Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

IMG_6854

Sebelum membaca lebih jauh, pertama-tama, ketahuilah bahwa sebelum kamu memintaku menulis sebuah surat di hari ulang tahunmu, aku telah lebih dulu berencana untuk melakukannya sejak beberapa waktu menjelang hari bahagiamu itu. Aku telah memikirkan apa yang hendak kusampaikan sejelas mungkin, layaknya bayangan masa lalu di dalam kepalaku. Dan di dalam pikiranku tersebut, aku membayangkan akan membuka surat ini dengan sebuah adegan percakapan antara Tom Hansen dan Summer Finn, dua karakter utama dalam film yang rupanya sangat kamu sukai: (500) Days of Summer.

***

Seperti yang kita berdua sama-sama ketahui, dalam film (500) Days of Summer, Tom Hansen telah menghabiskan waktu selama 500 hari bersama Summer Finn dengan keyakinan besar bahwa Summer adalah cinta sejati yang selama ini ia cari.

“Tom meets Summer on January 8th. He knows almost immediately she is who he has been searching for.”

Sayangnya, Summer justru tidak pernah merasakan hal serupa terhadap Tom. Sejak hari pertama, hingga hari ketika bangku kayu di atas bukit menjadi saksi bisu atas pertemuan keduanya di hari ke-500.

Di bangku itu, keduanya duduk bersisian menghadap bagian Los Angeles yang lebih rendah, memandang gedung-gedung bertingkat yang biasa Tom tuangkan ke dalam bentuk sketsa. Bangku kayu itu, bukit hijau itu, dan gedung-gedung bertingkat itu—sebagaimana kita tahu—adalah tempat di Los Angeles yang paling disukainya. Tempat yang hanya ia bagi bersama Summer. Tiada yang lain.

Dan bangku kayu itu, bukit hijau itu, serta gedung-gedung bertingkat itu—sebagaimana kita tahu—juga menjadi saksi atas pertemuan terakhir mereka berdua.

Tom: “You don’t want to be named as anybody’s girlfriend, and now you’re someone’s wife?”

Summer: “Well, you know, I guess it’s ‘cause I was sitting in a deli and reading Dorian Gray and a guy comes up to me and asks about it and… now he’s my husband.”

Tom: “Yeah. And… so?”

Summer: “So, what if I’d gone to the movies? What if I had gone somewhere else for lunch? What if I’d gotten there 10 minutes later? It was, it was meant to be. And… I just kept thinking… Tom was right.”

Tom: “No.”

Summer: “Yeah, I did. It just wasn’t me that you were right about.”

Kamu menyukai kepahitan yang tergambar secara realistis dalam adegan tersebut. Bahkan, jauh lebih luas lagi, kamu menyukai seluruh bagian kisah mereka berdua. Dan dalam salah satu percakapan kita saat makan malam di Desa Sadi, Kec. Atambua, NTT, kamu telah membuatku sepakat bahwa dari perjalanan Tom dan Summer, kisah cinta pada kenyataannya memang tidak (akan pernah) sederhana.

Sementara aku telah membuatmu sepakat bahwa, seperti kisah keduanya, akan ada beberapa orang dalam hidup kita yang tidak peduli selama apapun kita menghabiskan waktu bersama mereka, kita tetap yakin bahwa selamanya mereka tidak ditakdirkan untuk membersamai kita.

Sebaliknya, akan ada pula beberapa orang dalam hidup kita yang meskipun waktu serta momen yang dihabiskan bersama mereka jauh lebih singkat, kita justru yakin bahwa mereka adalah orang yang telah digariskan untuk membersamai kita.

Dan kamu, Soraya Kamila Humaira, kuyakini termasuk ke dalam golongan yang kedua. Jangan tanya mengapa.

“This is a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.”

