Bersemesta dalam Angka

(Tulisan ini diunggah pertama kali di Instagram pada 10 September 2019.)

Tepat setahun lalu, saya menulis tiga mantra (Mantra 1, Mantra 2, Mantra 3) yang akan selalu lekat dalam ingatan saya. Tiga mantra selama September untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (#WorldSuicidePreventionDay) yang jatuh setiap tanggal 10 September—hari ini.

Bersemesta belum lahir. Tapi saya tahu rohnya telah hadir.

Continue reading “Bersemesta dalam Angka”

Advertisements

Tiga Tragedi Satu Lokasi

Pekerjaanku yang baru memberiku kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai jenjang sekolah. Lima hari dalam seminggu, aku dipastikan akan bertemu mereka semua untuk mengajar pelajaran matematika dengan sistem semiprivat di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya.

Selama satu bulan ke belakang, aku telah mengajar siswa-siswi SD hingga SMP swasta dengan mayoritas beretnis Tionghoa/Cina. Bulan depan jenjangku akan ditambah hingga SMA. Sejauh ini, aku sangat menyukai pekerjaan ini karena sejalan dengan salah satu minatku di bidang pendidikan. Dan sepertinya, aku akan terus menyukainya karena kelakuan-kelakuan absurd nan ajaib dari siswa-siswi yang kuajar mampu menambahkan warna dan cerita tersendiri dalam hidupku. Tiga cerita akan kuanggit di sini dan berhubung seluruh cerita ini benar-benar terjadi, aku akan menyamarkan nama siswa-siswiku demi menjaga privasi.

Continue reading “Tiga Tragedi Satu Lokasi”

Lara dan Kepalanya

Dunia berhenti mengeja tahun selepas 2100. Setelahnya, digunakan sistem penanggalan baru dimulai dari tahun 1 PX. Tidak ada tahun 2101. Tidak ada yang tahu kepanjangan dari PX. Aku sendiri menduga P merupakan singkatan dari pasca, tapi aku benar-benar tidak bisa menebak huruf X setelahnya berarti apa. Sekolah kami tidak mengajarkan sejarah hingga sedalam itu. Pengetahuan tentang masa lalu yang perlu kami semua tahu hanya dua: bahwa tahun-tahun sebelum 1 PX merupakan masa paling kelam dalam sejarah manusia, dan bahwa rekayasa genetika global yang dilakukan pada akhir 2100 merupakan awal dari tatanan dunia yang lebih baik.

Aku tidak tahu wujud manusia sebelum tahun 1 PX, tapi guruku selalu menekankan bahwa wujud kami saat ini adalah wujud yang paling sempurna. Karenanya, kami semua harus berterima kasih kepada rekayasa genetika yang telah mewujudkannya.

Continue reading “Lara dan Kepalanya”

Mengilhami Pangeran Cilik

IMG_20180107_234239_674.jpg

Keinginan untuk melihat bintang bersama sudah seringkali kuutarakan, tapi tidak pernah ada tanda-tanda kamu akan mengiyakan. Aku selalu berkata bahwa dari atas bukit, pendar lampu-lampu kota tidak akan mengganggu kita. Langit akan tampak lebih bersih dan bahagia, karena bintang-bintang berani menampakkan dirinya di atas sana, aku menambahkan. Malam ini, aku mencoba mengajakmu sekali lagi meski aku sudah nyaris menyerah ketika mencobanya terakhir kali. Aku berjanji ini akan menjadi permintaan yang terakhir kali, hanya supaya kamu merestui. Tapi ternyata, kamu memberikan jawaban yang jauh di luar dugaan. Kamu mengangguk, lalu memelukku sebagai tanda persetujuan.

“Berkali-kali lagi juga nggak apa-apa, kok.” Begitu ujarmu.

Continue reading “Mengilhami Pangeran Cilik”

Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami

Aku lahir dari pasangan beragama serupa. Ibu memeluk agama Islam, serupa dengan kedua orang tuanya dan sembilan saudaranya yang lain, serupa dengan kakek-neneknya serta garis leluhurnya bila terus dirunut ke atas. Ayah memeluk Islam saat SMA, setelah sebelumnya beragama Hindu. Lima saudaranya yang lain menempuh perjalanan yang bermacam-macam. Adik laki-laki satu-satunya tetap memeluk Hindu, tiga adik perempuannya beragama Islam, sementara adik bungsunya sempat beragama Kristen kemudian Islam. Kakekku dari pihak ayah adalah seorang Hindu, sementara nenekku sebelumnya beragama Islam, kemudian Hindu, kemudian Kristen setelah menikah dengan kakek tiriku yang juga beragama Kristen. Empat adik nenekku beragama Islam, sementara adik terakhirnya menganut Katolik. Bila garis leluhur dari pihak ayahku terus dirunut ke atas, hanya keberagaman demi keberagaman yang akan ditemui.

Meski tidak pernah dibahas secara mendalam dalam perbincangan keluarga besar kami, aku yakin kami semua bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga yang begitu berwarna.

Continue reading “Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami”

2018 Tanpa Desember

Aku memulai 2018 dengan bercerita melalui gerakan @30haribercerita di Instagram. Meski pada akhirnya aku hanya mengunggah 15-20 cerita, aku tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk berbagi di awal tahun. Beberapa cerita berhasil kuselamatkan di blog ini, di antaranya adalah Auggie adalah Kita, Suara dalam Bingkai, Memahami Surabaya, dan Mawar untuk Ayah. Aku bahkan mendapatkan teman-teman baru melalui kegiatan tersebut. Dan lagi, aku justru menjadi lebih dekat dengan seorang perempuan yang tidak pernah kuduga akan menjadi tempatku melabuhkan rasa.

Continue reading “2018 Tanpa Desember”

Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

“Yang indah dari Papua apa, sih?” Aku dan Sistha bertanya kepada wajah-wajah lugu di sekeliling kami.

Satu per satu dari mereka menjawab,
“Hutannya!”
“Lautnya!”
“Rusa-rusa!”
“Sungainya!”
“Sungai yang ada buayanya!”

Semua tertawa mendengar jawaban terakhir. Kami kebingungan di antara dua kemungkinan: apakah segala hal menjadi begitu indah di Papua atau justru semua kombinasi unik itu yang menjadikan Papua indah.

Continue reading “Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan”