tak ada puisi bulan ini

tak ada puisi yang ditulis bulan ini. begitu pula dengan tulisan yang layak baca. tidak ada. karena pemilik halaman ini telah kehilangan jiwanya. serupa dengan aku yang meninggalkan sahabat-sahabatku, jiwa ini telah meninggalkan ragaku pula sejak sangat lama. tidak tahu apakah aku, maupun jiwaku, akan kembali atau tidak. tidak baik menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi.

aku perlu menghentikan kalian di baris ini karena di tulisan ini kalian tidak akan menemukan apa-apa selain kebingungan. dan barangkali kekecewaan. karena isi kepalaku sangat berantakan dan seperti inilah jadinya jika pikiran-pikiran di dalamnya dibiarkan berkeliaran. sekali lagi, berhentilah membaca sampai titik ini. aku sudah memperingatkan.

ada banyak orang yang telah mengetahui diriku hampir seutuhnya dan memutuskan untuk tetap menerima dengan lapang dada. tanpa ditulis berdasarkan urutan tertentu, mereka meliputi ibuku, kelima adikku (langgam tanreren mawar ganesha arum), scc (dewi fahmi hani ira), adnina, azmi, aqil, sondha, firsty, decyntya, rima, andri, isti, ekspresi (alief almira anggit dian fandi kevin kusnanta novita yoga zeniar zizi), aya, evan, putra, deo, anna, dinda, sunita, uci, zata, reri, arief, cycy, sistha, juwandi, nadia.

ada pula orang-orang yang hubungan emosionalnya sulit sekali kujelaskan tapi intinya begini. orang-orang ini adalah puncak cinta yang sejauh ini bisa kurasakan kepada manusia. aku tidak tahu mengurutkan mereka berdasarkan apa tapi seperti inilah konfigurasi di kepalaku: ibuku, kelima adikku (langgam tanreren mawar ganesha arum), ekspresi (alief almira anggit dian fandi kevin kusnanta novita yoga zeniar zizi), scc (dewi fahmi hani ira), sf (fariz fahmi giffari azmi fawwaz), infj buddies (andri rima), isti, adnina, aya, nadia. tidak perlu dipermasalahkan perihal urutan dan penggolongan. dalam beberapa kondisi bahkan urutannya bisa saja terbolak-balik. tapi yang pasti, kepada orang-orang inilah perasaanku berlabuh secara utuh. tanpa batasan, tanpa pengecualian.

dan dari beberapa pengalaman bersama mereka, aku tahu bahwa mereka pun menempatkanku di salah satu sudut pikiran mereka. entahlah seberapa besar kontribusiku di sana.

i love them. so much. i even listed them as my reasons to not die. but then something happened and i only had this quote by osho in my mind, “if you love a flower, don’t pick it up. because if you pick it up it dies and it ceases to be what you love. so if you love a flower, let it be. love is not about possession. love is about appreciation.”

so that’s it. i left. i let them bloom. without me.

dan karena orang-orang seberharga itu saja kutinggalkan, tentu saja lingkaran lain di luar mereka kutinggalkan juga. oh tunggu. aku belum meninggalkan ibu dan adik-adikku. mungkin nanti.

awalnya aku menghapus seluruh akun media sosial lalu mengabaikan seluruh pesan yang masuk ke line maupun whatsapp. aku tidak berminat berpisah secara formal apalagi sampai memberikan penjelasan mengapa aku melakukannya. aku hanya ingin menghilang begitu saja dengan damai.

sampai akhirnya ekspresi mengunjungi rumahku secara tiba-tiba.

omong-omong, ketika aku menyebut ekspresi, yang kumaksud tidak selalu seluruh sebelas orang di atas. bisa jadi hanya satu orang, atau beberapa, atau bisa juga seluruhnya. aku terlalu terbiasa menganggap mereka semua sebagai satu keluarga sehingga begitulah jadinya. omong-omong juga, aku menyebutkan hal ini karena aku memprediksi akan menulis banyak tentang mereka.

