Menggenggam Tanah Papua: Wajah-wajah di Pelabuhan

Berbicara mengenai pertemuan-pertemuan, harus kuakui bahwa sejujurnya aku mengingat wajah lebih baik ketimbang nama-nama. Ketika aku bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya, lalu berkenalan, mataku menangkap respon lebih cepat dibanding daun telinga. Aku merekam wajah (warna mata, bentuk alis, tahi lalat, model rambut, gerak bibir), gestur tubuh (tangan di dada, menyilangkan kaki, menggaruk kepala), hingga pakaian dan aksesoris yang dikenakan (gaya jilbab, ikat rambut, topi, bentuk kacamata, letak jam tangan, warna baju, jenis sepatu). Tapi seringkali aku justru gagal mengingat sesuatu yang tidak kalah esensial: nama.

Aku tidak jarang merasa bersalah ketika bertemu seseorang untuk kedua atau ketiga kalinya dan dengan mudahnya melupakan nama tapi mengingat wajah mereka dan apa yang mereka kenakan saat pertama kali bertemu. Biasanya, mereka akan tertawa dan memperkenalkan diri kembali. Jika beruntung, aku akan mengingat namanya selalu. Jika tidak, aku akan melupakannya tanpa sadar sampai akhirnya kembali bertemu.

***

Selasa, 16 Januari 2018

Pelabuhan Tanjung Perak atau Surabaya North Quay menjadi saksi atas pertemuanku dengan delegasi-delegasi dari berbagai sudut Indonesia yang telah terpilih untuk mengikuti kegiatan pengabdian di Raja Ampat, Papua Barat. Kegiatan ini, YOUCAN Empower, dinaungi oleh YOUCAN Indonesia yang memang secara khusus menggaet pemuda-pemudi Indonesia dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

Dari total 102 delegasi yang terdaftar, sebanyak 99 orang berangkat menggunakan kapal sementara 3 orang sisanya menggunakan pesawat. Mereka terbagi ke dalam 3 desa (Yenanas, Bonkawir, dan Friwen) di mana masing-masing desa ditempati oleh 34 delegasi. Peranku sendiri adalah sebagai seorang fasilitator bersama dengan 8 orang lainnya (ArumGadisYuri di Yenanas, BageurPentiAshari di Bonkawir, dan PutraAchaLuqman di Friwen). Kebetulan, hanya 6 orang fasilitator yang berangkat menggunakan kapal, yaitu Yuri, Penti, Ashari, Putra, Luqman, dan tentunya aku sendiri.

Wajah pertama yang aku cari ketika tiba di pelabuhan adalah wajah Penti dan Ashari. Pasalnya, kami berjanji untuk bertemu langsung di pelabuhan pukul 13.00 WIB sementara aku baru mendapatkan taksi online pukul setengah dua, itu pun setelah sebelumnya ditelepon oleh mereka berdua: menanyakan ada di mana, akan berangkat pukul berapa, sekaligus mengingatkan untuk membawa stok sempak yang banyak. Jadilah aku baru tiba pukul tiga lewat sedikit, dan langsung jalan berlutut sambil sungkem kepada keduanya.

Penti, seperti foto profil WhatsApp (selanjutnya disebut WA) yang ia gunakan, adalah perempuan dengan tubuh tidak terlalu tinggi, tidak terlalu kurus, tapi juga tidak terlalu gemuk dengan wajah sedikit bulat. Rambutnya panjang bergelombang dan berwarna kecokelatan (bukan karena main layangan). Sementara Ashari adalah laki-laki sekurus lidi yang duduk di sebelahnya. Lebih tinggi dari Penti, lebih tirus dari Penti, lebih hitam dari Penti (rambutnya). Aku tidak bisa membayangkan wujud Ashari sebelumnya karena ia tidak menggunakan foto dirinya sebagai foto profil WA.

Satu hal yang serupa dari keduanya adalah dialek Sunda yang kentalnya tiada tara. Teringat di kampung halaman kalau mereka berdua sedang mengobrol, jadi terbayang supir dan kondektur angkot di Pandeglang.

