Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

Ada satu buku yang selalu kubawa setiap kali aku bepergian jauh. Aku tidak tahu pasti mengapa, aku hanya merasa harus membawanya. Seseorang yang istimewa—aku tahu ini menggelikan tapi aku bingung menentukan padanan kata yang sesuai—memberikannya kepadaku tiga tahun yang lalu.

Semua dimulai ketika aku menulis kutipan dari sebuah film yang baru saja selesai kutonton beberapa menit sebelumnya pada pukul tiga pagi.

“My dad told me that New York once had the Sixth Borough that floated away. They tried to save it but they couldn’t. And it’s never coming back. As much as I want him to, my dad is never coming back. And I thought I couldn’t be without him but now… I know I can. I think that would make my dad proud, which is all I’ve ever wanted.” [1]

Tak lama, sebuah komentar masuk. “Baca bukunya juga biar tambah komplit :)”

Aku bertanya apa ia punya bukunya. Punya, jawabnya. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menawarkan diri untuk menjadi peminjam bukunya dan ia mengiyakan. Beberapa hari setelahnya, kami bertemu dan ia meminjamkan (kemudian justru memberikan) bukunya kepadaku. Buku itu berukuran kecil dengan sampul dominan berwarna putih dan judul tercetak besar-besar: Extremely Loud and Incredibly Close. Di bagian bawah buku, tercetak nama penulisnya: Jonathan Safran Foer. Logo penguin di pojok kanan bawah menandakan bahwa buku mungil tersebut diterbitkan oleh Penguin Books, sama seperti 1984 karya George Orwell yang disimpan di rumah nenekku. Hal kecil itu langsung membuatku tertarik pada pandangan pertama.

IMG_20171209_173254_522.jpg

Aku membawa buku itu pulang, menyampulnya dengan sampul plastik, dan membacanya habis nyaris dalam satu tarikan napas. Baiklah, tidak persis satu tarikan napas. Ada masa di mana napasku tertahan oleh kekaguman, ada masa di mana napasku saling tarik-menarik karena sesenggukan, dan ada masa di mana napasku terhela oleh kelegaan.

Hingga saat ini, aku sudah tidak tahu berapa kali aku membaca buku itu. Terkadang kubaca kembali dari awal hingga akhir, tidak jarang juga hanya membaca sebagian bab saja untuk memicu hadirnya perasaan-perasaan tertentu. Sampul plastiknya kini tak lagi rapi sebagaimana ketika ia kupakaikan pertama kali. Halaman-halamannya menguning dan sedikit bergelombang, entah karena sering kubaca atau kuhujani air mata. Atau karena keduanya.

Tapi aku tak mempermasalahkannya. Ke manapun aku berkelana, aku selalu membawa dan membacanya seolah-olah aku melakukannya untuk kali pertama.

***

Dalam perjalanan menuju kota ini, aku kembali membaca Extremely Loud and Incredibly Close untuk yang kesekian kali.

Buku ini bercerita perihal kehilangan: Oskar Schell, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, menemukan kunci dalam sebuah vas di lemari ayahnya yang telah meninggal dalam peristiwa 9/11 dan memutuskan untuk menelusurinya seorang diri. Dengan kepolosan dan rasa ingin tahu yang tinggi, Oskar menuturkan perihal perjalanan, pelajaran, pemikiran, dan perasaan yang dialaminya selama ia menelusuri misteri yang ditinggalkan ayahnya tersebut.

Aku belum pernah merasakan kehilangan yang teramat dalam, namun tidak dengan perempuan yang memberikanku buku ini. Seperti Oskar, ia telah kehilangan seseorang yang begitu berarti.

Selama membaca buku ini, aku kerap bertanya-tanya, “Inikah yang ia rasakan perihal kehilangan?” Aku tak pernah tahu.

***

Siang ini, aku tiba di tempat-yang-entah-hutan-bukit-atau-gunung yang cukup jauh dari pusat kota. Matahari berada tepat di atas kepala, namun gugusan pepohonan yang terlampau tinggi membuat sinarnya harus mencuri celah di antara dedaunan untuk bisa tiba di bumi. Dengan ransel di punggung, aku mencari tempat yang jauh dari kerumunan orang demi mendapatkan ketenangan (yang menjadi tujuan awalku datang ke tempat itu). Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya aku memilih sebuah pohon dan duduk di bawah teduhnya.

