Selamanya.

Goncangan akibat bertemunya roda pesawat dengan landasan bandara membangunkanku dari tidur paling singkat yang pernah kualami. Tiga puluh menit dari total waktu perjalanan yang enggan kusebutkan. Di pangkuanku, tersandar buku klasik The Origin of Species karya Charles Darwin yang kubeli di sebuah kota seharga 55.000 rupiah saja.

Di grup LINE dengan dua belas anggota—aku, Alief, Anggit, Dian, Fandi, Kevin, Kusnanta, Miw, Novita, Yoga, Zeniar, Zizi—ada sebuah daftar krusial yang kami susun sekitar bulan November 2017 lalu. Daftar tersebut diberi nama “BUKU YANG INGIN KITA BELI” dan seperti judulnya, daftar itu memang memuat rincian buku-buku yang secara impulsif ingin kami beli dan miliki. Selain memperkaya isi kepala, kami juga memiliki mimpi untuk bisa membangun perpustakaan bersama.

Salah satu buku dalam daftar tersebut adalah The Origin of Species yang, selain diminati olehku, juga diminati oleh Alief, Dian, dan Yoga. Maka, ketika aku menemukan buku itu dalam versi Bahasa Inggris dengan harga yang sangat terjangkau, mau tidak mau aku langsung membelinya (dan memamerkannya kepada mereka).

Sayang sekali aku justru tertidur di dalam pesawat ketika baru membaca beberapa halaman saja. Saat pesawat akhirnya benar-benar berhenti dan pilot mempersilakan para penumpang untuk turun, aku bergegas melepas sabuk pengaman dan menutup buku yang tertelungkup di pangkuanku itu. Aku mengingat-ingat halaman terakhir yang kubaca karena tidak ada pembatas buku sama sekali sementara aku sangat menghindari melipat halaman buku untuk menandai bacaanku.

Aku melangkah pelan seraya menghirup udara di luar pesawat dan mengembuskannya dengan perasaan lega.

Surabaya. Lagi.

***

Selama aku pergi hampir dua minggu lamanya (baca Segelintir yang TercecerPerempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka, dan Memaknai Belenggu), aku menonaktifkan media sosial dan memutuskan untuk mengaktifkannya jika dan hanya jika aku telah tiba di Surabaya.

Maka hari itu, ketika aku menginjakkan kaki kembali di tempat yang menemaniku tumbuh ini, kuaktifkan kembali media sosialku. Media sosial pertama yang kubuka adalah LINE dengan urutan chat paling atas ditempati oleh grup beranggotakan dua belas orang tadi. Aku sendiri sudah lupa chat terakhir yang kubaca sebelum pergi, namun aku tidak mungkin lupa beberapa chat pertama yang kubaca tengah malam itu, sekian jam setelah aku kembali.

“Selamat ulang tahun,” tulis mereka dalam ekspresi yang berbeda-beda, disertai doa yang juga berbeda-beda.

Di antara ucapan-ucapan tersebut, terselip sebuah video duet antara Ananda Badudu dengan Monita Tahalea. Dan seperti yang sudah bisa kuduga, ketika kuputar video yang mereka kirimkan itu, mengalunlah sebuah lagu yang kukenal dengan sangat baik. Lagu yang, entah sampai kapan, akan selalu menjadi penawar letihku. Sampai Jadi Debu.

“Kado buatmu, Geur.” Tambah mereka di akhir.

***

Terkadang aku membayangkan Surabaya sebagai seorang perempuan dan menganggap batas-batasnya—bandara, pelabuhan, terminal, stasiun—sebagai setangkup bibir yang kukecup terakhir kali sebelum pergi. Dan pertama kali ketika aku kembali.

Terhitung sejak perjalananku tahun lalu, aku telah meninggalkan perempuanku berkali-kali, cukup jauh melampaui jumlah bulan di sepanjang 2018 yang baru saja kugenapi.

Januari memberikanku kesempatan untuk menyeka air mata seseorang di Madiun dan beberapa orang lainnya di Raja Ampat. Februari memelukku melalui tangan-tangan masyarakat Atambua yang kehangatannya tidak pernah menua. Maret tertatih-tatih mendampingiku hingga tiba pada wisuda Hani di Jakarta, perenungan fajar bersama Yoga, Kevin, dan Alief di pemandian air panas Pacet, serta kunjungan mendadak ke rumah Zizi di Pasuruan. April yang tak kunjung mendung membawaku singgah di kepingan-kepingan surga yang Tuhan titipkan ke dunia: Bali dan Sumba. Mei mempertautkanku dengan Entikong, Semarang, dan Yogyakarta—mempertemukanku dengan orang-orang yang membuatku enggan untuk pulang.

