Mawar untuk Ayah

118900
Diambil oleh: Immanuel Nugraha

Aku sedang berbaring ketika tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Ketukan langkahnya tidak begitu teratur tapi aku tersenyum dan memutuskan untuk berdiri karena aku kenal betul suara langkah ini.

“Pagi, Ayah.” Ia adalah Alya, anak perempuanku satu-satunya. Ia menyapa dengan senyum di wajahnya.

Aku tersenyum dan balas menyapa, “Pagi, Sayang.”

Alya tinggal bersama istriku setelah kami berpisah satu tahun yang lalu. Tapi, ia cukup sering mengunjungiku meski jadwalnya tidak menentu. Terkadang ia bersama istriku, tapi tak jarang juga ia datang seorang diri seperti hari ini.

“Anggreknya layu ya, Yah?” Ia tersenyum geli melihat anggrek yang dibawanya minggu lalu sudah terkulai lemas.

Aku tersipu malu dan meminta maaf karena tidak mengerti cara merawatnya. Hari ini, ia membawa satu buket mawar yang langsung ia letakkan di hadapan kami.

Setelah meletakkan bunga, Alya menengadah dengan tatapan yang tak bisa kutebak artinya.

“Semalam aku memimpikan Ayah,” ujarnya. “Ayah memelukku sambil membacakan cerita Cinderella dan Putri Salju. Lalu kita berdansa seperti yang dulu Ayah ajarkan sebelum aku prom.”

Mataku mulai berkaca-kaca. Sementara Alya sudah basah oleh air mata. “Ayah ingat kan gara-gara latihan itu aku jadi ratu prom? Aku masih ingat Ayah menggendongku sambil berputar ketika aku pulang membawa mahkota.”

Aku tersenyum mengingat hari itu. “Mana mungkin aku lupa, Nak?”

Alya menunduk sendu. Bahunya bergetar mengikuti isakan tangisnya yang membuatku turut merasa lara. Aku bergerak pelan dan merengkuhnya dalam pelukan.

“Alya kangen Ayah,” isaknya. Aku mengusap rambutnya tanpa melepas pelukanku.

“Alya kangen Ayah,” ulangnya lagi dengan suara yang lebih lirih.

Aku mempererat pelukanku dan berbisik di telinganya, “Ayah juga. Selalu.”

Entah bagaimana, Alya tiba-tiba tersungkur begitu saja, lepas dari pelukanku. Tubuh mungilnya kini memeluk tanah dan nisan tempat ia meletakkan mawarnya. Tempat aku berbaring satu tahun lamanya.

Seperti kaset yang rusak, ia terus terisak dan berulang kali berucap, “Alya kangen Ayah. Alya kangen Ayah.”

***

Catatan:
Diunggah pertama kali di Instagram dalam rangka mengikuti kegiatan @30haribercerita. Mohon maaf tiga tulisan terakhir di bulan ini diambil dari Instagram semua. Februari akan kuisi dengan kisah-kisah baru yang lebih berwarna. Semoga.

Advertisements

3 thoughts on “Mawar untuk Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.