Rumahku Sebuah Puisi

/i/

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun saban hari.

dindingnya kata-kata, berjejalan penuh sesak saling berebut membentuk makna. kupastikan huruf-huruf penyusunnya kecil semua, karena yang besar terlalu sulit untuk ditempa.

kusematkan titik sebagai jendela, sekadar pemanis yang takkan pernah kubuka. dan daun pintu—aku hampir saja lupa—ia kupetik dari sebuah tanda koma.

rumahku beratapkan air mata. tak hanya melindungi dari hujan dan matahari, tapi juga dari patah hati berulang kali.

lantainya kayu pohon jati, kutebang langsung dari belukar dalam kepala sendiri. tapi tidak dengan lantai kamar mandi, kubangun ia setelah seluruh jati habis ditebangi. dengan satu-satunya yang tersisa dalam kepala ini: sunyi.

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun seorang diri.

/ii/

kamu berhenti di depan tanda koma, mengambil spasi setelahnya, kemudian bertanya:

boleh aku berteduh di sini? di luar hujan deras sekali.

aku mempersilakanmu. tidak seperti tamu-tamu yang lalu, kamu menikmati secangkir tanda tanya dan sepiring cerita yang kujamu.

entah bagaimana ceritanya aku berani menyuguhkan lagi sebuah tanda tanya. lekuknya menyedihkan dan tanda titiknya melarikan diri entah ke mana.

tapi kamu menerima.

hujan reda.
puisi ini resmi kita huni berdua.

/iii/

amigdala, nama anak kita. anak pertama yang kita besarkan di bawah kata-kata.

entah bagaimana ceritanya kamu berani menyuguhkanku tanda seru yang bahkan tidak pernah kutemukan dalam rumahku. tegak, tajam, dengan titik yang begitu hitam.

kupinjam dari tetangga! katamu. kapan kamu sadar kalau puisi ini tidak cukup untuk kita bertiga?!

kilat di matamu memantulkan wajah seorang laki-laki tua. kuperhatikan seisi rumah dan mendapati puisi ini sudah terlalu senja.

huruf-hurufnya yang kecil kini sudah tumbuh besar. dan bersama kita, mereka turut membesarkan amigdala. kelak, ketika dewasa, ia akan bertanya:

benarkah ini rumah?

dan kita berdua takkan tahu jawabannya.

Surabaya, 27 Januari 2019

***

Catatan:

  • Ditulis untuk memenuhi ’10 Kali Tantangan Menulis’ dari Katahati Production.
  • Tema 4: Rumah (harus digubah dalam bentuk puisi).
  • Tagar: #katahati #katahatiproduction #katahatichallenge
Advertisements

37 thoughts on “Rumahku Sebuah Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.