kembali ke bagian di mana ekspresi mengunjungi rumahku secara tiba-tiba. mereka berlima: anggit, dian, kevin, novita, zeniar. datang setelah dari akad pernikahan almira. tidak ada satu orang pun yang tahu letak rumahku di sidoarjo selain lingkup keluargaku. maka ketika mereka tiba-tiba muncul di depan pagar rumahku, jantungku benar-benar tidak bisa dikondisikan. kemudian aku ingat kalau aku pernah meminta tolong kevin mengantarkanku dari stasiun sampai ke mulut gang rumah. bodoh sekali, kenapa aku tidak turun di depan perumahan saja saat itu agar mereka jauh lebih sulit mencari rumahku.

kepalaku ingin meledak. aku ingin sekali marah-marah dan mengusir mereka agar tidak pernah kembali lagi. tapi aku tidak melakukannya. aku tahu bahwa aku sesungguhnya marah kepada diriku sendiri. aku tidak mengizinkan mereka masuk ke rumahku, kami hanya berdiri di depan rumah selama beberapa menit. aku bahkan berulang kali menunduk tanpa menatap wajah mereka ketika mereka berbicara dan bergurau. aku tahu aku terlihat kacau sekali, dan aku benar-benar tidak mau mereka melihatku dalam keadaan seperti itu. beberapa menit berdiri di depan rumah rasanya seperti lama sekali. ketika akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, aku berpesan untuk menjadikan pertemuan tadi sebagai yang terakhir. kutambahkan bahwa sampai kapan pun aku tidak akan bisa bertemu mereka lagi.

malamnya, aku menulis surat panjang untuk mereka. tujuh halaman standar esai berisi penjelasan sejujur-jujurnya atas apa yang sebenarnya terjadi. penjelasan yang hanya kusampaikan kepada mereka hingga saat ini. kuketik sebisaku pada pukul sembilan dan kukirim di grup pada pukul dua belas lewat.

aku meninggalkan grup keesokan malamnya.

aku sudah sering melakukan ini. menarik diri, maksudku. terlepas dari seberapa ekstrovert diriku di mata orang, aku selalu membutuhkan waktu sendiri selama beberapa waktu. sahabat-sahabatku tahu hal ini, tentu saja. aku selalu berpikir hal ini terjadi karena aku seorang infj, tapi seiring berjalannya waktu, semua ini terasa tidak normal dan tidak masuk akal. dan bulan ini adalah titik yang paling parah dari fase irasional tersebut.

sebelum ekspresi mengunjungiku di sidoarjo, aku mengurung diri berhari-hari di kamarku, di rumah nenek, surabaya. tidak bisa makan. tidak bisa tidur. hanya bisa terbaring menyaksikan dunia di sekitarku runtuh. nenekku berulang kali naik ke lantai tiga untuk mengetuk pintu kamarku hanya untuk mendapatkan jawaban bohong bahwa aku telah makan.

sampai tiba di suatu malam ketika ia mengetuk pintu kamarku berkali-kali dan tidak mendapatkan jawaban dariku sama sekali. itu karena aku sedang berjalan kaki di luar rumah. tanpa arah. tanpa motor. ia pasti mengira aku ada di kamar karena motorku masih terparkir di dalam rumah. aku tidak ingat jalan kaki berapa lama tapi ketika aku kembali, raut kakek dan nenekku terlihat panik sekali. “uti (eyang putri) kira kamu bunuh diri, uti tanya ke adik-adik juga pada nggak tahu,” begitu katanya saat itu. ditambah pesan agar aku tidak di kamar melulu. aku belum pernah melihat mereka sepanik itu.

belakangan baru kuketahui bahwa nenekku benar-benar menghubungi adik-adikku. langgam tidak tahu, lalu mencoba meneleponku yang tentu saja tidak kuangkat karena kutinggalkan ponsel di kamar. langgam lalu menghubungi aya. aya tidak tahu juga. aya lalu menghubungi novita. novita tidak tahu juga. dan tentu saja novita menghubungi ekspresi. nihil.

