Ilusi Secangkir Kopi

Kau dengar secangkir kopi ini berbisik
Beriak hening di sudut meja yang tak kau sentuh
Dalam tanya kau terusik
Kemana pekat ini ‘kan membawamu berlabuh

Di pandang pertama riaknya berkata
“Aku diam tak bergelombang
Namun takutmu yang jadikannya nyata”
Dan ia biarkan tanyamu mengambang

Di sesap pertama aromanya menyahut
“Aku memikat jejak langkah pertamamu
Membentangkan layarmu ‘tuk terhanyut
Tenggelam dalam rekam perjalanan yang baru”

Di teguk pertama derainya menantang
“Kehendakmu putuskan ‘tuk bermula
Bak seorang dalang yang berwayang
Bagaimana akhirnya pilihanmu pulalah kuncinya”

Kau bisa berhenti
Mengaku kalah dan menyerah
Tak lagi menenggak kopi
Karena hanya berimu resah

Menenggaknya habis pun tak apa
Abaikan aromanya
Melawan pahitnya
Hingga ampas tersisa

Atau menyesapnya perlahan
Menikmati setiap teguk yang mencekat
Yakin bahwa hanya dengan bertahan
Kau mampu melihat yang tersirat

Bahwa kesederhanaan kopi
Berkisah akan ceritera
Berbalut ilusi juga ironi
Tentang mahakarya bernama semesta

Jumat, 30 Januari 2015 pukul 20.37 WIB
Dalam kereta menuju Surabaya

Advertisements

Extremely Loud and Incredibly Close

2015/01/img_0285-1.jpg

2015/01/img_0286-0.jpg

Kurasa, seluruh manusia yang terlahir di lapisan bumi ini adalah sepenuhnya normal. Setidaknya, aku yakin seperti itulah kita semua di hadapan satu-satunya subjek yang merencanakan dan menciptakan rangkaian rumit semesta ini; normal, setara, tanpa kesenjangan dalam aspek apapun. Continue reading “Extremely Loud and Incredibly Close”

Tentang Ayah

Tidak banyak yang dapat kuingat tentang ayahku sendiri. Maksudku, selain dari nama lengkapnya Anak Agung Gede Prahara Anantara, atau informasi bahwa beliau dilahirkan di Blitar, 20 November 1966. Atau tentang cerita uniknya yang beragama Hindu sejak lahir tetapi memilih untuk memeluk Islam saat SMA. Atau mengenai penuturan orang sekitarnya bahwa ia sering memberi sontekan di waktu muda, juga disukai banyak lawan jenis sejak remaja. Tidak banyak yang kuketahui tentangnya, namun tidak sedikit pula. Yang pasti, apa yang mampu kuingat tentangnya jelas tidak sebanyak yang anak-anak lain ingat tentang ayah mereka, kurasa begitu.

Kita mulai dari bagaimana hubunganku dan ayahku berjalan. Continue reading “Tentang Ayah”