Protected: tak ada puisi bulan ini

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Puisi-puisi November

1/ menyinggahi matamu

izinkan aku untuk menjaga malam dan mengganggumu sebentar saja dengan mengetuk matamu. di ketukan ketiga, kuharap kamu mempersilakanku masuk agar kamu tidak lagi bermimpi seorang diri.

aku memeluk sebuah toples kaca dan kuharap kamu bertanya perihal isinya agar aku bisa menjawabnya—hadiah untukmu. aku menyimpan hujan dan senja di dalamnya, dua hal yang dapat kamu temukan dengan mudah dalam sebuah puisi.

kutambahkan degup seorang pria yang baru saja berhujan-hujanan bersama kekasihnya saat aku masih di perjalanan menuju matamu. kupinta sekalian gigil sang kekasih dan ia memberiku gemeretak giginya—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bergetar di pelukanku. kupetik sedikit demi sedikit bau hujan di taman berharap kamu tersenyum ketika menghirupnya.

kuhubungi teman-temanmu dan meminta sepotong binar di mata mereka saat mengenang waktu-waktu bersamamu. tawa yang tak bisa mereka sembunyikan juga kusisipkan sekalian—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bernyanyi di dadaku. kuberikan toples ini kepadamu berharap kamu tidak kesepian saat aku memutuskan pergi dari matamu.

Continue reading “Puisi-puisi November”

Puisi-puisi Oktober

1/ pulang ke tanganmu

aku ingin terlelap di atas lekuk tanganmu dan terbaca selamanya sebagai masa depanmu. berayun ke depan dan belakang mengikuti ke mana angin membawamu pulang. air matamu akan menari bersamaku dan detak di dadamu kelak mengiringi tiap kali kau memeluk dirimu sendiri.

aku ingin terbangun di balik lekuk merah jambu di bawah hidungmu. berjalan ke depan dan belakang mengelilingi jejak wangi tubuhku. sebelum lelah, matamu akan mengajakku singgah dan bersama air mata, aku kelak diantar pulang ke rumah.

kembali, ke telapak tanganmu.

Continue reading “Puisi-puisi Oktober”

Puisi-puisi September

1/ kening, tempat segala kenang

ceritakan kepadaku bagaimana kamu melihatku untuk pertama kali, karena aku melihatmu sebagai seseorang yang ingin

kukenang keningnya
                  keningnya kukenang
kenagnya kukening
                  kukening kenangnya

berulang
kali

agar tak ada yang perlu kamu tangisi lagi.

Continue reading “Puisi-puisi September”

Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

“Yang indah dari Papua apa, sih?” Aku dan Sistha bertanya kepada wajah-wajah lugu di sekeliling kami.

Satu per satu dari mereka menjawab,
“Hutannya!”
“Lautnya!”
“Rusa-rusa!”
“Sungainya!”
“Sungai yang ada buayanya!”

Semua tertawa mendengar jawaban terakhir. Kami kebingungan di antara dua kemungkinan: apakah segala hal menjadi begitu indah di Papua atau justru semua kombinasi unik itu yang menjadikan Papua indah.

Continue reading “Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan”

Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar

Aku, Arief, Cycy, Juwandy, dan Sistha adalah lima karakter dengan jalan hidup berbeda yang dipertemukan semesta di persimpangan yang sama. Persimpangan itu berupa jalanan terjal penuh batu dan liku di sudut Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Dikelilingi oleh cuaca ekstrem dan ganasnya lautan, persimpangan tersebut bernama Desa Tanusan.  Continue reading “Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar”

“You’re a Blessing to Me.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra ketiga yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Jauh sebelum aku mengenal Ekspresi dan mendekatkan diri dengan adik-adikku, ada seseorang yang selalu menjadi yang pertama mengetahui segalanya. Tempat semua ceritaku bermuara.

Tentang pacar pertama. Kenakalan-kenakalan saat SMA. Masalah keluarga. Meminta doa sebelum lomba. Pengakuan dosa. Buku yang kubaca. Lagu yang kusuka. Cita-cita. Cinta-cinta. Semuanya.

Setelah tujuh tahun lamanya—tujuh tahun penuh liku: bertemu, bertengkar, berdamai, berpisah, bertemu, bertukar kisah, berpisah, bertemu, berkeluh kesah, berpisah—hubunganku dengannya tetap tidak berubah. Terlepas dari banyak orang baru yang hadir dalam hidup kami berdua, kepadanyalah aku tetap bercerita, meski kini ia tidak selalu menjadi yang pertama.

Sebagaimana telah diketahui, kepalaku adalah dunia yang aku sendiri tidak bisa mengerti. Ia benar-benar berantakan seperti kamar tahanan, atau lebih buruk dari itu bahkan. Dari hari ke hari, ia meminta untuk selalu kubenahi meski pada akhirnya kekacauannya justru semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaosan tersebut tiba di puncaknya, sahabatku ini adalah salah satu yang kerap menerima getahnya. Aku bisa meneleponnya berkali-kali, mengiriminya pesan yang luar biasa panjang dengan bahasa yang sangat tidak tertata (percayalah, ketika aku berada di fase seperti ini, tidak ada satupun sahabat-sahabatku yang mengerti apa yang aku bicarakan dan tuliskan karena rangkaian kalimatku benar-benar berantakan), bahkan mengirim pesan suara yang tidak jelas isinya.  Continue reading ““You’re a Blessing to Me.””