adikku yang paling kecil, arum, memiliki reaksi yang berbeda. ia langsung mengirim pesan whatsapp bertubi-tubi. sebentar aku buka whatsapp dulu untuk melihat pesannya. kutulis sebagian saja.

mas
mas
mas bageur kenapa sih 😦 😦
kalo ada apa-apa tuh bilang mas, jangan disembunyikan terus
apa karena aku gara-gara aku bilang selamat ulang tahun?
*gif menangis*
aku takut loh

sedih sekali membaca pesan itu kembali. aku benci membuat orang lain khawatir, terlebih lagi keluarga dan sahabat-sahabatku. tidakkah mereka mengerti bahwa aku menarik diri karena aku tidak ingin terlihat dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja?

langgam kemudian menulis status panjang di line yang membuatku semakin merasa bersalah karena ia tidak bisa mengerti aku katanya. dan ia terkadang merasa bahwa aku lebih terbuka terhadap teman-temanku dibanding keluarga. padahal tidak juga.

tapi bicara soal mengerti dan tidak mengerti, kurasa memang tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti orang lain seratus persen. tapi kurasa aku bisa mengerti maksud langgam karena tidak hanya langgam yang merasakan itu. sahabat-sahabatku pun tidak pernah bisa mengerti aku dalam persentase yang besar. dan sejujurnya aku tidak pernah merasa hal itu adalah sebuah masalah karena aku tidak perlu dimengerti. aku sudah sangat bahagia dengan mampu mengerti orang lain dalam porsi di atas rata-rata orang kebanyakan. kebetulan, ini dibuktikan berdasarkan komentar orang-orang yang pernah berinteraksi denganku.

gua seneng cerita sama lo geur
kok bisa ya lo nangkep apa yang gua maksud?
aku bersyukur banget punya pendengar kayak kamu
nggak tahu deh aku bisa cerita ini ke siapa lagi selain kamu
dst.

memahami orang lain sesungguhnya sudah cukup bagiku. dan aku merasa mudah melakukan ini disertai empati yang hampir seratus persen tepat karena aku tahu, dari sembilan jenis kecerdasan yang kumiliki, yang menempati urutan pertama adalah kecerdasan interpersonal, diikuti kecerdasan logika matematika, kecerdasan linguistik, sisanya aku lupa urutannya, dan yang terakhir adalah kecerdasan intrapersonal. aku tidak tahu apakah iq sebesar 150 turut mendukung juga tapi intinya, itulah mengapa membangun hubungan dengan orang lain terasa begitu mudah bagiku. dan itulah mengapa aku merasa bahwa aku tidak terlalu perlu dipahami balik. karena kecerdasan intrapersonalku yang rendah telah menunjukkan bahwa aku pun tidak bisa mengerti diriku sendiri.

maka, aku tidak heran bila adik-adikku khawatir, atau nenekku mengira aku bunuh diri, atau sahabat-sahabatku frustrasi, karena tidak ada yang bisa menembus jalan pikiranku yang tidak masuk akal ini. aku jadi ingat temanku, dwangga, yang sempat berdiskusi singkat denganku dan menyatakan bahwa ia penasaran dengan isi kepalaku dan proses apa yang terjadi di dalamnya. “pasti menarik dan brilian,” begitu katanya. sayang sekali dugaan itu jauh dari kata benar.

aku merasa tidak masuk akal. dan rupanya, perasaan itu diafirmasi oleh pihak yang lebih profesional. rasanya sakit sekali mengetahui bahwa ternyata aku tidak pernah mengalami kehidupan yang normal sejak tujuh tahun ke belakang.