Masih ada Rote Ndao yang menunggu di bulan Juni. Juga Labuan Bajo yang menanti di bulan Juli. Belum lagi Toraja yang kuharap bisa kusinggahi Agustus nanti.

Dan untuk seluruh perjalanan tersebut, aku tidak henti-hentinya menyertakan Alief, Anggit, Dian, Fandi, Kevin, Kusnanta, Miw, Novita, Yoga, Zeniar, Zizi dalam barisan orang-orang yang perlu kulayangkan banyak terima kasih karena telah menemaniku bermimpi. Seperti yang kalian kirimkan di hari ulang tahunku, aku ingin kalian memutar lagu ini kembali untuk membantuku menyampaikan rasa terima kasih. Lagu yang, entah sampai kapan, akan selalu bercerita tentang kalian. Sampai Jadi Debu.

***

Badai, Tuan, telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?

Ketika kami berduabelas bertemu untuk pertama kali, kami mengesampingkan seluruh badai yang berkecamuk dalam kepala kami: keyakinan spiritual, perjalanan hati, lika-liku keluarga, identitas gender, orientasi seksual, pandangan politik, hingga mimpi-mimpi yang mengalir dalam darah kami. Diskusi pertama kami malam itu murni perihal analisis terhadap LKMM TM ITS dan aku masih mengingatnya dengan jelas seolah itu baru terjadi kemarin.

Jauh di dalam hati, meski sepenuhnya menyadari bahwa kami akan menjalani hari bersama selama setahun ke depan, kami pikir kami tidak akan pernah lebih dari sekadar anggota kepanitiaan pada umumnya.

Bertemu, kemudian berpisah setelah kegiatan rampung dikerjakan. Sebagaimana kepanitaan-kepanitiaan lain yang pernah kami ikuti beberapa tahun ke belakang.

Tak perlu bercerita banyak hal apalagi menuntut untuk mesra. Toh pada akhirnya akan berpisah jua.

Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku

Kemudian kami memulai pagi dengan membuka mata dan melihat satu sama lain di sisi. Masih tidak percaya telah menjalani hari dengan orang-orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kami. Begitu dan begitu lagi sampai puluhan pagi kami lewati. Meski tidak selalu lengkap, kami bersyukur malam tidak menelan kami dan justru memberikan kami kesempatan untuk mengeja mimpi-mimpi kami di pagi hari.

Dan di seluruh tempat di mana kami menikmati pagi—jurusan Teknik Lingkungan, lab Teknik Sistem Perkapalan, seluruh tempat seleksi, ruangan pelatihan, rumah nenekku, rumah Miw, rumah Novita, rumah Zeniar, rumah Zizi, indekos Anggit, Merbabu, Malang, Pacet, puluhan tempat makan, dan berbagai tempat lain yang tidak bisa disebutkan—kami tidak bisa mengingatnya tanpa mengenang satu sama lain di sisi.

Ku aman ada bersamamu

Dulu.


Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu


Badai, Puan, telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?

Seandainya setelah kegiatan selesai kami benar-benar berpisah begitu saja seperti yang kami sangkakan di awal, aku tentu tidak akan pernah menulis semua ini. Bahkan, bila seandainya pun aku menulis ini, aku mungkin tidak akan menulisnya dengan hati.

Kenyataannya, hingga tulisan ini dipublikasikan, kami masih saling memiliki satu sama lain. Semua yang telah kami bagi—keyakinan spiritual, perjalanan hati, lika-liku keluarga, identitas gender, orientasi seksual, pandangan politik, hingga mimpi-mimpi yang mengalir dalam darah kami—rupanya tidak membuat kami saling menjauhi. Dalam lingkaran inilah kami merasa sepenuhnya diterima atas perbedaan-perbedaan yang kami miliki. Dalam lingkaran ini pulalah kami merasa siap untuk berjalan lebih jauh dan menantang badai yang lebih besar lagi.

Bersama, tetap mesra tanpa pernah dituntut untuk melakukannya.

Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku

Dalam kepala kami, ada sebuah ruang tersembunyi yang rapat-rapat kami kunci. Untuk bisa tiba di sana, seseorang harus menelusuri labirin yang kami bangun sendiri. Ia perlu melewati semak belukar di belantara hutan tanpa setapak. Atau memanjat dinding beton dengan ketinggian menjulang hingga angkasa. Atau menyeberangi lautan dalam dengan ombak ganas yang tidak pernah reda. Atau menuruni tebing batu dengan kedalaman yang tidak bisa diterka. Atau menjinakkan binatang-binatang buas untuk kemudian tiba di sudut paling gelap dalam kepala kami.

