Duka bagi Literasi Bangsa

Dunia literasi kembali diguncang dengan terjadinya pemberangusan buku oleh aparat sejak akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini seperti halnya yang terjadi di Kediri, Padang, dan Tarakan. Pemberangusan buku dilakukan dengan merazia serta menyita buku-buku yang memiliki kaitan atau menyebarluaskan pemikiran dan ideologi kiri. Tidak hanya itu, pemberangusan buku juga terjadi pada buku yang sebenarnya menolak paham tersebut. Hal ini dilandasi karena aparat hanya melihat sampul buku tanpa membaca dan memahami isinya.

Pemberangusan buku oleh aparat ini dinilai salah karena bertentangan dengan aturan yang berlaku seperti tertuang dalam Pasal 38 KUHAP yang menyatakan bahwa penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat, yang maknanya berarti penyitaan oleh kejaksaan dilakukan dalam konteks proses peradilan.

Selain melanggar undang-undang, pemberangusan buku juga merugikan banyak sektor, salah satunya bisnis perbukuan. Menurut Kepala Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, yang dikutip dari media Tirto mengatakan bahwa kegiatan ini berbahaya bagi semangat literasi yang dibangun oleh bangsa, semangat membaca, semangat menyimpan pengetahuan. Secara tidak langsung, tindakan pemberangusan buku ini dinilai menjadi pekerjaan anti pengetahuan dan anti pencerdasan bangsa.

Continue reading “Duka bagi Literasi Bangsa”

Advertisements

Tiga Tragedi Satu Lokasi

Pekerjaanku yang baru memberiku kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai jenjang sekolah. Lima hari dalam seminggu, aku dipastikan akan bertemu mereka semua untuk mengajar pelajaran matematika dengan sistem semiprivat di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya.

Selama satu bulan ke belakang, aku telah mengajar siswa-siswi SD hingga SMP swasta dengan mayoritas beretnis Tionghoa/Cina. Bulan depan jenjangku akan ditambah hingga SMA. Sejauh ini, aku sangat menyukai pekerjaan ini karena sejalan dengan salah satu minatku di bidang pendidikan. Dan sepertinya, aku akan terus menyukainya karena kelakuan-kelakuan absurd nan ajaib dari siswa-siswi yang kuajar mampu menambahkan warna dan cerita tersendiri dalam hidupku. Tiga cerita akan kuanggit di sini dan berhubung seluruh cerita ini benar-benar terjadi, aku akan menyamarkan nama siswa-siswiku demi menjaga privasi.

Continue reading “Tiga Tragedi Satu Lokasi”

Lara dan Kepalanya

Dunia berhenti mengeja tahun selepas 2100. Setelahnya, digunakan sistem penanggalan baru dimulai dari tahun 1 PX. Tidak ada tahun 2101. Tidak ada yang tahu kepanjangan dari PX. Aku sendiri menduga P merupakan singkatan dari pasca, tapi aku benar-benar tidak bisa menebak huruf X setelahnya berarti apa. Sekolah kami tidak mengajarkan sejarah hingga sedalam itu. Pengetahuan tentang masa lalu yang perlu kami semua tahu hanya dua: bahwa tahun-tahun sebelum 1 PX merupakan masa paling kelam dalam sejarah manusia, dan bahwa rekayasa genetika global yang dilakukan pada akhir 2100 merupakan awal dari tatanan dunia yang lebih baik.

Aku tidak tahu wujud manusia sebelum tahun 1 PX, tapi guruku selalu menekankan bahwa wujud kami saat ini adalah wujud yang paling sempurna. Karenanya, kami semua harus berterima kasih kepada rekayasa genetika yang telah mewujudkannya.

Continue reading “Lara dan Kepalanya”

Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi

 

Seated Female Nude, 1921
Oleh: Faisal Oddang

Aku menebak apa yang dipikirkan
cahaya lampu tentang tubuhmu,
aku menebak apa yang tengah
kau renungi, jika sebenarnya
perkara paling rumit di dunia
ini adalah persoalan sederhana.

Apa yang kupikirkan tentang
sepasang puting susumu adalah
apa yang kau pikirkan tentang
sepasang bola mataku
; apa yang patut disembunyikan
jika kemaluan telah pindah
dari selangkang ke kepalamu?

Continue reading “Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi”