Auggie Adalah Kita

Wonder 1
Sumber: Movie Insider

Berbicara mengenai Wonder, sejujurnya aku bingung harus memulainya dari mana. Maksudku, aku tahu sejak tetesan air mata pertama saat menonton seperempat awal film ini bahwa aku harus menuliskan tentangnya. Tetesan-tetesan selanjutnya hingga film berakhir pun membuatku semakin yakin. Dan, ketika aku menyelesaikan versi bukunya (yang kudapat dari Nabilla) beberapa hari yang lalu, aku tahu bahwa aku akan menutup 2017 dengan tulisan tentang karya besar ini.

Aku pun tahu bagaimana aku akan mengakhiri tulisan ini. Sama seperti judul tulisan di atas, aku akan menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana namun penuh penekanan: Auggie adalah kita.

Yang aku tidak tahu adalah bagaimana untuk memulainya.

Continue reading “Auggie Adalah Kita”

Advertisements

Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

Ada satu buku yang selalu kubawa setiap kali aku bepergian jauh. Aku tidak tahu pasti mengapa, aku hanya merasa harus membawanya. Seseorang yang istimewa—aku tahu ini menggelikan tapi aku bingung menentukan padanan kata yang sesuai—memberikannya kepadaku tiga tahun yang lalu.

Semua dimulai ketika aku menulis kutipan dari sebuah film yang baru saja selesai kutonton beberapa menit sebelumnya pada pukul tiga pagi.

“My dad told me that New York once had the Sixth Borough that floated away. They tried to save it but they couldn’t. And it’s never coming back. As much as I want him to, my dad is never coming back. And I thought I couldn’t be without him but now… I know I can. I think that would make my dad proud, which is all I’ve ever wanted.” [1] Continue reading “Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka”

Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015

Sabtu lalu, aku membeli Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 dengan judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” sebagai salah satu bacaan untuk menghabiskan waktu saat Kerja Praktik (KP) di Trenggalek selama dua bulan, yang dimulai sejak Senin kemarin. Kenyataan yang terjadi adalah, rupanya aku selesai melahapnya dalam waktu dua hari. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya, mengingat seluruh cerpen yang pernah dimuat harian KOMPAS jarang sekali mengecewakanku (karena di sini aku menyebutkan jarang, maka tentu saja ada beberapa yang tidak memenuhi seleraku) terlebih lagi cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini begitu berkarakter dan mengalir sehingga, sulit rasanya untuk meletakkannya sebelum habis terbaca jika saja aku tidak ingat keharusan untuk membuat laporan KP setiap malam.

Meski aku tidak dibesarkan bersama cerpen-cerpen KOMPAS, aku bisa mengerti bahwa setiap karya yang dimuat selalu mengandung nilai serta pesan kemanusiaan yang nyata meski tidak selalu digambarkan secara realis dan gamblang. Bahkan, hampir semua yang pernah kubaca cenderung bergaya surealis, irasional, dan terkadang juga perlu diselami lebih dalam lantaran apa yang hendak disampaikan penulis tersembunyi jauh di dasar. Itulah yang membuat cerpen-cerpen KOMPAS khas dan penuh karakter meskipun diutarakan oleh banyak penulis dari Sabang sampai Merauke.

Cerpen-cerpen KOMPAS mampu menyingkap banyak kegelisahan, permasalahan, kemarahan, juga ironi yang banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Tanah Air. Berbeda dengan berita, aku merasa justru cerpen-cerpen ini lebih menohok dan jujur. Mereka menyajikan kepingan peristiwa melalui sebuah narasi yang apa adanya, terkadang jenaka, penuh ironi, atau pun menggelitik, dan hal itu justru membuatnya semakin getir dan menyentuh. Bahkan Efix Mulyadi, salah seorang juri dalam penentuan Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, turut menyatakan dalam kata pengantarnya: Justru lewat karya sastra hakikat ketertindasan itu lebih muncul secara penuh. Aku harap tidak berlebihan bila kukatakan bahwa cerpen KOMPAS tidak hanya dapat dinikmati sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi refleksi dan bahan perenungan bagi mereka yang membacanya.

Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 yang memuat dua puluh tiga cerpen ini, secara khusus Efix Mulyadi memberi judul pada kata pengantarnya, “Yang Tersisih dan yang Dikorbankan” karena memang, hal itulah yang menjadi benang merah dari dua puluh tiga karya tersebut. Dan secara khusus pula, aku membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi atas beberapa karya yang kuanggap paling menyita perhatianku. Semua yang termuat tentu memberikan kesan tersendiri bagiku namun, tidak semuanya dapat kuinterpretasikan saat ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan, juga pengalaman. Oleh karenanya, hanya beberapa karya yang kuulas di sini. Bila kau khawatir ulasanku akan mengganggu kenikmatanmu yang baru hendak membaca Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, aku sarankan kau berhenti membaca di sini. Continue reading “Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015”