pun senang ia memilih untuk menghampiri dan menceritakan semuanya kepadaku. Sambil mengucapkan mantra pertama kepadanya, aku turut meyakinkan untuk pergi ke psikolog bersama-sama bila kami punya uang dan waktu kelak.  Continue reading ““Mereka Benar-benar Pemberani.””

“Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra pertama yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Mereka pikir aku hendak bunuh diri ketika aku meminta izin untuk pergi dan tidak perlu dicari. “Hati-hati,” demikian mereka menanggapi. Tidak ada pertanyaan selanjutnya. Tidak ada paksaan untuk bercerita. Tidak ada larangan untuk pergi. Sepenuhnya mereka memahami bahwa saat itu aku membutuhkan waktu bagi diriku sendiri.

Dan satu alasan mengapa sejak dulu aku tidak pernah meragukan mereka sebagai tempatku berbagi isi hati adalah karena kami sepenuhnya sepakat bahwa semua yang terjadi di internal kami akan tetap bertahan di internal kami. Belum pernah ada yang melanggar ini.

Beberapa bulan setelahnya, barulah mereka bercerita semuanya. Bahwa mereka membuat multi chat tanpaku untuk membahas ini, bahwa mereka khawatir karena aku tidak kunjung muncul di group chat, dan bahwa mereka senang melihatku kembali pulang (karena akhirnya mereka bisa memberikan kejutan ulang tahun yang lebih mewah ketimbang lagu ‘Sampai Jadi Debu’ di group chat—yang sejujurnya sudah lebih dari cukup).

Pembicaraan ini terangkat karena beberapa dari kami rupanya sempat dan masih memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Kami mendengarkan dengan saksama, dan seperti biasa, memberikan masukan yang jauh lebih menenangkan dari yang dibutuhkan. Salah satu tanggapan yang paling kuingat dan kupikir bisa menjadi benang merah dari dinamika pembicaraan kami adalah pernyataan yang entah keluar dari mulut siapa.

“Ajak aku bunuh diri bersamamu.”

Kurang lebih seperti itu.

***

Continue reading ““Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.””

Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

IMG_6854

Sebelum membaca lebih jauh, pertama-tama, ketahuilah bahwa sebelum kamu memintaku menulis sebuah surat di hari ulang tahunmu, aku telah lebih dulu berencana untuk melakukannya sejak beberapa waktu menjelang hari bahagiamu itu. Aku telah memikirkan apa yang hendak kusampaikan sejelas mungkin, layaknya bayangan masa lalu di dalam kepalaku. Dan di dalam pikiranku tersebut, aku membayangkan akan membuka surat ini dengan sebuah adegan percakapan antara Tom Hansen dan Summer Finn, dua karakter utama dalam film yang rupanya sangat kamu sukai: (500) Days of Summer.

Continue reading “Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan”

Selamanya.

Goncangan akibat bertemunya roda pesawat dengan landasan bandara membangunkanku dari tidur paling singkat yang pernah kualami. Tiga puluh menit dari total waktu perjalanan yang enggan kusebutkan. Di pangkuanku, tersandar buku klasik The Origin of Species karya Charles Darwin yang kubeli di sebuah kota seharga 55.000 rupiah saja.

Di grup LINE dengan dua belas anggota—aku, Alief, Anggit, Dian, Fandi, Kevin, Kusnanta, Miw, Novita, Yoga, Zeniar, Zizi—ada sebuah daftar krusial yang kami susun sekitar bulan November 2017 lalu. Daftar tersebut diberi nama “BUKU YANG INGIN KITA BELI” dan seperti judulnya, daftar itu memang memuat rincian buku-buku yang secara impulsif ingin kami beli dan miliki. Selain memperkaya isi kepala, kami juga memiliki mimpi untuk bisa membangun perpustakaan bersama.

Salah satu buku dalam daftar tersebut adalah The Origin of Species yang, selain diminati olehku, juga diminati oleh Alief, Dian, dan Yoga. Maka, ketika aku menemukan buku itu dalam versi Bahasa Inggris dengan harga yang sangat terjangkau, mau tidak mau aku langsung membelinya (dan memamerkannya kepada mereka).

Sayang sekali aku justru tertidur di dalam pesawat ketika baru membaca beberapa halaman saja. Saat pesawat akhirnya benar-benar berhenti dan pilot mempersilakan para penumpang untuk turun, aku bergegas melepas sabuk pengaman dan menutup buku yang tertelungkup di pangkuanku itu. Aku mengingat-ingat halaman terakhir yang kubaca karena tidak ada pembatas buku sama sekali sementara aku sangat menghindari melipat halaman buku untuk menandai bacaanku.

Aku melangkah pelan seraya menghirup udara di luar pesawat dan mengembuskannya dengan perasaan lega.

Surabaya. Lagi.

***

Continue reading “Selamanya.”