Sepenggal Surat Cinta

dari: kantong plastik belanja
untuk: awan di atas sana

*

mereka bilang, kau dan aku tidak bisa bersama.

katanya kau terlalu tinggi sementara aku begitu membumi. katanya kau takkan pernah bisa setia, takkan bisa kupinta tinggal untuk waktu yang lama. katanya menggenggammu adalah sia-sia, kau akan selalu pergi dan terus mencari, sementara aku menghabiskan hidup mengejar dan mengharapmu kembali.

*

Continue reading “Sepenggal Surat Cinta”

Advertisements

Budaya Masturbasi Inspirasi Harus Berhenti

“Bagaimana rasanya keliling Indonesia, Geur?” mereka kerap bertanya setiap kali aku baru saja kembali menginjak tanah Jawa.

Kemudian aku akan bercerita tentang bagaimana aku menumpang bus selama 12 jam dari Pontianak hingga Dusun Punti Kayan, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Betapa akses jalan di sana sudah sangat mumpuni dibanding beberapa tahun lalu ketika masih berupa tanah merah. Betapa keberadaan listrik begitu diharapkan di sana. Betapa aku menikmati mandi di sungai bersama anak-anak setiap menjelang senja.

Atau mungkin aku akan bercerita perihal Desa Sadi di Kecamatan Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang kupeluk dua kali di 2018. Betapa seluruh warga di sana sudah terasa serupa keluarga. Betapa langit malam begitu gelap, seakan memberi jalan bagi bintang dan serpihan galaksi untuk menampakkan diri. Betapa akses terhadap air begitu sulit, sementara keberadaan hujan tidak selalu bisa diandalkan.

Barangkali aku juga akan bercerita soal Desa Tanusan di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, tempatku belajar dan mengajar selama dua minggu lamanya. Betapa kini aku memahami mengapa harus Kaimana yang diabadikan keindahannya melalui nada-nada. Betapa aku menikmati setiap ikan, kepiting, lobster, dan makanan laut lainnya yang disuguhkan setiap hari di sana. Betapa anak-anak di sana enggan ke Jawa setelah kuceritakan bahwa aku harus membeli ikan, kepiting, lobster, dan makanan laut lainnya dengan harga yang luar biasa.

Su di sini saja, Kakak. Ikan tra usah bayar,” ucap mereka. “Jangan pulang ke Jawa, ya?”

Continue reading “Budaya Masturbasi Inspirasi Harus Berhenti”

Rumahku Sebuah Puisi

/i/

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun saban hari.

dindingnya kata-kata, berjejalan penuh sesak saling berebut membentuk makna. kupastikan huruf-huruf penyusunnya kecil semua, karena yang besar terlalu sulit untuk ditempa.

kusematkan titik sebagai jendela, sekadar pemanis yang takkan pernah kubuka. dan daun pintu—aku hampir saja lupa—ia kupetik dari sebuah tanda koma.

rumahku beratapkan air mata. tak hanya melindungi dari hujan dan matahari, tapi juga dari patah hati berulang kali.

lantainya kayu pohon jati, kutebang langsung dari belukar dalam kepala sendiri. tapi tidak dengan lantai kamar mandi, kubangun ia setelah seluruh jati habis ditebangi. dengan satu-satunya yang tersisa dalam kepala ini: sunyi.

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun seorang diri.

Continue reading “Rumahku Sebuah Puisi”

Mengilhami Pangeran Cilik

IMG_20180107_234239_674.jpg

Keinginan untuk melihat bintang bersama sudah seringkali kuutarakan, tapi tidak pernah ada tanda-tanda kamu akan mengiyakan. Aku selalu berkata bahwa dari atas bukit, pendar lampu-lampu kota tidak akan mengganggu kita. Langit akan tampak lebih bersih dan bahagia, karena bintang-bintang berani menampakkan dirinya di atas sana, aku menambahkan. Malam ini, aku mencoba mengajakmu sekali lagi meski aku sudah nyaris menyerah ketika mencobanya terakhir kali. Aku berjanji ini akan menjadi permintaan yang terakhir kali, hanya supaya kamu merestui. Tapi ternyata, kamu memberikan jawaban yang jauh di luar dugaan. Kamu mengangguk, lalu memelukku sebagai tanda persetujuan.

“Berkali-kali lagi juga nggak apa-apa, kok.” Begitu ujarmu.

Continue reading “Mengilhami Pangeran Cilik”

Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami

Aku lahir dari pasangan beragama serupa. Ibu memeluk agama Islam, serupa dengan kedua orang tuanya dan sembilan saudaranya yang lain, serupa dengan kakek-neneknya serta garis leluhurnya bila terus dirunut ke atas. Ayah memeluk Islam saat SMA, setelah sebelumnya beragama Hindu. Lima saudaranya yang lain menempuh perjalanan yang bermacam-macam. Adik laki-laki satu-satunya tetap memeluk Hindu, tiga adik perempuannya beragama Islam, sementara adik bungsunya sempat beragama Kristen kemudian Islam. Kakekku dari pihak ayah adalah seorang Hindu, sementara nenekku sebelumnya beragama Islam, kemudian Hindu, kemudian Kristen setelah menikah dengan kakek tiriku yang juga beragama Kristen. Empat adik nenekku beragama Islam, sementara adik terakhirnya menganut Katolik. Bila garis leluhur dari pihak ayahku terus dirunut ke atas, hanya keberagaman demi keberagaman yang akan ditemui.

Meski tidak pernah dibahas secara mendalam dalam perbincangan keluarga besar kami, aku yakin kami semua bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga yang begitu berwarna.

Continue reading “Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami”

2018 Tanpa Desember

Aku memulai 2018 dengan bercerita melalui gerakan @30haribercerita di Instagram. Meski pada akhirnya aku hanya mengunggah 15-20 cerita, aku tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk berbagi di awal tahun. Beberapa cerita berhasil kuselamatkan di blog ini, di antaranya adalah Auggie adalah Kita, Suara dalam Bingkai, Memahami Surabaya, dan Mawar untuk Ayah. Aku bahkan mendapatkan teman-teman baru melalui kegiatan tersebut. Dan lagi, aku justru menjadi lebih dekat dengan seorang perempuan yang tidak pernah kuduga akan menjadi tempatku melabuhkan rasa.

Continue reading “2018 Tanpa Desember”