Di sanalah kesedihan kami tersimpan.

Kami bisa dibilang cukup beruntung karena saling menemukan satu sama lain dan ketimbang mempersilakan yang lain untuk berkelana di labirin kepala kami, kami memilih untuk saling berbagi kunci dan membuka diri.

Di sisiku mereka pernah menampakkan kesedihan hingga tak jarang air mata mereka jatuh. Dan hanya di sisi mereka pulalah aku berani menangis dan menjadi rapuh. Hanya di sisi mereka, sekali lagi, aku berani menjadi manusia yang utuh.

Kau aman ada bersamaku

Selalu.


Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu


***

Terima kasih karena selalu menjadi bahan bakar satu sama lain dalam menghidupi mimpi. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari menemukan orang-orang yang bersama-sama bergerak untuk kebaikan. Dan tidak ada yang lebih menenangkan dari bermimpi dan menjalaninya bersama kalian.

Ketika aku selesai menyunting, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan tidak tahan untuk menambahkannya di sini. Ini tentang unggahan Ananda Badudu di akun Instagram-nya. Benar, itu adalah cuplikan dari video yang kalian kirim. Dan benar, unggahan tersebut tertanggal 5 Desember 2017, tepat pada hari ulang tahunku.

Dalam unggahannya, Ananda Badudu berkata bahwa ia sudah sejak lama ingin meralat potongan lirik Sampai Jadi Debu di bagian “Kau aman ada bersamaku” pada verse kedua menjadi “Ku aman ada bersamamu”.

Seperti yang telah kita semua tahu, verse pertama dari lagu ini dinyanyikan oleh Rara Sekar/Monita Tahalea, verse kedua dinyanyikan oleh Ananda Badudu, sementara chorus dinyanyikan oleh keduanya. Mengganti lirik di verse kedua berarti menyepakati bahwa tidak hanya laki-laki yang memberikan rasa aman, perempuan pun sejatinya demikian.

Dan aku menyukai perubahan kecil ini karena itu artinya verse manapun yang kita nyanyikan kelak, kuharap kita telah sama-sama sepakat bahwa kita akan terus saling menjaga. Yang satu memberikan rasa aman bagi yang lain, begitu pula sebaliknya.

Jika ditanya sampai kapan, silakan menuju awal tulisan dan baca judulnya kembali. Atau, resapi saja judul lagu ini.

***

Baca juga:
Selamat Bertugas, Ekspresi!
Selamat Jatuh Cinta, Ekspresi!
Selamat Setahun, Safari!

Advertisements

23 thoughts on “Selamanya.

  1. Waw, itu pertemanan di antara kalian ber12 itu ya, mksud judulnya? What friends are for.

    Suka traveling ternyata ya, tiap bln ada target spot yg akn didatangi. Keren.

    Sekalipun postingannya cukup pnjang, tp saya menyukai gaya Bageur bernarasi, berasa lg baca semi fiksi gitu, hee…. dan grammar-nya jg, ditulis ckup teliti. I also like it. Sy suka bloger yg nulisnya teratur (baca: gak asal).

    1. Iya Bang Desfortin, awalnya ketemu untuk merancang kegiatan, eh ujungnya malah punya mimpi bersama. Makanya sedikit terselip harapan juga di judulnya hehe.

      Semacam pengandian sosial gitu Bang, tapi dikirim ke berbagai tempat, seneng juga masih diberi kesempatan untuk itu :”)

      Waduuuh terima kasih banyak Bang, ini juga belajar bernarasi dari tulisan-tulisan banyak orang termasuk tulisannya Bang Desfortin juga 👍

  2. Aku terharu mas, sekaligus bahagia. Baca ini buat aku makin ngerasa berarti bagi org2 terdekat, begitu pun dgn mereka. I just really never expected that u wrote the feelings I’ve keeping for long. I am in love with this, with ‘Sampai Jadi Debu”, with all your words🌻

  3. Mas, aku menikmati setiap buah kata yang kamu petik. Sudah lama aku nggak menemukan blogger dengan gaya menulis seperti ini. Tau kak Olive Bendon obendon(dot)com atau mas Yofangga thelostraveler? Mereka punya gaya sepertimu. Aku juga sih, kadang haha.

    Salam buat teman-temanmu 🙂

    1. Wah terima kasih banyak, Mas Matius. Kebetulan baru kali ini mendengar nama keduanya, Mas. Barusan langsung mengecek tulisan-tulisan mereka daaan waduh aku merasa jauh sekali di bawah mereka haha :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.