Selamat Setahun, Safari!

Ketika aku berkata bahwa kalian seperti adik-adikku, aku tidak hanya menyiratkan perbedaan angkatan di antara kita dengan aku yang lebih tua dan kalian yang lebih muda. Aku tidak menyatakan bahwa aku dewasa sementara kalian tidak. Aku tidak bermaksud merendahkan dan mengatakan bahwa aku yang paling tahu segalanya.

Tidak, sama sekali tidak.

Yang sebenarnya hendak kukatakan adalah, sama seperti adik-adikku, kalian merupakan kepingan-kepingan fragmen yang saling menyempurnakan. Seperti adik-adikku, tidak ada istilah yang satu lebih dewasa dari yang lainnya. Kami semua justru saling mendewasakan. Sama seperti yang kulihat dalam diri kalian. Dari kalian, aku belajar banyak hal. Dan semoga, ada hal yang dapat kalian pelajari juga dariku.

DSC_0502-01.jpeg

Continue reading “Selamat Setahun, Safari!”

Advertisements

Memaknai Belenggu

Di kota pertama yang kudatangi, aku tinggal di sebuah indekos harian tepat di samping gereja. Kamarku di lantai dua, dekat dengan lonceng gereja, meski tetap saja gema azan lebih sering terdengar ketimbang dentang lonceng. Di luar kamarku ada balkon besar yang menghadap jalan kompleks. Balkon itu biasa digunakan oleh para penghuni kos untuk menjemur pakaian, mengeringkan sepatu yang basah karena hujan, atau merenungi kenangan.

Aku, dengan penuh kebanggaan, biasanya melakukan aktivitas yang terakhir. Sendirian. Continue reading “Memaknai Belenggu”

Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

Ada satu buku yang selalu kubawa setiap kali aku bepergian jauh. Aku tidak tahu pasti mengapa, aku hanya merasa harus membawanya. Seseorang yang istimewa—aku tahu ini menggelikan tapi aku bingung menentukan padanan kata yang sesuai—memberikannya kepadaku tiga tahun yang lalu.

Semua dimulai ketika aku menulis kutipan dari sebuah film yang baru saja selesai kutonton beberapa menit sebelumnya pada pukul tiga pagi.

“My dad told me that New York once had the Sixth Borough that floated away. They tried to save it but they couldn’t. And it’s never coming back. As much as I want him to, my dad is never coming back. And I thought I couldn’t be without him but now… I know I can. I think that would make my dad proud, which is all I’ve ever wanted.” [1] Continue reading “Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka”

Segelintir yang Tercecer

Bila diibaratkan sebagai sebuah kamar, kepalaku bisa jadi merupakan kamar paling berantakan di seluruh dunia. Ukurannya tidak begitu luas, tetapi entah mengapa, ia selalu mampu memuat berbagai hal tak peduli sesesak apapun kelihatannya. Setiap kali mendapatkan barang yang baru, aku akan menjejalkan barang tersebut di rongga yang tersisa, menjadikan kamarku semakin terlihat bak neraka. Continue reading “Segelintir yang Tercecer”