Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

“Yang indah dari Papua apa, sih?” Aku dan Sistha bertanya kepada wajah-wajah lugu di sekeliling kami.

Satu per satu dari mereka menjawab,
“Hutannya!”
“Lautnya!”
“Rusa-rusa!”
“Sungainya!”
“Sungai yang ada buayanya!”

Semua tertawa mendengar jawaban terakhir. Kami kebingungan di antara dua kemungkinan: apakah segala hal menjadi begitu indah di Papua atau justru semua kombinasi unik itu yang menjadikan Papua indah.

***

Dari Kabupaten Kaimana, Desa Tanusan ditempuh selama satu hingga dua jam menggunakan long boat. Setelah menghabiskan dua malam di Kaimana Beach Hotel, kami bertolak dari dermaga pada pukul setengah tujuh pagi di saat mata kami sedang redup-redupnya. Seluruh barang bawaan kami diletakkan di atas long boat dan ditutup rapat-rapat menggunakan terpal. Sementara tubuh kami dibalut seluruhnya menggunakan jas hujan tipis yang telah diberikan di awal perjalanan.

Laut yang kami seberangi bisa dibilang cukup bersahabat. Ombak pagi tidak terlalu jahat, ia hanya menggoyang-goyangkan kapal kami tanpa ada intensi untuk menggulingkannya. Sekali dua kali, percikan air laut mengguyur jas hujan kami tanpa permisi. Tidak jarang beberapa butir air laut berhasil menelusup mengenai wajah kami seolah memaksa kami agar sepenuhnya terbangun. Sebagian bahkan tercicip oleh lidah kami, menyisakan rasa keringat dan air mata.

Gulungan-gulungan ombak yang naik dan turun secara bergantian memanjakan mata kami sepanjang perjalanan. Di tengah riuhnya suara mesin kapal, tidak ada percakapan yang bisa dilakukan kecuali jika ingin mengeluarkan tenaga ekstra untuk berteriak-teriak. Masing-masing dari kami hanya bisa melayangkan pandang ke sekeliling dalam diam. Beberapa mengabadikan panorama lautan dengan telepon genggam, beberapa mengandalkan mata telanjang untuk merekam.

Terbitnya matahari, turunnya kabut pagi, dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni berhasil tertangkap oleh mata lelah kami sebelum akhirnya long boat kami berhenti sejenak untuk berbelok dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di tepi dermaga yang seluruh permukaannya dibangun menggunakan kayu.

Kami turun dari long boat beserta barang-barang kami dan bersalaman dengan seorang wanita berjilbab bernama Bu Asma yang kemudian kami kenal sebagai kepala sekolah SMP. Di samping Bu Asma berdiri seorang pria berjanggut lebat dengan postur lebih tinggi bernama Pak Akmal, guru mata pelajaran agama di Sekolah Dasar. Kami bersalaman dan berkenalan secara singkat dengan keduanya sebelum akhirnya mereka menuntun kami menuju rumah di mana kami akan tinggal selama satu minggu ke depan.

Di tengah dermaga ada sebuah pos terdiri dari dua tempat duduk yang saling berhadapan dan atap yang menaungi keduanya. Kami berjalan menyusuri dermaga dan melewati celah di antara kedua tempat duduk tersebut. Tidak jauh dari pos, bibir dermaga menyentuh jalan aspal yang ditandai dengan sebuah gapura besar bertuliskan ‘Selamat Datang di Kampung Tanusan’.

Perjalanan baru akan benar-benar dimulai.

***

Bila suatu saat nanti kamu tiba di desa ini, berjalanlah lurus mengikuti jalan aspal selepas dari dermaga. Kamu akan melihat rumah-rumah di sisi kiri dan kanan jalan, bahkan besar sekali kemungkinannya kamu akan berpapasan dengan para penghuni rumah di jalan tersebut. Jangan lupa untuk menyapa, mereka jauh lebih ramah dari yang kamu kira.

Di sisi kanan jalan akan kamu temui sebuah masjid tempat muslim menunaikan ibadah salat. Masjid yang tidak pernah mengumandangkan azan dengan suara yang memekakkan karena menghargai pemeluk Kristen yang sesungguhnya merupakan minoritas di Tanusan.

Salah satu hal yang kuyakini akan langsung kamu sadari adalah rimbunnya kembang sepatu di sisi kanan dan kiri. Beberapa telah memamerkan kecantikannya, sementara yang lainnya hanya tinggal menunggu waktu untuk bisa mekar sepenuhnya. Ada yang berwarna merah, putih, dan juga kuning. Semuanya memanjakan mata tanpa terkecuali.

Jika kamu kehausan, mampirlah sebentar ke pohon jambu air yang dapat dengan mudah kamu temui di halaman depan rumah beberapa warga. Jangan lupa meminta izin terlebih dahulu sebelum memanjat dan memetik jambu satu per satu. Mengunyah buah-buah jambu itu bisa membantu meredakan dahagamu.