Aku mengeluarkan buku Extremely Loud and Incredibly Close dan memutuskan untuk menyelesaikannya, melanjutkan bagian yang kubaca ketika di kereta. Beberapa halaman lagi menuju akhir cerita.

***

I told him, “I found the lock.”

“You found it?” I nodded. “And?”

I didn’t know what to say. I found it and now I can stop looking? I found it and it had nothing to do with Dad? I found it and now I’ll wear heavy boots for the rest of my life?

“I wish I hadn’t found it.” “It wasn’t what you were looking for?” “That’s not it.” “Then what?” “I found it and now I can’t look for it.” I could tell he didn’t understand me. “Looking for it let me stay close to him for a little while longer.” “But won’t you always be close to him?” I knew the truth. “No.” [2]

***

I started crying.
I told her, “I promise I’m going to be better soon.”
She said, “There’s nothing wrong with you.”
“I’ll be happy and normal.”
She put her fingers around the back of my neck.
I told her, “I tried incredibly hard. I don’t know how I could have tried harder.”
She said, “Dad would have been very proud of you.”
“Do you think so?”
“I know so.”
I cried some more. [3]

***

I found the pictures of the falling body.

I reversed the order, so the last one was first, and the first was last.

When I flipped through them, it looked like the man was floating up through the sky.

And if I’d had more pictures, he would’ve flown through a window, back into the building, and the smoke would’ve poured into the hole that the plane was about to come out of.

Dad would’ve left his messages backward, until the machine was empty, and the plane would’ve flown backward away from him, all the way to Boston.

He would’ve gotten into bed with me.

We would’ve looked at the stars on my ceiling, which would’ve pulled back their light from our eyes.

I’d have said “Nothing” backward.

He’d have said “Yeah, buddy?” backward.

I’d have said “Dad?” backward, which would have sounded the same as “Dad” forward.

He would have told me the story of the Sixth Borough, from the voice in the can at the end to the beginning, from “I love you” to “Once upon a time…”

We would have been safe. [4]

***

Tamat.

Aku menutup buku mungil di tanganku untuk yang kesekian kali, dengan perasaan yang selalu sama tak peduli berapa kali aku membacanya. Aku menutup mata dan membiarkan semilir angin membawa wangi tanah basah ke dalam paru-paruku, sebagaimana aku membiarkan perempuan pemberi buku ini hadir dalam kepalaku.

Untuk beberapa detik, aku membayangkan kehidupan berputar ke belakang sebagaimana yang Oskar bayangkan.

Aku akan turun dari tempat-yang-entah-hutan-bukit-atau-gunung ini dengan berjalan mundur dan kembali menuju Surabaya.

Aku akan membaca buku ini dari belakang ke depan, begitu terus berulang kali hingga air mata yang jatuh di atas kertasnya melayang kembali ke mataku dan halaman-halamannya yang menguning menjadi putih seperti dulu.

Aku akan menelanjangi sampulnya dan mengembalikannya ke gulungan plastik yang utuh.

Bibirku yang tersenyum akan berubah menjadi datar ketika membaca ulang pesan-pesan singkat kami dari akhir ke awal. Telepon genggam kami akan kosong dari ceracau-ceracau singkat kami.

Aku akan mengucapkan “Terima kasih” secara terbalik sambil memberikan buku ini kepadanya. Ia akan menerimanya dengan senyum terkembang di wajahnya.

Ia akan menghapus komentar “Baca bukunya juga biar tambah komplit :)” dimulai dari tanda kurung hingga huruf B kapital.

Aku akan menghapus kutipan yang kutuliskan dan menonton Extremely Loud and Incredibly Close dari depan ke belakang. Aku akan hidup dengan hampa tanpa bagian dari dirinya yang menemaniku berkelana.

***

Keterangan:
[1] Kutipan dari film, tidak terdapat pada versi buku.
[2] Halaman 302-304
[3] Halaman 323-324
[4] Halaman 325-326

Advertisements

24 thoughts on “Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

  1. Pas aku baca judul bukunya, aku tahu ini sudah pernah dijadikan sebuah film. Kebetulan kemarin aku baru mengoleksinya. Semoga hari ini bisa menonton film itu.

    Dan aku juga berharap bisa mendapatkan buku itu dan membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.