***

Di ruang tunggu pelabuhan itu, yang mengelilingi kami bertiga adalah tas-tas gunung dan koper-koper milik pribadi serta dus-dus berisi barang donasi yang banyaknya mengingatkanku akan nilai E di transkrip perkuliahan. Saking melimpah ruah.

Di luar kerumunan barang-barang, banyak orang berlalu lalang. Seluruh wajah mereka terasa asing bagiku tapi aku mengingat beberapa yang kulihat. Ada seorang perempuan berambut pendek dan berkacamata sedang duduk, sesekali mengobrol dengan delegasi lainnya sambil tertawa-tawa. Belakangan kuketahui bahwa ia bernama Aya. Ada seorang perempuan berwajah tegas, rambutnya hitam legam sepunggung, berjalan di antara kursi-kursi ruang tunggu seperti model. Namanya Sukma, kelak kalian akan mengetahui bahwa ia memiliki ritual khusus setiap malam di kapal. Ritual ajaib yang tidak pernah terlintas di benak delegasi lain.

Ada wajah laki-laki berkulit sawo matang dengan topi pancing di kepalanya. Dialeknya menunjukkan bahwa ia berasal dari Kalimantan. Nofi namanya. Aku sering melihat namanya muncul di grup besar delegasi, biasanya menimbulkan keributan di grup karena dua hal: diolok-olok Putra atau mengolok-olok Putra. Benar-benar delegasi yang terakreditasi.

***

Putra belum tiba di pelabuhan sore itu. Ia masih perlu menunggu dan mengangkut barang-barang donasi serta barang-barang kantor bersama Luqman sehingga keduanya baru tiba sekitar pukul setengah lima sore. Ketika keduanya tiba, raut panik tampak di wajah Putra. Pertama, bisa jadi karena ia merupakan ketua pelaksana kegiatan YOUCAN Empower ini sehingga terlihatlah raut-raut penuh tanggung jawab di wajahnya. Kedua, mungkin karena banyaknya tumpukan barang yang perlu dibawa ke dalam ruang tunggu.

Aku dan beberapa delegasi laki-laki sudah berada di luar, bersiap-siap untuk mengangkut barang donasi yang tiba bersamaan dengan Putra dan Luqman. Tapi ketika kami hendak mengangkut, pria-pria berwajah keras dan berumur tiba-tiba menerobos dan meminta kami untuk minggir. Mereka menggunakan baju kaus lengan panjang seperti pakaian olahraga sekolah, dan beberapa di antaranya memakai topi. Tanpa diminta, mereka mengangkut sebagian barang kami dan membawanya ke dalam ruang tunggu. Sebagian lainnya tetap dibawa oleh kami sendiri.

Setelah seluruh barang selesai diangkut, wajah-wajah itu semakin mengeras. Beberapa mengelilingi Putra dengan maksud meminta bayaran atas ‘bantuan’ yang mereka berikan. Wajah Putra berubah bingung, diikuti oleh beberapa delegasi yang turut mengerumuni dengan wajah tegang. Adu argumen sempat terjadi sampai akhirnya Putra memberikan dua puluh ribu saja atas jasa yang ‘memaksa’ itu. Kerumunan pun bubar diikuti dengan wajah delegasi yang berubah lega dan wajah pria-pria pengangkut yang kecewa. Pria-pria tersebut dikenal dengan sebutan: porter.

***

Dengan wajah persis Arie Untung, yang Luqman ceritakan pertama kali ketika bertemu denganku adalah satu malam sebelumnya ketika ia dan Putra berkunjung ke tempat menginap para delegasi di Surabaya. Bersama-sama, mereka mendengarkan isi hati para delegasi tentang apa yang membuat mereka pergi dari luar kota (bahkan luar pulau) hingga ke sini, apa yang menggerakkan hati mereka untuk mengabdi, dan apa yang mereka korbankan untuk bisa tiba di titik ini. Aku bisa melihat mata Luqman sedikit berkaca-kaca, sementara mataku mulai memandang seluruh wajah yang memenuhi pelabuhan ini dengan perspektif berbeda.