ketika menghubungi beberapa orang yang kusebut jauh di atas tadi untuk menyatakan bahwa aku akan memutus hubungan dengan mereka selamanya, respon mereka berbeda-beda. ada yang menangis, ada yang berkali-kali mengirim pesan, ada yang mengirim pesan panjang sekali, ada yang marah, ada yang menerima. macam-macam sekali. aku merasa jahat. dan sangat bersalah. tapi aku tahu bahwa mereka semua berhak untuk bahagia. dan keberadaanku di sisi mereka hanya akan memperkeruh hidup mereka yang sejatinya sudah penuh dengan masalah masing-masing.

rupanya aku masih bertemu novita dan kevin setelah mengirim pesan panjang di grup ekspresi. niatku adalah mengembalikan buku-buku ekspresi kepada novita, tapi novita mengajak makan, lalu aku menurut, dan ia mengajak kevin karena ada buku yang ingin kevin berikan kepadaku. aku lebih banyak diam selama novita dan kevin makan. di kepalaku berkecamuk berbagai pertanyaan sampai akhirnya hanya satu yang kuutarakan, “miw (almira) marah nggak?” pertanyaan ini merujuk kepada acara akad dan resepsi pernikahannya yang tidak kuhadiri. aku justru malah menodai hari bahagianya dengan surat yang kukirimkan di hari resepsinya.

novita bilang miw sudah paham. kevin bilang tidak ada yang marah.

tapi perasaanku sangat tidak tenang. di satu sisi, aku lega karena mereka tidak marah kepadaku. di sisi lain, aku merasa bahwa sebaiknya mereka marah saja agar aku bisa sedikit merasa tidak bersalah. karena sesungguhnya, mereka berhak sekali untuk marah.

alief berhak marah karena aku mengurungkan niatku untuk mengunjunginya di musi rawas. almira alias miw berhak marah karena aku tidak menghadiri kegiatan akad dan resepsi pernikahannya padahal aku di surabaya, surat yang sudah kususun sejak november pun tidak jadi kuberikan kepadanya. anggit berhak marah karena aku mengabaikan kedatangannya jauh-jauh dari jakarta menuju surabaya. dian berhak marah karena aku tidak menemaninya menyelesaikan tugas akhir sepanjang desember di surabaya padahal aku sudah janji. fandi berhak marah karena aku tidak mengindahkan ajakannya begadang saat itu padahal ia sedang butuh teman. kevin berhak marah karena aku jadi yang pertama merusak visi besar kita untuk menjadi keluarga yang utuh selamanya. kusnanta berhak marah karena aku belum bisa menjadi seorang hindu yang taat seperti yang ia doakan. novita berhak marah karena aku tidak jadi mengenakan jas yang kami desain bersama-sama. yoga berhak marah karena ia meluangkan waktunya yang begitu sempit dari blitar ke surabaya sementara aku semena-mena. zeniar berhak marah karena berkali-kali aku mengabaikan pesan singkat dan panggilan telepon darinya. zizi berhak marah karena aku tidak kunjung memberi kejelasan atas kegiatan yang melibatkan dirinya.

semua berhak marah. tapi mereka justru memilih merasa bersalah. kevin bilang mereka pasti merasa bersalah kalau sampai terjadi apa-apa denganku. bangsat, aku tidak suka pernyataan itu. aku bilang kalau ini tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali dan mereka tidak perlu merasa bersalah. kevin bilang aku tidak akan bisa mengontrol perasaan mereka. kevin benar, maka aku diam. novita berulang kali menyemangati. aku yakin ia pasti canggung dan bingung harus bicara apa saat itu. aku hanya merespon bahwa aku sudah tidak bisa semangat lagi. dan aku menyampaikan kepada mereka untuk menjaga ekspresi yang lain, dan aku menekankan beberapa nama, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka.

kalimat terakhir kevin yang kuingat, “kalau kamu pulih geur, bareng kita, ini pasti bakal jadi cerita yang nggak bakal kita lupa.”

aku hanya diam. dalam hati aku membalas, “begitu juga kalau aku mati.”

