Mengapa Aku Menulis

Aku mengenal rupa dari kata-kata untuk pertama kali ketika berusia tiga tahun. Saat itu aku melihat simbol-simbol tak dikenal pada pelat mobil yang ternyata merupakan huruf dan angka. Aku belajar bersama ayah dengan bekal rasa penasaran selayaknya anak kecil, dan menggunakan kemampuan baruku itu untuk diam-diam membaca surat-surat yang saling dikirimkan ayah dan ibu ketika muda dulu.

Beranjak ke taman kanak-kanak, kegemaranku pada tulisan membawaku menjadi juara tiga lomba puisi entah tingkat apa. Aku bahkan tidak ingat apa yang kutulis dan kubaca, aku hanya ingat berangkat dan pulang dari tempat lomba bersama ibu. Continue reading “Mengapa Aku Menulis”

Advertisements

Mengapa Aku Tidak Menulis

Sebenarnya, judul di atas tidak begitu cocok dengan apa yang akan tulisan ini sampaikan. Karena, ini bukan tentang aku berhenti menulis (sulit untuk tidak menulis dalam satu hari) tapi lebih tentang apa yang terjadi di balik kekosongan pada blog ini selama beberapa bulan terakhir.

Sebenarnya lagi, aku tidak begitu merasa perlu menceritakan ini. Tinggal menulis saja lagi dan mempublikasikannya setelah berbulan-bulan tenggelam. Tapi, tidak. Kalian yang senang menulis di luar sana bisa saja merasakan hal ini juga dan memutuskan untuk berhenti. Dan sebelum itu terjadi, izinkan aku untuk berbagi.

Continue reading “Mengapa Aku Tidak Menulis”