tak ada puisi bulan ini

tak ada puisi yang ditulis bulan ini. begitu pula dengan tulisan yang layak baca. tidak ada. karena pemilik halaman ini telah kehilangan jiwanya. serupa dengan aku yang meninggalkan sahabat-sahabatku, jiwa ini telah meninggalkan ragaku pula sejak sangat lama. tidak tahu apakah aku, maupun jiwaku, akan kembali atau tidak. tidak baik menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi.

aku perlu menghentikan kalian di baris ini karena di tulisan ini kalian tidak akan menemukan apa-apa selain kebingungan. dan barangkali kekecewaan. karena isi kepalaku sangat berantakan dan seperti inilah jadinya jika pikiran-pikiran di dalamnya dibiarkan berkeliaran. sekali lagi, berhentilah membaca sampai titik ini. aku sudah memperingatkan.

Continue reading “tak ada puisi bulan ini”

Advertisements

Puisi-puisi November

1/ menyinggahi matamu

izinkan aku untuk menjaga malam dan mengganggumu sebentar saja dengan mengetuk matamu. di ketukan ketiga, kuharap kamu mempersilakanku masuk agar kamu tidak lagi bermimpi seorang diri.

aku memeluk sebuah toples kaca dan kuharap kamu bertanya perihal isinya agar aku bisa menjawabnya—hadiah untukmu. aku menyimpan hujan dan senja di dalamnya, dua hal yang dapat kamu temukan dengan mudah dalam sebuah puisi.

kutambahkan degup seorang pria yang baru saja berhujan-hujanan bersama kekasihnya saat aku masih di perjalanan menuju matamu. kupinta sekalian gigil sang kekasih dan ia memberiku gemeretak giginya—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bergetar di pelukanku. kupetik sedikit demi sedikit bau hujan di taman berharap kamu tersenyum ketika menghirupnya.

kuhubungi teman-temanmu dan meminta sepotong binar di mata mereka saat mengenang waktu-waktu bersamamu. tawa yang tak bisa mereka sembunyikan juga kusisipkan sekalian—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bernyanyi di dadaku. kuberikan toples ini kepadamu berharap kamu tidak kesepian saat aku memutuskan pergi dari matamu.

Continue reading “Puisi-puisi November”

Puisi-puisi Oktober

1/ pulang ke tanganmu

aku ingin terlelap di atas lekuk tanganmu dan terbaca selamanya sebagai masa depanmu. berayun ke depan dan belakang mengikuti ke mana angin membawamu pulang. air matamu akan menari bersamaku dan detak di dadamu kelak mengiringi tiap kali kau memeluk dirimu sendiri.

aku ingin terbangun di balik lekuk merah jambu di bawah hidungmu. berjalan ke depan dan belakang mengelilingi jejak wangi tubuhku. sebelum lelah, matamu akan mengajakku singgah dan bersama air mata, aku kelak diantar pulang ke rumah.

kembali, ke telapak tanganmu.

Continue reading “Puisi-puisi Oktober”