Bersamaan dengan berakhirnya cerita Luqman, Putra mengajak kami semua ke lantai 2 karena ada informasi yang hendak disampaikan. Beberapa menunjukkan wajah lelah, ada juga yang masih tampak antusias, ada juga yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa ketika satu per satu dari mereka naik eskalator menuju lantai 2. Di sana, Putra memperkenalkan para fasilitator, memaparkan gambaran besar kegiatan YOUCAN Empower, dan membagikan tiket kapal satu per satu. Konon, tiket tersebut menentukan lokasi istirahat kami. Kebetulan sebagian besar berada di dek 6 sementara yang lain berada satu lantai di bawahnya, di dek 5.

Aku memerhatikan wajah lega dan sumringah para delegasi ketika setiap nama dipanggil untuk mengambil tiket mereka masing-masing. Cukup menenangkan mengingat sebelumnya, Putra menjelaskan bahwa kapal baru akan bersandar pukul 23.00 WIB, kemudian berlayar keesokan harinya, sekitar pukul 02.00 WIB. Padahal, awalnya kapal direncanakan berlayar pukul 21.00 WIB. Cukup lama memang, tapi konon katanya, perjalanan menggunakan kapal memang sesulit itu untuk diprediksi.

***

Pemberian informasi selesai pada pukul enam sore. Kami semua membubarkan diri (atau lebih tepatnya dibubarkan oleh petugas pelabuhan yang menyatakan bahwa lantai 2 harus steril) dan kembali menunggu di lantai 1.

Sepanjang menunggu kapal bersandar malam itu, aku berkenalan dengan wajah Baiq yang kalem dan lugu ketika menjelaskan perihal Ekspedisi Nusantara Jaya di Lombok, lalu berkenalan juga dengan Faizal alias Icang dengan wajah tua yang penuh wibawa, konon merupakan tetua yang dihormati di Ekspedisi Nusantara Jaya.

Ibu-ibu dari Palembang juga termasuk ke dalam wajah-wajah yang kuingat di pelabuhan karena mereka dengan murah hati membagi-bagikan pempek yang nikmatnya lebih besar daripada perayaan wisuda. Mereka adalah Risty, Riza, dan Sarah. Seperti trio babi kecil, mereka selalu bertiga kemana pun mereka pergi. Termasuk ketika hendak salat saat membagikan pempek kepadaku. Selagi mereka salat, kuhabiskan saja semuanya.

Dekat jendela besar yang menghadap ke laut, aku berkenalan dengan wajah dan gestur antusias Fathiyah ketika bercerita perihal ilmu gizi. Wajah dan dialek keibuan Amma turut menanggapi kendati ia mengambil jurusan pendidikan matematika. Ari yang terlihat damai ikut bercerita pula dialek Palembang masih terbayang di telinga, disusul oleh dialek Kalimantan Wiwik yang menggebu-gebu menjelaskan pengalamannya ketika praktik jaga di rumah sakit.

***

Memasuki waktu boarding, aku bisa melihat wajah para delegasi laki-laki menegang karena mereka harus membawa barang-barang pribadi sekaligus barang-barang donasi yang luar biasa beratnya. Lebih berat dari rindu.

Panjang antrean kami mengalahkan rombongan haji ke tanah suci. Kami mengatur posisi sehingga perempuan masuk ruang boarding lebih dulu baru kemudian para laki-laki beserta barang donasi. Total membutuhkan waktu satu jam hingga seluruh delegasi berada di ruang boarding, terhitung mulai sekitar pukul 22.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Kapal bersandar kira-kira satu jam kemudian, meleset dari informasi terakhir yang diberikan. Wajah-wajah lelah dan mengantuk tidak dapat disembunyikan lagi, tapi gestur para delegasi yang penuh semangat membuatku benar-benar terkesima. Secara otomatis, para delegasi perempuan berangkat ke kapal terlebih dahulu untuk mengamankan dek dipimpin oleh Penti dan Ashari sementara para delegasi laki-laki bersama 4 orang fasilitator harus bolak-balik untuk mengangkut barang donasi.