Selang beberapa menit berjalan, kamu akan bertemu sebuah pertigaan. Beloklah ke kanan, di sana kamu akan melihat SD Inpres Tanusan, tempat Arief dan Cycy mengajar. Terdiri atas dua blok bangunan, SD Inpres Tanusan bisa dibilang sudah cukup mumpuni dari segi infrastruktur. Dinding terluar dibangun menggunakan beton sementara dinding antar kelas dipisahkan oleh triplek. Atap gedung yang dilapisi genting pun sudah mampu menahan terik dan hujan dengan sangat baik.

Berjalanlah beberapa langkah lagi dari gedung SD. Jika kamu melihat rumah berdinding biru di sisi kanan, mampirlah sejenak. Mintalah kuncinya ke rumah berdinding krem di sebelahnya, atau kalau beruntung, kamu bisa menemukannya terselip di antara ventilasi atas pintu. Di balik pintu itulah segala keajaiban terjadi (setidaknya, itu yang aku, Arief, Cycy, Juwandy, dan Sistha yakini).

***

Bila Arief dan Cycy mengajar di SD Inpres Tanusan, aku, Juwandy, dan Sistha diberi tanggung jawab untuk mengajar di SMP, tepatnya SMP Negeri 2 Teluk Arguni. Letaknya tidak jauh dari SD. Berjalanlah dari SD ke pertigaan jalan utama yang tadi kamu lewati, kemudian ambil jalan ke kanan. Bangunan pertama yang kamu lihat di kiri jalan itu adalah SMP yang dimaksud. Melangkahlah pelan-pelan ke ruang guru yang memakan habis satu blok bangunan di sana. Di ruang itu, kami bertiga selalu menghabiskan waktu istirahat bersama para guru. Berkali-kali menyantap makanan ringan yang disediakan sambil bersenda gurau bersama mereka, sebelum akhirnya kembali ke kelas masing-masing untuk mengajar lagi. Kalau kamu berkunjung di waktu istirahat, sudah pasti kamu akan disambut oleh senyuman-senyuman mereka yang hangat. Bukan tidak mungkin mereka juga akan menawarkanmu teh atau kopi hangat beserta pisang goreng dengan sambal rica. Memang terlihat aneh awalnya, tapi kujamin sekali kamu mencoba, kamu takkan bisa berhenti memakannya.

Gedung SMP terdiri atas empat blok bangunan yang bila dilihat dari atas menyerupai huruf L kapital dengan dua blok di sisi kiri huruf L dan dua blok lainnya di sisi bawah. Ruang guru terletak di sisi bawah dan blok di sebelahnya adalah bangunan baru yang akan difungsikan sebagai perpustakaan sekolah. Saat kami di sana, ruangan tersebut masih kosong melompong sehingga sering kami gunakan untuk menonton film dan berfoto bersama. Semoga saja ketika kamu ke sana sudah banyak buku yang memenuhi setiap sudutnya.

Dua blok bangunan di sisi kiri adalah ruang kelas 7, 8, 9, dan ruang khusus untuk persediaan makan siswa selama waktu istirahat di mana masing-masing siswa akan diberikan makanan ringan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Di ruang kelas itulah kami bertemu dan berkenalan dengan pemangku harapan-harapan Tanusan, siswa-siswi kami yang telah memberi banyak pelajaran.

Yang paling aku pribadi sukai dari SMP ini adalah halaman rumputnya yang begitu luas. Secara tidak resmi, halaman rumput tersebut terbagi menjadi dua bagian: bagian untuk laki-laki bermain sepak bola dan bagian untuk perempuan bermain voli. Tapi kami sering menggabungkan keduanya untuk berbaur satu sama lain dengan menciptakan kegiatan kami sendiri di tengah-tengah lapangan. Salah satu yang paling lekat kuingat adalah ketika kami bergandengan tangan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu ‘Tanah Papua’ bersama-sama. Syahdu sekali. Aku dan Sistha hanya bisa bertatapan dengan mata berkaca-kaca mendengarkan indahnya suara mereka dan dalamnya makna yang disampaikan melalui setiap baitnya.

Di sini pulauku
Yang kupuja selalu
Tanah Papua, pulau indah

Hutan dan lautmu
Yang membisu selalu
Cendrawasih, burung emas

Gunung-gunung, lembah-lembah
Yang penuh misteri
Kan kupuja selalu
Keindahan alammu yang mempesona

Sungaimu yang deras
Mengalirkan emas
Syo, ya Tuhan, terima kasih

Tanah Papua adalah surga. Dan Tanusan adalah kepingan kecil yang menjadikannya lebih sempurna. Lagu-lagu lain di daftar putar akan menjelaskan mengapa.

***

Daftar Putar:
(1) Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan
(2) Ayo Mama — Tawa yang Menuntunmu Pulang
(3) You Are My Sunshine — Menjadi Matahari
(4) Senja di Kaimana — Mengejar Surga di Dermaga
(5) Remember Me — Bernapas dengan Ingatan
(6) Sahabat Kecil — Sayang untuk Mengakhirinya

Advertisements

4 thoughts on “Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.