***

[Hari 1]

Aku bertemu denganmu untuk pertama kali pada tanggal 16 Januari. Lima hari lebih lama dari lagu Gigi. Delapan hari lebih lama dari pertemuan pertama Tom dan Summer. Sejauh yang mampu kuingat, kamu mengenakan pakaian yang kulupa jenis dan warnanya dengan kacamata hitam dan topi lebar yang menaungi gerai hitam rambutmu saat itu—terlepas dari pengetahuanku yang minim tentang fashion, aku mengakui bahwa kamu memiliki selera berpakaian yang sangat baik. Kamu duduk bersama seratus orang lainnya yang kelak turut berlayar bersamaku ke Kab. Raja Ampat, Papua Barat, tanpa pernah menjatuhkan pandangan kepadaku.

Kamu terasa jauh untuk kugapai, karena aku tahu bahwa perempuan cantik sepertimu biasanya bergaul dengan perempuan cantik dan laki-laki tampan lainnya, atau dengan mereka yang juga memiliki selera yang baik dalam berpakaian, atau dengan mereka yang tidak ragu menghabiskan uang untuk tiket konser setiap minggu, atau dengan mereka yang enggan kemana-mana kecuali menggunakan mobil.

Dan aku, dilihat dari sisi manapun, bukanlah orang yang demikian.

***

[Hari 87]

Nyaris tiga bulan kita berada dalam satu kelompok pertemanan yang sama—Negara Api—meski aku tidak pernah berhenti bertanya dalam hati bagaimana bisa orang sepertiku berakhir bersama kamu dan orang-orang berkelas lainnya.

Nyaris tiga bulan pula Negara Api menabung dan membahas rencana pengabdian masyarakat secara independen (tanpa terikat organisasi atau instansi manapun) ke Desa Sadi, Kec. Atambua, NTT—desa yang pernah menjadi lokasi pengabdianku di bulan Februari lalu—tanpa adanya kejelasan mengenai alur keberangkatan dan kepulangan.

Sampai akhirnya, kamu menemukan harapan dalam kegiatan Travel Fair yang diselenggarakan salah satu maskapai di kota tempat kita berdua menetap: Surabaya.

KAK BAGEURRR
Temenin aku dong ke Travel Fair itu!

Pesan singkat pertamamu.

Untukku.

***

[Hari 88]

Aku bisa merasakan kecanggungan yang teramat besar ketika kita mengantre di lantai dasar mall sejak dini hari demi mendapatkan tiket pesawat murah dalam kegiatan Travel Fair yang kamu usulkan.

Kuduga kamu pun merasakannya. Tapi kita sama-sama pintar menghidupi suasana dengan obrolan tak tentu arah dan ekspresi yang tak pernah tak bahagia hingga padatnya antrean yang mencapai ribuan saat itu berlalu begitu saja tanpa terasa.

Saat itulah aku mulai menyadari bahwa kita berdua ternyata serupa pandainya dalam hal berpura-pura.

***

[Hari 174]

Pengabdian bersama Negara Api akhirnya terlaksana juga meski tidak semua yang berhasil mewujudkannya. Kamu tertidur di mobil dalam perjalanan menuju Bandara Juanda, Surabaya. Pasti kamu kelelahan lantaran seharian berputar-putar Surabaya Bersama Oliver—nama yang kamu sematkan pada mobilmu—satu hari sebelumnya.

Beruntung sekali kamu tidak tertidur di pesawat dalam perjalanan menuju Bandara Eltari, Kupang, dan itu membuatmu tak henti-hentinya bercerita betapa indahnya gugusan pulau yang kamu lihat melalui jendela pesawat. Kamu bahkan melompat-lompat kegirangan setibanya di Kupang karena kamu juga melihat Gunung Rinjani dari atas sana. Aku bahagia melihatmu bahagia.

***

[Hari 89]

Siang itu, kamu bercerita tentang dirimu. Adik-adikmu. Kedua orang tuamu. Teman-temanmu. Apa yang kamu suka. Apa yang kamu tidak suka. Mengapa Universitas Airlangga. Mengapa manajemen bisnis. Ketakutan terbesarmu. Kekuatan terbesarmu. Bagaimana (kamu pikir) dunia memandangmu. Bagaimana kamu memandang dunia. Dan tentu saja, yang paling kukenang, kamu berbicara tentang seseorang yang sangat kamu sayang.

Kamu membuat matahari lelah menemani kita hingga ia memutuskan untuk terbenam saja. Tapi kurasa aku bisa bertahan berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, hanya untuk mendengarkanmu bercerita dan tertawa. Kamu semakin cantik setiap kali membuka dan menjadi dirimu sendiri.

Aku menutup pertemuan kita dengan sebuah pertanyaan yang tidak biasa kutanyakan kepada seseorang yang baru beberapa kali kutemui.

“Ini makanan lo nggak habis, Ya? Gua makan ya kalo gitu.”

Dan kamu tertawa lagi.

***

[Hari 175]

Kamu menangis mendengar kata-kata yang disampaikan Bapak Desa pada acara penyambutan di Desa Sadi. Aku tidak berani melihatmu.

***

[Hari 179]

Aku menggendongmu pagi itu, beberapa saat sebelum matahari jatuh di wajahmu. Kamu adalah satu-satunya perempuan selain adik-adikku yang berani kusentuh. Kamu juga satu-satunya perempuan selain adik-adikku yang kuizinkan untuk menyentuhku.

***

[Hari 144]

Aku sudah menduga bahwa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan malam itu ketika kamu memaksa untuk bertemu. Dan yang kumaksud dengan ‘sesuatu’ tentu bukanlah sekadar tentang pekerjaan kita di sebuah NGO yang baru berdiri, atau tentang kamu yang hanya memiliki seorang teman laki-laki, atau tentang perkuliahan kita yang entah akan bermuara ke mana.

Kamu mengkhawatirkanku.

Ini tidak biasa untuk ukuran seseorang yang baru beberapa kali kutemui. Dan aku menghargai usahamu dengan bercerita sedikit mengenai alasanku menghilang cukup lama. Kuharap kamu menghargai usahaku juga dengan tidak membaginya kepada siapapun karena, sama halnya dengan Tom yang hanya berbagi tempat kesukaannya dengan Summer, aku pun hanya ingin berbagi cerita denganmu.

Kalo ada apa-apa cerita ke gue, ya, Geur. Jangan hilang.”

Ceritaku sepertinya tidak menjawab seluruh pertanyaanmu, tapi aku tahu kamu tidak akan memintaku menjelaskan lebih jauh karena kamu menghargai privasiku. Sebagai gantinya, kamu memintaku membuka situs 5lovelanguages.com dan mengisi tesnya.

Aku memperoleh Quality Time di urutan pertama. Sementara kamu, Words of Affirmation.

***

[Hari 177]

“Geur, menurut gue, lo itu terlalu selfless.”

“Nggak.”

“Iya.”

“Lo pikir lo nggak selfless?”

Bila aku langit, kamu adalah lautnya. Begitu pula sebaliknya. Bersama-sama, kita sesungguhnya sedang bercermin satu sama lain.

***

[Hari 176]

Seluruh Desa Sadi mati lampu tepat ketika evaluasi dan briefing hendak dilakukan di malam hari. Kita memutuskan untuk berjalan mengitari desa di tengah kegelapan bersama teman-teman yang lain sambil menikmati seisi langit yang dipenuhi bintang. Aku mencintai fakta bahwa ke mana pun kita menghadap, bintang-bintang selalu berhasil menemukan kita. Bahkan, gugus Bima Sakti pun turut menampakkan kecantikannya malam itu.

Kita berbaring di jalan raya entah untuk berapa lama. Tapi kamu bahagia.

“Gue seneng satu bucket list gue terpenuhi.”

“Tiduran di jalan sambil lihat bintang, kan?”

“Anjir, kok lo tahu?”

“Apa, sih, yang gua nggak tahu?”

Kamu menjitak kepalaku seperti biasa. Tapi aku bahagia.

