Auggie Adalah Kita

Wonder 1
Sumber: Movie Insider

Berbicara mengenai Wonder, sejujurnya aku bingung harus memulainya dari mana. Maksudku, aku tahu sejak tetesan air mata pertama saat menonton seperempat awal film ini bahwa aku harus menuliskan tentangnya. Tetesan-tetesan selanjutnya hingga film berakhir pun membuatku semakin yakin. Dan, ketika aku menyelesaikan versi bukunya (yang kudapat dari Nabilla) beberapa hari yang lalu, aku tahu bahwa aku akan menutup 2017 dengan tulisan tentang karya besar ini.

Aku pun tahu bagaimana aku akan mengakhiri tulisan ini. Sama seperti judul tulisan di atas, aku akan menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana namun penuh penekanan: Auggie adalah kita.

Yang aku tidak tahu adalah bagaimana untuk memulainya.

***

Baiklah. Mari kita mulai dengan karakter utama dalam buku dan film ini: August Pullman alias Auggie. Auggie lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis yang membuat wajahnya tampak tidak biasa dan begitu berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang.

Auggie adalah seorang anak biasa yang seringkali memperoleh prasangka dari orang-orang di sekitarnya atas wajahnya yang tidak biasa. Dan meski ia mengaku telah terbiasa dengan pandangan-pandangan tak mengenakkan dari orang lain, ia tetap saja gelisah ketika hendak memulai hari-harinya di sekolah swasta, Beecher Prep, mengingat selama ini ia belajar di rumah (homeschooling) bersama ibunya.

Dari sanalah semua kisah ini dimulai.

***

Sebagian besar orang pasti mengira bahwa kisah Wonder berpusat pada Auggie dan perjuangannya di dunia yang serba baru: sekolah baru, wajah-wajah baru, pengalaman-pengalaman baru, ketakutan-ketakutan baru, prasangka-prasangka baru, teman-teman baru, bahkan musuh-musuh baru. Aku pun berpikir demikian ketika menonton filmnya.

Setelah membaca versi cetaknya, ternyata kenyataannya… iya dan tidak.

Iya, Wonder menceritakan perjuangan yang Auggie hadapi di dunianya yang baru. Tetapi tidak, Wonder tidak hanya melulu tentang Auggie. Selain melalui sudut pandang Auggie, Wonder juga diceritakan melalui perspektif Olivia alias Via (kakak Auggie), Summer (sahabat Auggie), Jack (sahabat Auggie), Justin (kekasih Via), dan Miranda (sahabat Via). Di sinilah letak kelebihan dan kepiawaian R. J. Palacio dalam meramu cerita.

1. Keikhlasan Via

Perspektif Via dibuka dengan pernyataannya bahwa August adalah matahari. Ia pusat tata surya yang dikelilingi oleh Via, Mom, Dad selayaknya planet-planet di alam semesta. Meski tidak disampaikan secara tersurat, kita akan menangkap bahwa Via merasa semua hal selalu tentang Auggie dan mengorbankan segala hal untuk Auggie adalah suatu keharusan yang tak perlu dipertanyakan.

Di tengah kemelut pikirannya tentang Auggie, Via juga bercerita betapa ia merindukan Grans (panggilan untuk neneknya) karena hanya kepadanyalah Via bisa berbagi segalanya, dan hanya dengan bersamanya ia merasa dicintai.

“Kau adalah segalanya bagiku. Kau mengerti, Via? Tu es meu tudo–Engkau segalanya bagiku.”

Aku memahaminya. Dan aku tahu mengapa Grans bilang ini rahasia. Seorang nenek seharusnya tidak punya cucu kesayangan. Semua orang tahu itu. Tetapi setelah Grans meninggal, aku menggenggam erat rahasia itu dan membiarkannya menyelimutiku.

2. Kehangatan Summer

Summer adalah murid pertama dari Beecher Prep yang berinteraksi dengan Auggie karena keinginan dan ketulusan hatinya sendiri. Tidak seperti Jack, Charlotte, dan Julian yang berinteraksi dengan Auggie lebih dulu karena diminta oleh Mr. Tushman sang kepala sekolah untuk menemani Auggie tur keliling sekolah baru saat liburan musim panas.

Bagi Summer, berteman dengan Auggie bukan masalah besar. Tetapi tidak demikian menurut teman-teman perempuannya yang justru mempertanyakan (dan meributkan) tindakan Summer. Dan dengan cueknya, Summer mengabaikan tudingan miring mereka dan tetap mendampingi Auggie.

Ada beberapa orang yang bertanya mengapa aku sering bergaul dengan “si anak aneh”. Anak-anak yang menanyakannya sama sekali tidak mengenalnya. Kalau mereka mengenalnya, mereka tidak akan menyebutnya aneh.

