Segelintir yang Tercecer

Bila diibaratkan sebagai sebuah kamar, kepalaku bisa jadi merupakan kamar paling berantakan di seluruh dunia. Ukurannya tidak begitu luas, tetapi entah mengapa, ia selalu mampu memuat berbagai hal tak peduli sesesak apapun kelihatannya. Setiap kali mendapatkan barang yang baru, aku akan menjejalkan barang tersebut di rongga yang tersisa, menjadikan kamarku semakin terlihat bak neraka.

Kasur menempel di langit-langit. Ratusan buku mengambang di mana-mana. Berbagai foto tercecer di lantai hingga tertutup debu. Tidak ada telepon genggam maupun alat komunikasi lainnya di sana tapi ia penuh dengan perkakas yang sepertinya diletakkan dengan harapan mampu membawa kamar itu ke keadaan yang seharusnya. Banyak jejak sepatu mengotori, dari mereka yang datang dan pergi silih berganti.

Aku, selaku penghuni kamar tersebut, bersusah payah untuk menata dan menyortir segalanya dengan rapi meski pada akhirnya, di ujung hari, aku selalu mendapati seisi kamarku terserak seperti sedia kala. Dengan sisa tenaga yang tersedia, aku memutuskan untuk mengecat pintu dan jendela serta memperindah eksterior kamar saja dengan ornamen-ornamen seadanya. Sebagai sentuhan terakhir, aku menutup pintu dan jendela kamarku lalu menguncinya rapat-rapat agar hanya aku seorang yang tahu seberapa kaosnya kamarku itu.

Awalnya, niatku begitu.

Sampai pada akhirnya, setelah belasan tahun menjaga kekacauan di dalamnya, aku dipertemukan dengan orang-orang yang secara sukarela berbagi isi kamarnya denganku.

Mereka mengajakku melihat seisi kamar mereka dan, entah bagaimana, memintaku untuk membantu mereka merapikannya. Aku memperhatikan setiap sudut kamar mereka dengan saksama dan mencoba membantu menata isinya sesuai dengan yang mereka minta. Bahkan, terkadang, mereka justru meminta pendapatku terkait penataan ruang yang terbaik bagi diri mereka.

Harus kuakui, aku menikmati aktivitas ini. Hingga saat ini. Bertemu dengan mereka yang rela berbagi seisi dunianya kepadaku membuatku merasa sedikit lebih berarti.

***

Kepada adik-adikku, aku mengatakan bahwa aku akan pergi selama beberapa hari.

Ke mana, tanya mereka. Rahasia, jawabku.

“Jangan lama-lama, minggu ini lagi UAS. Mas Bageur harus ngajarin kayak biasa, ya?” Pinta salah satunya. Kami semua baru selesai belajar matematika saat itu.

“Kalau besok Mas nggak datang, kalian belajar sendiri nggak apa-apa, ya?” Aku balik bertanya. Tambahku, “Bisa kok pasti.”

Lalu aku menggendong ransel dan berjalan keluar rumah. Sebelumnya, aku menengok kamar Tanreren sejenak. Kamarnya sudah bersih dan rapi. Katanya, ia kerja bakti bersama Ganesha dan Arum untuk membersihkan isi kamarnya itu. Aku tertawa kecil sambil menepuk pundaknya, lalu pamit.

***

Rangkaian seleksi Pemandu LKMM TM ITS 2018 sudah selesai. Nama-nama yang kelak akan meneruskan Pemandu Ekspresi telah ditetapkan dan dibacakan saat prosesi pembaiatan pada hari Minggu lalu.

Malamnya, aku izin pamit kepada Pemandu Ekspresi. Tidak semuanya, hanya beberapa yang hadir saat itu.

Ke mana, tanya mereka. Rahasia, jawabku.

Beberapa saat setelahnya, aku menambahkan, “Ke tempat yang membahagiakan.” Mengutip perkataan Kevin dan Anggit tempo dulu, ketika masing-masing dari mereka izin pergi sebentar ke suatu tempat untuk menyelesaikan hal tertentu.

Ah, aku jadi rindu Fasilitator Ekspresi juga. Kebetulan, bulan ini mereka akan berulang tahun. Aku akan bercerita tentang mereka berduabelas tepat tanggal 25 nanti. Semoga mereka membaca dan menyukainya.

***

Aku pamit kepada beberapa orang karena aku tidak ingin dianggap melarikan diri (entah dari apa). Tanpa perlu menyebutkan tempat dan alasan, aku pamit dan meminta izin untuk tidak dicari. Lagi pula, bisa saja aku kembali beberapa hari kemudian (tapi bisa juga aku tidak kembali bila menemukan apa yang kucari). Aku menulis ini pun sebagai pernyataan bahwa aku sedang baik-baik saja, menulis sendirian di sebuah kedai kecil 24 jam di sudut kota dengan memanfaatkan wi-fi yang tersedia.