baru saja beberapa hari yang lalu aku menelepon rima untuk menyatakan salam perpisahan juga, disertai titip pesan yang sama untuk andri dan isti karena aku tidak sanggup mengulangi proses perpisahan tersebut terus-menerus. isti langsung mengirim belasan pesan yang belum kubaca hingga detik ini. rima juga baru saja menulis sesuatu tentang puisiku di blognya yang belum kubaca juga hingga detik ini. aku tidak berani.

beberapa hari sebelumnya malah jijah menangis di hadapanku. ia bercerita bahwa selama beberapa hari, ia bermimpi buruk tentangku, sampai-sampai ia meminta fajar dan widi untuk menghubungiku namun tidak ada dari keduanya yang kurespon pesannya. lalu aku bercerita singkat dan berkata bahwa aku perlu menjauh dari semua orang untuk waktu yang sangat lama, termasuk dari dirinya. tangisnya semakin menjadi-jadi. aku semakin bingung dan memilih diam saja. ketika tangisnya sudah reda, aku bertanya perihal mimpinya. ia menolak menjawab. raut wajahnya benar-benar sedih. aku menduga bahwa mimpinya tentangku pasti benar-benar buruk.

seperti yang sudah kubilang, bermacam-macam sekali respon mereka. dan karena itu, aku ingin menyatakan bahwa aku baik-baik saja. aku tidak akan melakukan ‘itu’ selama masih ada diriku di sudut pikiran mereka. karena aku tahu betapa sakit rasanya tidak mampu melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang melakukan ‘itu’. aku tahu betapa besar rasa bersalah yang mungkin dirasakan karena kepergian seseorang akibat ‘itu’. sudah setahun aku berkutat dengan berbagai jurnal, artikel, film, dan orang-orang yang berkaitan dengan ‘itu’. maka segala dampaknya sangat bisa kubayangkan. respon paling sering dari orang-orang yang ditinggalkan adalah perihal rasa bersalah, bahwa mereka seharusnya bisa melihat tanda-tanda, bahwa mereka seharusnya bisa mencegahnya, dsb. dan aku tidak mau sahabat-sahabatku merasakan rasa sakit itu.

karena itu, inti sebenarnya dari tulisan ini adalah untuk menyatakan bahwa aku baik-baik saja. saat ini. bahkan aku bisa menulis sepanjang ini. tapi aku sudah bulat merencanakan bagaimana aku akan ‘pergi’ dan itu tidak akan kulakukan di waktu dekat ini. rencanaku begitu rinci jauh ke depan, dan kupastikan ketika itu terjadi, kalian seharusnya sudah terbiasa dengan ketiadaan diriku karena aku memutus hubungan dengan kalian dari jauh-jauh hari. dan kalian tidak perlu merasa bersalah karena paragraf ini adalah sebuah tanda yang bisa kalian lihat secara jelas, hasil akumulasi pikiran beberapa tahun lamanya, namun kalian tentu tidak akan mengingatnya lagi setelah berlalu beberapa tahun, dan kalian tidak perlu mencegahnya karena seperti kata pepatah lama, “you can’t save someone who doesn’t want to be saved.”

tidak, tidak. bukan itu inti dari tulisan ini. sejujurnya, aku sendiri tidak tahu akan menjadi apa muntahan isi kepalaku ini. ini adalah tulisan pertama yang kuterbitkan tanpa kerangka (garisbawahi bagian ‘kuterbitkan’, karena sesungguhnya yang seperti ini namun tidak kuterbitkan jumlahnya jauh lebih banyak lagi). aku bahkan terkejut sendiri menyadari bahwa jumlah kata hingga baris ini sudah melebihi dua ribu. sedikit senang karena ini artinya akan jauh lebih sedikit orang yang akan membacanya. sedikit sedih karena ini mengingatkanku akan komentar beberapa sahabatku bahwa tulisan-tulisanku kadang terlalu panjang dan membuat mereka enggan membaca. saat itu aku tidak keberatan dikomentari demikian karena memang aku yang meminta tanggapan dari mereka. garisbawahi bagian saat itu. karena saat ini, aku merasa sedikit sakit hati meskipun mereka selalu mendukungku dan menyatakan bahwa tulisan-tulisanku bagus.