“Karena dia anak yang baik!” aku selalu menjawab seperti itu. “Dan jangan sebut dia anak aneh.”

3. Keberanian Jack

Jack menerima tawaran Mr. Tushman untuk menemani Auggie berkeliling sekolah saat libur musim panas karena ia merasa simpati. Tetapi, ia tidak langsung berteman dengan Auggie di hari-hari awal sekolah karena teman-temannya, “anak-anak populer”, tidak menyukai Auggie dan Jack khawatir ia akan dijauhi teman-temannya tersebut bila bergaul dengan Auggie. Tidak lama waktu yang Jack butuhkan untuk menyadari bahwa Auggie ternyata begitu baik dan menyenangkan untuk dijadikan seorang teman. Tetapi lagi-lagi, karena sebuah kesalahpahaman yang melibatkan teman-teman populernya, Jack membuat Auggie sakit hati dan menjauhinya.

Di bab inilah keberanian Jack dalam menentukan pilihan diuji.

Keberuntungan berpihak pada si pemberani. Kami semua diminta menuliskan sebuah paragraf mengenai pengalaman dalam hidup kami saat melakukan sesuatu yang sangat berani dan bagaimana, karena keberanian itu, sesuatu yang hebat terjadi pada kami.

Sepertinya hal paling berani yang pernah kulakukan adalah berteman dengan August.

4. Ketulusan Justin

Di sekolah menengah, Via yang memiliki masalah dengan sahabat lamanya, Miranda, bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi kekasihnya: Justin.

Secara pribadi, aku menyukai perspektif Justin karena kalimat-kalimat yang dirangkainya begitu puitis (wajar karena perspektif lainnya dituturkan melalui pandangan anak-anak) dan seluruh, sekali lagi kutekankan, seluruh tulisan dalam bab ini dicetak tanpa huruf kapital. Kecuali satu: huruf O pada nama Olivia di kalimat pembuka bab.

kadang-kadang olivia mengingatkanku pada seekor burung, bulunya yang kusut saat sedang marah. dan saat sedang rapuh seperti sekarang, dia seperti seekor burung kecil yang tersesat mencari sarangnya.

jadi aku memberikan sayapku agar olivia bisa bersembunyi di baliknya.

5. Kejujuran Miranda

Miranda menyayangi Via. Dan Auggie. Dan kedua orang tua mereka, Nate dan Isabel. Tak dapat dipungkiri, ia benar-benar menyayangi mereka semua melebihi keluarganya sendiri. Tetapi, sebuah kesalahan yang ia lakukan membuat hubungannya dengan Via menjadi renggang ketika berada di sekolah menengah. Pengakuan-pengakuan dan kejujuran-kejujuran yang Miranda tuangkan melalui sudut pandangnya ini kemudian menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang seringkali kita gaungkan perihal keluarga, cinta, dan persahabatan.

Salah satu hal yang paling kurindukan dari pertemanan Via adalah keluarganya. Aku menyayangi ayah dan ibunya. Mereka selalu ramah dan baik padaku. Aku tahu mereka sangat menyayangi anak-anak mereka. Aku selalu merasa aman berada di dekat mereka; lebih daripada tempat mana pun di dunia ini.

Dan, tentu saja, aku menyayangi Auggie.

6. Keajaiban Auggie

Sudut pandang Auggie dituturkan dalam tiga bab terpisah: pertama, keenam, dan kedelapan (terakhir). Tanpa memaparkan secara lebih rinci, aku menggambarkan Auggie sebagai seseorang yang membawa pengaruh besar bagi orang-orang di sekitarnya. Ia membuat orang lain membuka matanya lebih lebar dan memandangnya tanpa prasangka. Ia membuat orang lain lebih berani untuk berbuat kebaikan. Ia membuat orang lain menyadari kekuatan dalam diri mereka yang sebelumnya bahkan tidak pernah mereka sadari.

Sebagaimana tertulis pada judul buku dan film ini, Auggie adalah sebuah keajaiban–wonder.

Aku yang berterima kasih, Auggie,” Mom menjawab pelan.

“Untuk apa?”

“Untuk semua yang sudah kau berikan pada kami,” kata Mom. “Karena sudah hadir dalam kehidupan kami. Karena menjadi dirimu.”

Mom membungkuk dan berbisik di telingaku. “Kau memang sebuah keajaiban, Auggie. Kau adalah sebuah keajaiban. (You are a wonder, Auggie. You are a wonder.)”