Keluargaku mungkin akan selalu berkaitan erat dengan pergi dan ironi.

Kakekku mantan aktivis yang pergi dari penjara ke penjara (menurut penuturan nenekku). Beliau meninggal setelah melahirkan enam anak. Yang menjadi ironi adalah beliau bisa berinteraksi dengan hal gaib namun nyatanya kalah juga dengannya.

Ayahku pergi dari tanggung jawabnya di Bali karena memilih untuk memeluk Islam di usia remaja. Beliau menghilang setelah melahirkan enam anak. Yang menjadi ironi adalah beliau bisa membaca pikiran namun menolak memahami isi kepala anaknya.

Aku belum tahu apakah aku akan melahirkan enam anak (kakek buyutku juga melahirkan enam anak tapi aku tidak tahu kisah hidup beliau) kemudian pergi juga. Tapi aku tahu yang menjadi ironi dari diriku adalah bisa menerawang masa depan namun gagal menggapainya.

***

Saat sedang menulis bagian ini, aku memikirkan pertanyaan orang-orang yang bertanya melalui sahabat-sahabatku.

“Apa kabar Bageur? TA-nya diurus, nggak?”
“Bageur itu agamanya apa, sih?”
“Aku kayak lost contact sama Bageur. Gimana kabarnya dia sekarang?”
“Temanku pernah kena PHP Bageur. Sekarang sama siapa dia?”
“Bageur kok nggak lulus-lulus, ya?”
“Serius Bageur nggak bakal nikah? Kok bisa?”

Aku terbengong-bengong sendiri mendengar pertanyaan-pertanyaan itu.

Dengan bahasa halus, aku ingin menjawab, “Tidak perlu semua hal kalian tahu. Aku tidak ingin membebani kepala kalian dengan kekacauan-kekacauan dalam kepalaku.”

Dengan bahasa kasar, aku ingin menjawab, “Jika kalian bukan adik-adikku, SCC, SF, Sondha, Ai, Isti, Rima, atau Pemandu Ekspresi, kalian cukup tahu bahwa aku tidak berniat lulus tapi tidak perlu tahu alasan di baliknya. Berlaku juga untuk pertanyaan lainnya. Aku sudah memilih dengan siapa aku berbagi dunia.”

***

Maaf atas ceracau dini hari ini. Aku akan menggunakan hari ulang tahunku ini sebagai alasan untuk menulis tentang kekacauan diriku sendiri. Esok dan seterusnya, aku akan mengecat kembali eksterior kamarku dan mengunci pintu lebih rapat lagi.

Advertisements

23 thoughts on “Segelintir yang Tercecer

  1. Cieh ada yang ngerasa di PHP ama bageur, huhaha 😛 coba ditata “kamarnya” biar rapi, biar klo “buru2” ga salah ambil salah satu barangnya 🙂 betewe slmat tmbh tuaa, semoga sehat, bahagia selalu, dan semakin brtambah lebih baik 😊

  2. Kamu gak perlu repot” geur, istri mu yg akan melahirkan 6 org anak lucu baik hati tdk sombong rajin menabung soleh dn solehah, jika perempuan cantik dn manisnya kayak aku hahahahahaha😂😂

    Ehem, kalimat :
    Aku sudah memilih dengan siapa aku berbagi dunia.

    #azeek cihuyyy

    Eh geur mau kamana? Nti klo kmu prgi jauh, aku nti brmanja ria ama siapa? Kamu tega yaa ninggalin aku oke fine
    Take care.

      1. sepertinya kita tidak akan pernah bertemu :”)
        *nyetel lagu melow

        gausah bawa” orang lain, ini masalah kita berdua. kita yang memang udah ga cocok, kamu selalu marah-marah
        heu menyebalkan~

  3. Bageur, membaca ini rasanya ngalir dan timbul banyak pertanyaan. Tapi biarlah semua pertanyaanku itu. Tidak semua orang harus tahu alasan kita, kan. Kita tidak berhutang penjelasan apa-apa kepada orang lain atas apa yang kita pilih.
    Kecuali kamu memang ingin membagi isi kepalamu dengan seseorang, syukurlah kalau kamu sdh menemukan orangnya.
    Selamat berjalan, semoga banyak yang ditemukan di perjalanan nanti.

    😊

      1. Amiin. *teriak kencang-kencang.
        kusambut sambil bawa bendera warna-warni buat kibar-kibar nanti. kabarin ya, minta disambut di stasiun, terminal atau gerbang kampus ..Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.