perasaan sakit hati ini bukan salah mereka. sungguh. miw selalu membesarkan hatiku bahwa tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas perasaan orang lain. merekalah yang memilih perasaan itu bagi diri mereka sendiri. aku baru sadar bahwa pernyataan miw ini sinkron dengan pernyataan kevin di atas bahwa aku tidak bisa mengendalikan perasaan mereka bila kelak mereka merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk padaku.

aku memiliki kecenderungan untuk mengenang banyak hal dengan perasaan yang negatif. kejadian tadi adalah salah satu contohnya. contoh lain adalah ketika rima bilang bahwa aku, andri, dan dirinya bisa saling mengerti satu sama lain di level yang mungkin tidak bisa dicapai oleh sahabat-sahabatku yang lain karena kami bertiga sama-sama infj (pseudosains, aku tahu, tapi biarkanlah saja). dulu ketika ia mengucapkan itu dan kami bertiga sering bertukar gagasan maupun bermain dan menonton film dari jarak jauh, aku rasanya senang sekali. tapi kini, ketika mengingatnya, aku benar-benar sedih entah mengapa.

begitu pula ketika novita bilang bahwa hatiku begitu lembut. sekarang aku tidak bisa mengingatnya tanpa merasa marah, tidak seperti dulu. atau ketika ira bilang bahwa sedikit sekali orang yang tulus sepertiku, dulu ungkapan itu bisa menenangkan hatiku sepenuhnya. tapi tidak dengan sekarang. atau ketika qure dan amanda bersyukur bisa menyandarkan rahasianya padaku, dulu aku turut bersyukur pula. atau ketika adik-adikku ingin menjadi sepertiku dan aku masih bisa tertawa-tawa mendengarnya. atau ketika aya berkata dengan tulus bahwa aku adalah sahabat yang sangat baik, terlalu baik. atau ketika cycy dan arief berkaca-kaca melihatku sambil berkata bahwa aku terlalu unik dalam arti positif, dan mereka bersyukur bekerja sama denganku. dan ketika-ketika lainnya yang lelah kutuliskan.

sekarang aku mengingat itu semua sambil mengumpat. bangsat. bangsat. bangsat. aku ini orang yang jahat. jangan pernah mengucapkan semua itu lagi kepadaku karena aku tahu semua itu omong kosong. jangan mencoba menenangkanku dengan mengatakan yang demikian itu karena aku hanya akan merasa lebih buruk.

sebetulnya semua yang kutuliskan ini sungguh ironis. beberapa kali aku mengampanyekan perihal kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, bahkan menjadi pendengar bagi puluhan orang di dunia maya atas permasalahan yang mereka hadapi. membantu mengurai simpul-simpul kusut di hidup mereka sambil terus mengingatkan agar tidak kehilangan harapan.

tapi kemudian, lihatlah tulisan ini. ironis.

kemudian yang bajingan dari ekspresi adalah mereka menyadari tanda-tanda kecil itu sejak lama. tapi mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaku sampai akhir-akhir ini. mereka tetap saling menjaga satu sama lain dalam diam. mereka tidak pernah memperlakukanku sebagai seorang yang hendak melakukan ‘itu’. mereka menghargaiku ketika menarik diri beberapa kali selama dua tahun ke belakang, sebuah fase yang selalu terjadi di semua hubungan pertemananku. dan hal-hal bajingan itulah yang membuatku semakin mencintai mereka. karena rasanya muak sekali ketika orang kanker diperlakukan seperti ‘orang kanker’. kalian mengerti maksudku, kan? coba lihat maggie di a million little things. atau tonton me and earl and the dying girl. atau baca buku dead ends. atau lihat kakeru di anime orange. atau. tunggu. untuk apa aku memberi semua referensi ini. kalian mengerti maksudku, kan?