Sampai di kapal, alangkah kecewanya kami karena dek 6 dikunci tanpa alasan yang jelas. Kami berusaha menghubungi awak kapal namun sia-sia belaka, kami hanya dilempar kesana kemari dan mendapati wajah-wajah yang tampak tak berdosa. Hilang sudah wajah-wajah sumringah yang kulihat ketika pembagian tiket di pelabuhan tadi. Dengan rasa dongkol yang dibuat tak ketara, para delegasi dibimbing Penti dan Ashari langsung berpencar ke dek-dek kapal yang kosong dan menandai seluruh tempat tidur di sana dengan barang-barang pribadi agar seluruh elemen YOUCAN Empower bisa beristirahat di tempat yang sama. Beruntung sekali kami mendapatkan dek 3 dan dek 5 sebagai tempat kami beristirahat malam itu.

***

Kapal tidak juga berlayar ketika para delegasi telah tiba seluruhnya di tempat tidur masing-masing padahal waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku, Yuri, Penti, Ashari, Putra, dan Luqman masih duduk di ruang antar dek, tempat kami menyimpan seluruh barang donasi. Barang donasi tidak dibawa ke dek tempat kami istirahat karena jauh dari pintu keluar. Bisa-bisa remuk badan kami kalau barang donasi tersebut dipindah lebih jauh lagi. Namun, konsekuensinya adalah para fasilitator perlu menjaga ruang antar dek (selanjutnya disebut dek barang) agar tidak ada barang donasi yang hilang karena ruang tersebut sesungguhnya adalah jalur penumpang berlalu-lalang.

Dini hari itu, aku duduk sejenak di lantai kapal sambil meredakan rasa kecewa yang kuyakin dirasakan seluruh delegasi pada hari itu. Sambil mengatur napas dan menyeka peluh, aku mencoba tersenyum dan mengingat kembali alasan mengapa aku mengambil tawaran menjadi fasilitator ini.

***

Pertengahan Desember 2017

Aku lupa persis tanggal berapa, tapi ketika malam itu aku ditelepon Putra dan diajak menjadi salah satu fasilitator YOUCAN Empower, aku tidak bisa menutupi ketertarikanku. Kasarnya, apapun yang mendekatkanku kepada masyarakat langsung membuat hatiku tertambat. Tapi otakku, seperti biasa, merespon jauh lebih cepat.

“Di mana kegiatannya, Put?”

“Detail kerja fasilitator apa?”

“Kita dapet apa aja?”

“Berapa jumlah peserta total dan per tim?”

“Kondisi lapangan gimana?”

Bertubi-tubi pertanyaan kulancarkan malam itu. Kalau kuingat-ingat kembali, ada sedikit perasaan tidak enak karena terkesan terlalu jual mahal. Sampai akhirnya, Putra menceritakan kepadaku tentang fasilitator-fasilitator yang seharusnya bertugas dalam program yang ia kepalai itu.

“Jadi, Geur, beberapa fasilitator tidak terlalu aktif menjalankan tanggung jawabnya. Dampaknya, peserta juga ikut tidak aktif. Mereka serba bingung harus seperti apa, padahal kegiatan ini sudah tinggal sebentar lagi.” Aku tidak ingat persis kata-katanya, tapi kurang lebih seperti itulah yang Putra sampaikan.

Aku mengangguk-angguk.

Putra lalu melanjutkan, “Makanya aku sama fasilitator lain yang masih aktif akhirnya coba cari beberapa orang potensial yang kita kenal untuk jadi pengganti fasilitator sebelumnya. Memang agak aneh, tapi menurutku lebih baik daripada nanti programnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.”

Aku mengangguk-angguk lagi.

Diam-diam, aku mengingat-ingat kondisi ketika aku, Putra, dan Luqman bekerja dalam satu tim pengabdian Global Heroes yang diberangkatkan ke India di bawah naungan NGO yang sama. Kami masih sama-sama menjadi delegasi saat itu. Di bawah kepemimpinan Putra sebagai koordinator umum, kinerja kami benar-benar cepat dan signifikan. Putra selalu memberikan kami tenggat waktu setiap minggu namun ia juga mampu mengayomi setiap delegasi dan menghidupkan suasana menyenangkan di grup besar sehingga kami tidak merasa tertekan.

