Tetaplah Lapar, Ganesha

Tanggal sepuluh kemarin, Ganesha menginjak usia 11 tahun. Namun sayangnya, lantaran masih melakukan Kerja Praktik (KP) di Trenggalek, aku tidak bisa merayakan hari besar itu bersamanya di Sidoarjo sehingga aku hanya memberinya ucapan selamat melalui pesan singkat. Ada sedikit perasaan aneh yang merayapi hati setiap kali adik-adikku berulang tahun, rasanya seperti ketika kamu tak bisa tidur di malam hari dan merenung betapa cepatnya waktu merubahmu padahal satu hari yang lalu kamu hanyalah seorang anak yang menggambar dua gunung bersisian dengan matahari terbenam di antara keduanya. Melihat adik-adikku bertambah usia juga memberikan perasaan yang sama. Aku hanya berpaling sekian detik ketika menggendong mereka, dan tiba-tiba—poof!—mereka sudah bisa berdiri dan berlari ke sana dan kemari.

Ganesha, sejauh yang kuingat, adalah seorang anak kecil berkepala besar (secara harfiah) yang senang bergerak ke mana pun ia mau. Ketika kecil, ia gemar berjalan dan berlari di seluruh penjuru rumah dan baru akan berhenti ketika terjatuh. Ia juga senang menguji kemampuannya dengan memanjat kursi, tempat tidur, meja makan, meja kerja, dan baru akan berhenti pula ketika terjatuh. Aku rasa itu sudah cukup menjelaskan fenomena kepalanya yang besar. Continue reading “Tetaplah Lapar, Ganesha”

Advertisements