mereka memahami itu. dan itu tidak hanya terjadi kepadaku saja. maksudku, begini. ekspresi sejatinya adalah kumpulan manusia tidak masuk akal atau tidak normal yang, ajaibnya, saling menemukan satu sama lain dan bersama-sama, kami mendefinisikan kembali apa itu normal. setidakwajar apapun diri kami di mata orang lain, ekspresi selalu mampu menemukan cara untuk membuat satu sama lain diterima.

maka tidak salah bila alief kerap meminta kami mengunjunginya di musi rawas. tidak salah bila miw tanpa sadar mengingat kami semua ketika tiba-tiba lagu hitam putih fourtwnty terdengar. tidak salah bila anggit menyatakan bahwa hanya ketika bersama kamilah ia bisa menegakkan kembali idealismenya. tidak salah bila dian mampu lepas dari kepenatannya setiap kali ke surabaya dan bertemu kami semua. tidak salah bila fandi diam-diam kerap menjamu kami dengan kata-kata indah dan puisi. tidak salah bila kevin sedramatis itu menganggap kami sebagai keluarganya. tidak salah bila kusnanta mengucap rindu ketika tidak bisa hadir di pernikahan miw dan mengenakan jas seragam kami. tidak salah bila novita beberapa kali meminta saran kami setiap dihadapkan dengan pilihan-pilihan rumit. tidak salah bila yoga selalu mencari akal untuk bisa menyempatkan diri bertemu kami. tidak salah bila zeniar menganggap kami semua kekasih-kekasihnya. tidak salah bila zizi selalu menanyakan kabar kami setiap kali ia memperoleh sinyal untuk berkomunikasi.

satu-satunya yang salah adalah aku. karena tidak lagi mampu melihat seluruh masa lalu dengan perasaan yang baik. karena terlambat menyadari segala hal setelah tujuh tahun lamanya. kini, tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

aneh. aneh sekali. aku memiliki keluarga yang luar biasa. ibu dan adik-adikku adalah yang terbaik yang kupunya. banyak sekali hal baik yang kudapat selama aku hidup, terutama tahun ini. aku dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang tidak hanya satu dua tapi belasan jumlahnya padahal katanya di usia yang mendekati seperempat abad ini seharusnya lingkar pertemanan semakin kecil. belum lagi jumlah teman-teman yang menganggap kehadiranku berharga. pekerjaanku baik-baik saja. aku mendapatkan pekerjaan baru yang kusuka bahkan. tapi kenapa mataku begitu gelap? seharusnya aku bahagia, kan? seharusnya aku bisa bertahan, kan?

siapapun yang mencapai baris ini bisa jadi bingung akan tulisan apakah ini sebenarnya. tapi tenang. tidak ada satu pun yang perlu dimengerti sejujurnya. tulisan-tulisanku biasa menyimpan lapisan-lapisan makna. bahkan ketika aku menulis tanpa kerangka seperti ini pun, sangat mungkin bahwa kalian kebingungan karena yang kalian lihat hanya lapis pertama. tapi sudahlah. percuma mencoba menggali hingga lapis kedua, ketiga, dan seterusnya. tidak ada isinya. kusudahi sampai sini saja.

akan kututup muntahan isi kepalaku ini dengan kutipan dari penulis indonesia favoritku setelah sabda armandio, faisal oddang, “saya belajar banyak hal dari kehilangan. salah satunya, kini saya mengerti bahwa satu per satu dari diri kita akan hilang perlahan, dan satu-satunya yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat menghadapinya hanya satu kenyataan bahwa kita memang tidak pernah memiliki apa-apa—bahkan ketika bercermin, seseorang di dalam cermin itu juga bukan milik kita.”

Advertisements