Perjalanan Hujan

Jika langit adalah rahim, maka

peluh para buruh yang mengaduh, berteriak dan menggertak dewa-dewa berdasi di atas singgasana yang tertawa mempermainkan hidup mereka, juga

riak sungai dan samudera yang telah memisahkan seorang istri dari suaminya, ayah dari anaknya, dan anak-anak dari masa depannya, juga

tangis para bayi yang bertanya-tanya mengapa sumur dan ladang di desanya tidak jauh berbeda keringnya dengan susu ibu-ibu mereka, juga

rintih batang demi batang pepohonan di tengah kobaran keserakahan yang menggerogoti habis setiap tarikan napas kita, juga

isak tanpa henti di sudut-sudut tergelap bumi atas kelaknatan bajingan yang telah menutup mata akan makna kehormatan

adalah benih
yang menguap bersama harap dan tumbuh

menjadi bayi kecil
bernama hujan:
buah penantian panjang yang lahir tanpa mampu bertanya mengapa di bumi ia harus jatuh.

Surabaya, 20 Maret 2017
Masih menyimpan harap akan tanah ini

Advertisements