***

Wonder mungkin akan berakhir sebagai sebuah fiksi belaka. Kecuali jika kita mau membuka mata dan menyadari bahwa banyak Auggie-Auggie lainnya di sekitar kita, berjalan di atas dunia yang sama. Ia bisa jadi seseorang yang lahir dengan sindrom serupa, Mandibulofacial Dysostosis, atau Down Syndrome atau Progeria atau Pierre Robin atau Stickler atau autis atau keistimewaan-keistimewaan lain yang membuat dirinya berbeda dengan kita.

Atau, ia bisa jadi tidak memiliki sindrom apapun. Ia mungkin manusia biasa dengan agama atau warna kulit atau ras atau gender atau prinsip atau suku atau keyakinan yang berbeda dengan kita.

Ia bisa jadi mereka yang membuat kita memicingkan mata dan menjaga jarak hanya karena kita merasa ia berbeda. Ia bisa jadi siapa saja. Bahkan, ia bisa jadi diri kita sendiri yang tanpa sadar sedang dipandang sebelah mata.

Menghadapi dunia sebagai Auggie tentu sangatlah menyulitkan bila dunia dipenuhi orang-orang yang tidak mampu menghargai perbedaan. Sayangnya, seperti itulah keadaan dunia kita sekarang. Perbedaan dianggap sebagai sebuah anomali yang harus dibasmi. Tetapi, kita bisa membawa dunia ke arah yang lebih baik dengan menyingkirkan pemikiran demikian dan mulai memandang setiap orang dengan pandangan yang lebih luas dari biasanya.

Atau, jika kita kesulitan untuk memulainya, cobalah dengan menanamkan sebuah mantra dalam jiwa. Bahwa Auggie adalah kita.

 

Advertisements

20 thoughts on “Auggie Adalah Kita

  1. (Tulisan ini sebenarnya telah dijadwalkan untuk terbit pada 31 Desember 2017 pukul 23.00 WIB dengan tujuan untuk menutup tahun. Namun, entah mengapa, tulisan ini pada akhirnya tidak terbit di waktu tersebut dan baru kusadari malam ini juga. Tidak sesuai rencana memang, tapi anggaplah tulisan ini sebagai awal yang baik di tahun 2018 agar kita mampu memulai tahun dengan pandangan yang lebih terbuka.)

  2. What I liked the most about the book and the film is that they (as in the creators, RJ Palacio as the writer and Stephen Chbosky as the director) never mentioned what disease Auggie has. NEVER. Both in the book or in the movie, there had been no mention of Treacher-Collins Syndrome/Mandibulofacial Dysostosis. They avoid labels, and that’s what I find most admirable.
    Wonder is a wonder, indeed.

    1. Whoa I didn’t realize it until you told me. That’s heartwarming tho. I mean the way she made us feel sympathetic without ever mentioning literally what the characters were really going through; that’s brilliant.

      Couldn’t agree more with your last statement, Tay. It really is a wonder.

    1. Aku biasanya baca buku dulu baru nonton filmnya Zah, kecuali ini. Filmnya dulu (terus nangis sebaskom), baru bukunya. Daaan jujur aku lebih tersentuh sama filmnya, ada beberapa hal yang berbeda dari bukunya tapi justru memperkaya jalan cerita itu sendiri.

  3. Yes ada temen nangis gara-gara nonton film ini! Tapi kayaknya nangisnya kak Bageur lebih intens dibandingkan diriku yang gengsi mau nangis takut dilihatin orang-orang wkwk.
    Btw aku setuju banget sama tulisan kak Bageur, sebagai kakak, ndak tau kenapa kisahnya Via ini begitu relatable dengan kehidupan kita ya kak? Atau hanya aku aja wkwk. Nangis sih pas Via jelasin bagian Auggie adalah matahari dan dia bulan itu, duh dalem banget soalnya maknanya :((

    Aku kira endingnya bakal sedih, tapi alhamdulillahnya nggak, jadi penasaran mau baca bukunya. Kak Bageur punya bentuk fisik atau pdf-nya? Kalau pdf, bolehlah dibagi :3

    1. Aku setiap section nangis Zaaa. Pas kejadian Halloween, terus pas curhatnya Via, pas pementasan teater, pas pengakuan Miranda, beuh banyak dah pokoknya tapi ga perlu kutulis satu-satu ya :”

      Sama Zaaa, kebayang jg soal adek-adek pas curhatan Via soal Auggie itu, sampai pada akhirnya dia ikhlas sendiri dan ga merasa berkorban untuk merawat adeknya itu. Dalem bangeeet.

      Ini aku pinjem temenku Za hehe maafkan :”)

  4. Film ini lagi tayang di Bioskop?
    Btw, bagus sekali mas dalam mengulas film/buku Wonder ini. Saya suka di bagian akhir dimana mas menarik sebuah nilai dari Wonder untuk dikaitkan dengan kondisi kita sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.