Namun sayang sekali, kecekatan delegasi tidak diimbangi dengan kecekatan panitia juga. Peran panitia dalam menanggapi gagasan-gagasan kami bisa dibilang sangat minim. Kami sendiri merasa tidak diayomi dan dibiarkan bergerak sendiri sampai-sampai kami merasa banyak peran panitia yang justru kami ambil. Dan membayangkan hal tersebut terulang kembali di kegiatan pengabdian berikutnya, membayangkan para delegasi terlunta-lunta nasibnya karena ketidakjelasan panitia, membuatku merasa cukup sedih. Sempat terbesit harapan agar mereka tidak perlu merasakan apa yang aku rasakan ketika menjadi delegasi.

Setelah melanjutkan beberapa menit percakapan, tanpa menimbang-nimbang kembali, aku pun akhirnya menerima tawaran Putra.

***

Aku tersenyum mengingat sebersit motivasiku malam itu. Kini, di dalam kapal yang belum juga beranjak ke tengah lautan, aku mencoba menyemangati diri sendiri. Aku boleh kecewa, tapi jangan sampai delegasi melihatnya terpancar di wajahku bahkan sedikit saja. Kalau aku saja tampak tidak bahagia, bagaimana perasaan delegasi nantinya?

Dari posisi duduk, aku pun berdiri dengan niat untuk mengunjungi dek 3 dan dek 5 tempat seluruh delegasi berada. Aku ingin memastikan mereka telah merasa aman sekaligus nyaman di tempat yang akan membawa mereka jauh dari rumah ini. Aku ingin memastikan semuanya memperoleh tempat yang layak untuk mengistirahatkan diri sekaligus hati sebelum mulai mengabdi. Dan aku ingin memastikan wajah-wajah mereka, yang sedari sore menemaniku di pelabuhan, masih memancarkan keteguhan sekaligus kedamaian yang hanya kutemui dalam orang-orang yang berserah diri. Untuk mengabdi.

***

Putra mengikutiku berdiri karena ia juga ingin beristirahat di dek 5. Tubuhnya yang kurus begitu ringkih dan terlihat tak berdaya. Bahkan, untuk berjalan pun ia meminta Penti menuntunnya. Penti, dengan wajah yang selalu tampak ceria, bergerak mendekati Putra selagi ia berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Kami puas sekali menertawakannya karena cara Putra berjalan benar-benar terlihat seperti orang lanjut usia.

Beberapa langkah kemudian, tangan Putra mendarat di pundakku dan dalam waktu yang serba singkat, tangannya terlepas begitu saja diikuti suara gedebuk yang ringan. Putra pingsan.

Tanpa pikir panjang, kami yang ada di dek barang langsung membopong dan menidurkannya di dek 5, dek delegasi yang paling dekat dengan dek barang. Beberapa langsung memanggil ahli medis dan bersamaan dengan doa yang diam-diam setiap orang lantunkan agar Putra segera siuman, kapal kami perlahan-lahan mulai berjalan. Meninggalkan wajah-wajah di pelabuhan.

***

Selanjutnya:
– Menggenggam Tanah Papua: Suara-suara di Lautan

Advertisements

22 thoughts on “Menggenggam Tanah Papua: Wajah-wajah di Pelabuhan

  1. Lebih mantap lagi kalo bahasa nya ada yang pake majas :v biar mbaca nya mikir 2 kali. Soal nya kalo gitu pembaca iyu bakal terus kepo dengan maksud maksud yang apa kita tulis. Punya mas bageur udah bagus lah ya, but kalo cerita nya di tulis gini kayak baca cerita cerita kopas :v Imajinasi penulisan nya di tambahin mas, sayang kalo ga berkembang :v

      1. Ya kan dijadikan pengalaman … ingin tahu stressnya jadi fasil itu piye. untuk kritik mungkin nulisnya lebih urut aja sih mas, bagus sih ada flashback cuma sempet bingung gitu. bisa juga ditandai pake tulisan miring biar tahu itu flashback Gitu aja sih
        잘했어용 ㅎ.ㅎ

  2. Ulasannya mas Bageur ringan, enak dibaca.
    Aku sempat geli baca tulisan ‘mereka seperti trio babi kecil’ …
    Bayanginnya seolah mereka bertiga itu trio lucu dan ceria 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.