Protected: tak ada puisi bulan ini

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

“You’re a Blessing to Me.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra ketiga yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Jauh sebelum aku mengenal Ekspresi dan mendekatkan diri dengan adik-adikku, ada seseorang yang selalu menjadi yang pertama mengetahui segalanya. Tempat semua ceritaku bermuara.

Tentang pacar pertama. Kenakalan-kenakalan saat SMA. Masalah keluarga. Meminta doa sebelum lomba. Pengakuan dosa. Buku yang kubaca. Lagu yang kusuka. Cita-cita. Cinta-cinta. Semuanya.

Setelah tujuh tahun lamanya—tujuh tahun penuh liku: bertemu, bertengkar, berdamai, berpisah, bertemu, bertukar kisah, berpisah, bertemu, berkeluh kesah, berpisah—hubunganku dengannya tetap tidak berubah. Terlepas dari banyak orang baru yang hadir dalam hidup kami berdua, kepadanyalah aku tetap bercerita, meski kini ia tidak selalu menjadi yang pertama.

Sebagaimana telah diketahui, kepalaku adalah dunia yang aku sendiri tidak bisa mengerti. Ia benar-benar berantakan seperti kamar tahanan, atau lebih buruk dari itu bahkan. Dari hari ke hari, ia meminta untuk selalu kubenahi meski pada akhirnya kekacauannya justru semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaosan tersebut tiba di puncaknya, sahabatku ini adalah salah satu yang kerap menerima getahnya. Aku bisa meneleponnya berkali-kali, mengiriminya pesan yang luar biasa panjang dengan bahasa yang sangat tidak tertata (percayalah, ketika aku berada di fase seperti ini, tidak ada satupun sahabat-sahabatku yang mengerti apa yang aku bicarakan dan tuliskan karena rangkaian kalimatku benar-benar berantakan), bahkan mengirim pesan suara yang tidak jelas isinya.  Continue reading ““You’re a Blessing to Me.””

“Mereka Benar-benar Pemberani.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra kedua yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Pernah suatu waktu salah seorang adikku menghampiri dan berbicara empat mata perihal depresi. Ia khawatir sedang mengidapnya karena ia merasakan berbagai gejala pada dirinya. Isi kepalanya seringkali kusut, banyak hal membuatnya takut, tampak luar ia tetap beraktivitas seperti biasa sesuai tanggung jawabnya meski sebenarnya tidak ada lagi hal yang menarik minatnya, berkali-kali menyalahkan diri atas berbagai kesalahan di masa lalu hingga merasa dirinya tak bernilai lagi, sampai akhirnya gagasan untuk menyakiti diri dan bunuh diri muncul berulang kali.

Aku tidak bisa memberikan diagnosis tentu saja, sehingga kuberikan seluruh waktu dan perhatian yang kupunya untuknya. Aku senang ia memilih untuk tidak melakukannya ketika pikiran bunuh diri itu menghampirinya, tidak bisa kubayangkan seandainya hal itu terjadi. Aku pun senang ia memilih untuk menghampiri dan menceritakan semuanya kepadaku. Sambil mengucapkan mantra pertama kepadanya, aku turut meyakinkan untuk pergi ke psikolog bersama-sama bila kami punya uang dan waktu kelak.  Continue reading ““Mereka Benar-benar Pemberani.””

“Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra pertama yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Mereka pikir aku hendak bunuh diri ketika aku meminta izin untuk pergi dan tidak perlu dicari. “Hati-hati,” demikian mereka menanggapi. Tidak ada pertanyaan selanjutnya. Tidak ada paksaan untuk bercerita. Tidak ada larangan untuk pergi. Sepenuhnya mereka memahami bahwa saat itu aku membutuhkan waktu bagi diriku sendiri.

Dan satu alasan mengapa sejak dulu aku tidak pernah meragukan mereka sebagai tempatku berbagi isi hati adalah karena kami sepenuhnya sepakat bahwa semua yang terjadi di internal kami akan tetap bertahan di internal kami. Belum pernah ada yang melanggar ini.

Beberapa bulan setelahnya, barulah mereka bercerita semuanya. Bahwa mereka membuat multi chat tanpaku untuk membahas ini, bahwa mereka khawatir karena aku tidak kunjung muncul di group chat, dan bahwa mereka senang melihatku kembali pulang (karena akhirnya mereka bisa memberikan kejutan ulang tahun yang lebih mewah ketimbang lagu ‘Sampai Jadi Debu’ di group chat—yang sejujurnya sudah lebih dari cukup).

Pembicaraan ini terangkat karena beberapa dari kami rupanya sempat dan masih memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Kami mendengarkan dengan saksama, dan seperti biasa, memberikan masukan yang jauh lebih menenangkan dari yang dibutuhkan. Salah satu tanggapan yang paling kuingat dan kupikir bisa menjadi benang merah dari dinamika pembicaraan kami adalah pernyataan yang entah keluar dari mulut siapa.

“Ajak aku bunuh diri bersamamu.”

Kurang lebih seperti itu.

***

Continue reading ““Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.””

Auggie Adalah Kita

Wonder 1
Sumber: Movie Insider

Berbicara mengenai Wonder, sejujurnya aku bingung harus memulainya dari mana. Maksudku, aku tahu sejak tetesan air mata pertama saat menonton seperempat awal film ini bahwa aku harus menuliskan tentangnya. Tetesan-tetesan selanjutnya hingga film berakhir pun membuatku semakin yakin. Dan, ketika aku menyelesaikan versi bukunya (yang kudapat dari Nabilla) beberapa hari yang lalu, aku tahu bahwa aku akan menutup 2017 dengan tulisan tentang karya besar ini.

Aku pun tahu bagaimana aku akan mengakhiri tulisan ini. Sama seperti judul tulisan di atas, aku akan menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana namun penuh penekanan: Auggie adalah kita.

Yang aku tidak tahu adalah bagaimana untuk memulainya.

Continue reading “Auggie Adalah Kita”

Memaknai Belenggu

Di kota pertama yang kudatangi, aku tinggal di sebuah indekos harian tepat di samping gereja. Kamarku di lantai dua, dekat dengan lonceng gereja, meski tetap saja gema azan lebih sering terdengar ketimbang dentang lonceng. Di luar kamarku ada balkon besar yang menghadap jalan kompleks. Balkon itu biasa digunakan oleh para penghuni kos untuk menjemur pakaian, mengeringkan sepatu yang basah karena hujan, atau merenungi kenangan.

Aku, dengan penuh kebanggaan, biasanya melakukan aktivitas yang terakhir. Sendirian. Continue reading “Memaknai Belenggu”

Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

Ada satu buku yang selalu kubawa setiap kali aku bepergian jauh. Aku tidak tahu pasti mengapa, aku hanya merasa harus membawanya. Seseorang yang istimewa—aku tahu ini menggelikan tapi aku bingung menentukan padanan kata yang sesuai—memberikannya kepadaku tiga tahun yang lalu.

Semua dimulai ketika aku menulis kutipan dari sebuah film yang baru saja selesai kutonton beberapa menit sebelumnya pada pukul tiga pagi.

“My dad told me that New York once had the Sixth Borough that floated away. They tried to save it but they couldn’t. And it’s never coming back. As much as I want him to, my dad is never coming back. And I thought I couldn’t be without him but now… I know I can. I think that would make my dad proud, which is all I’ve ever wanted.” [1] Continue reading “Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka”