Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar

Aku, Arief, Cycy, Juwandy, dan Sistha adalah lima karakter dengan jalan hidup berbeda yang dipertemukan semesta di persimpangan yang sama. Persimpangan itu berupa jalanan terjal penuh batu dan liku di sudut Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Dikelilingi oleh cuaca ekstrem dan ganasnya lautan, persimpangan tersebut bernama Desa Tanusan. 

Kami menerima amanah langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kaimana untuk mengajar siswa-siswi SD dan SMP di Desa Tanusan, khususnya dalam bidang matematika. Kami diberi waktu mulai tanggal 11 hingga 23 Oktober, namun waktu efektif yang kami habiskan di Desa Tanusan terhitung sejak tanggal 14 hingga 22 Oktober lalu.

Terlalu banyak yang kami bagi dalam rentang waktu delapan hari. Tidak hanya kepada para siswa, tetapi juga kepada satu sama lain. Tidak hanya tentang matematika, tetapi juga tentang dunia dan seisinya.

Terlepas dari betapa sering dan senangnya aku bertemu dengan orang-orang baru, aku tetap sulit untuk percaya bahwa hanya dalam waktu yang sangat singkat, kami semua bisa menjadi begitu dekat. Bahkan, meninggalkan Desa Tanusan saja bisa terasa begitu berat—sebuah bukti bahwa kami dan Desa Tanusan tidak seharusnya dipisahkan.

Aku keturunan Bali-Sunda yang tidak menganut agama, Arief seorang muslim keturunan Jakarta, Cycy memeluk Kristen Protestan dan beretnis Tionghoa, Juwandy juga beretnis Tionghoa namun beragama Buddha, sementara Sistha memeluk Islam dan menurunkan darah Jawa. Belum lagi masyarakat Desa Tanusan yang murni keturunan Papua, berdarah campuran Maluku, Makassar, Ambon, Jawa, dan lainnya dengan Islam dan Katolik sebagai agama pilihan mereka. Dari banyak sisi, kami semua terlalu berbeda. Tapi bila kita mengesampingkan sejenak perbedaan-perbedaan yang ada, kita semua sesungguhnya sama. Seutuhnya manusia.

***

Aku sempat bingung hendak memberikan judul apa pada tulisan ini sebelumnya. Seperti biasa, aku menulis terlebih dahulu baru memikirkan judul yang tidak pernah menjadi prioritas utama. Dan dalam pencarian judul yang tepat, aku teringat bahwa setidaknya ada dua hal yang menyatukan perbedaan kami semua: pertanyaan dan nyanyian.

Sejak hari pertama kami tiba di Desa Tanusan, kami tidak pernah berhenti bertanya mengapa jalan kami harus berpotongan. Mengapa kami diberi tanggung jawab ini, mengapa medan yang kami hadapi seberat ini, mengapa ditempatkan di desa terpencil seperti ini. Mengutip pertanyaan yang selalu Cycy utarakan berulang-ulang, “Gue penasaran, kenapa kita harus crossing path kayak begini?”, aku pun belum bisa menemukan alasannya sampai sekarang.

Terkadang, memang tidak semua pertanyaan memerlukan jawaban. Pun tidak semua hal memerlukan alasan untuk dilakukan. Maka, kubiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung dalam pikiran untuk tetap bisa dimaknai tanpa alasan.

Sementara nyanyian adalah hal yang mampu menenangkan hari-hari kami berlima di saat sedang suntuk-suntuknya. Tidak ada hari yang kami lalui tanpa menyanyikan berbagai lagu di sisi. Terlepas dari betapa sumbangnya suara kami, kami tetap menikmati lagu-lagu yang kami nyanyikan setiap hari.

Maka, untuk mengenang hari-hari yang kami lalui, aku merumuskan sebuah daftar putar berisi sebagian lagu dan jejak masa lalu yang mewarnai hidup kami di Desa Tanusan. Lagu-lagu ini memuat kenangan dan barangkali alasan mengapa kami dipertemukan.

(1) Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan
(2) Ayo Mama — Tawa yang Menuntunmu Pulang
(3) You Are My Sunshine — Menjadi Matahari
(4) Senja di Kaimana — Mengejar Surga di Dermaga
(5) Remember Me — Bernapas dengan Ingatan
(6) Sahabat Kecil — Sayang untuk Mengakhirinya

Selamat (membaca dan) mendengarkan.

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.