Tidak jauh dari jalan raya, ada lapangan luas yang biasa digunakan warga desa bermain bola. Kita semua memutuskan untuk pindah dan berbaring di sana. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya seseorang memutar lagu Sampai Jadi Debu secara berulang. Kita menangis satu per satu, membiarkan kesedihan yang selama ini terbendung mengalir malu-malu.

Bisakah kita kembali ke malam itu?

***

[Hari 183]

Semesta kembali menyapa melalui bintang-bintang di langit Desa Bo’a, Kec. Rote Barat, NTT. Menjelang tengah malam, aku bersama beberapa teman pergi ke tepi pantai menggunakan sepeda motor. Kami mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya angin malam yang begitu menusuk. Ditemani debur ombak dan petikan gitar, kami berbaring beralaskan pasir pantai dan memandang bintang dengan perasaan yang tak mampu kudeskripsikan.

Sayang sekali aku tidak berbagi malam itu denganmu.

***

[Hari 185]

Kamu duduk di sebelahku dalam kereta dari Semarang menuju Bandung. Seperti biasa, kamu memilih tempat duduk di dekat jendela meski tak ada yang dapat terlihat di tengah kegelapan malam itu. Beberapa stasiun telah terlewati hingga akhirnya kamu memulai ceritamu.

 “Gue ngerasa worthless. Kasihan banget siapapun yang nikah sama gue nanti.”

“Kalo temen kita selalu tertarik sama bad boy, gue gampang sayang sama cowok yang broken.”

“Gue tahu lo nggak bakal ngelihat gue dengan berbeda, kan?”

“Gimana kalo orang lain kena masalah gara-gara keberadaan gue?”

“Gue kayaknya emang nggak pantes buat siapapun.”

Kamu memilihku sebagai langit tempat kisah-kisahmu mengudara, sekaligus laut tempat keluh kesahmu bermuara.

 “Gue seneng akhirnya bisa cerita ini ke lo.”

Kamu harus tahu betapa aku juga senang mendengar semua ceritamu. Kisah hidupmu perlahan-lahan menjadi adiksi buatku, seperti sebuah lagu yang selalu kuputar berulang-ulang menjelang tidurku.

Kalo ada apa-apa cerita ke gue, ya, Geur. Jangan hilang.”

Kamu menangis lagi.

***

[Hari 187]

“Gue cantik nggak ke wisuda pake baju ini?”

“Cantik, Ya.  Cantik.”

Jangan buat aku mengatakannya lagi, karena aku bisa mengulanginya berkali-kali hanya untuk meyakinkanmu bahwa kamu tidak seburuk yang kamu kira. Kamu tidak worthless, tidak pernah dan tidak akan pernah. Kamu berhak mencintai dirimu sendiri, sebagaimana yang selalu kamu sarankan kepadaku. Kamu berhak mengapresiasi kegagalan, sebagaimana kamu merayakan setiap keberhasilan.

Dan kamu berhak mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu, sebagaimana kamu selalu memberikan yang terbaik dalam hidup orang-orang di sekitarmu.

***

[Hari 178]

Selamat ulang tahun, Aya. Jangan menangis lagi.

Bila semesta tak lagi indah seperti biasanya, ingatlah kita pernah menghabiskan pagi dan malam bersama, dan aku tidak keberatan untuk kembali mengulanginya. Aku tidak keberatan memberikan pundakku dan menjadi langit atau laut bagimu—dan itu berarti kamu harus bersabar menungguku menjadi hujan seperti yang selalu kamu minta.

Kita masih punya banyak waktu hingga hari ke-500 kita tiba. Sambil menunggu hari itu, izinkan aku untuk terus menyayangimu.

Advertisements

28 thoughts on “Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

  1. Uwuwuwuw.. antara senang tapi kok ada sedih-sedihnya gitu heuheu 😥

    Selamat menikmati rasa 😋😋

    Kalau butuh pelarian, panggil namaku 3x di bawah pohon nangka, I’ll be there😎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.