Duka bagi Literasi Bangsa

Dunia literasi kembali diguncang dengan terjadinya pemberangusan buku oleh aparat sejak akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini seperti halnya yang terjadi di Kediri, Padang, dan Tarakan. Pemberangusan buku dilakukan dengan merazia serta menyita buku-buku yang memiliki kaitan atau menyebarluaskan pemikiran dan ideologi kiri. Tidak hanya itu, pemberangusan buku juga terjadi pada buku yang sebenarnya menolak paham tersebut. Hal ini dilandasi karena aparat hanya melihat sampul buku tanpa membaca dan memahami isinya.

Pemberangusan buku oleh aparat ini dinilai salah karena bertentangan dengan aturan yang berlaku seperti tertuang dalam Pasal 38 KUHAP yang menyatakan bahwa penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat, yang maknanya berarti penyitaan oleh kejaksaan dilakukan dalam konteks proses peradilan.

Selain melanggar undang-undang, pemberangusan buku juga merugikan banyak sektor, salah satunya bisnis perbukuan. Menurut Kepala Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, yang dikutip dari media Tirto mengatakan bahwa kegiatan ini berbahaya bagi semangat literasi yang dibangun oleh bangsa, semangat membaca, semangat menyimpan pengetahuan. Secara tidak langsung, tindakan pemberangusan buku ini dinilai menjadi pekerjaan anti pengetahuan dan anti pencerdasan bangsa.

Continue reading “Duka bagi Literasi Bangsa”

Advertisements

Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi

 

Seated Female Nude, 1921
Oleh: Faisal Oddang

Aku menebak apa yang dipikirkan
cahaya lampu tentang tubuhmu,
aku menebak apa yang tengah
kau renungi, jika sebenarnya
perkara paling rumit di dunia
ini adalah persoalan sederhana.

Apa yang kupikirkan tentang
sepasang puting susumu adalah
apa yang kau pikirkan tentang
sepasang bola mataku
; apa yang patut disembunyikan
jika kemaluan telah pindah
dari selangkang ke kepalamu?

Continue reading “Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi”

Budaya Masturbasi Inspirasi Harus Berhenti

“Bagaimana rasanya keliling Indonesia, Geur?” mereka kerap bertanya setiap kali aku baru saja kembali menginjak tanah Jawa.

Kemudian aku akan bercerita tentang bagaimana aku menumpang bus selama 12 jam dari Pontianak hingga Dusun Punti Kayan, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Betapa akses jalan di sana sudah sangat mumpuni dibanding beberapa tahun lalu ketika masih berupa tanah merah. Betapa keberadaan listrik begitu diharapkan di sana. Betapa aku menikmati mandi di sungai bersama anak-anak setiap menjelang senja.

Atau mungkin aku akan bercerita perihal Desa Sadi di Kecamatan Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang kupeluk dua kali di 2018. Betapa seluruh warga di sana sudah terasa serupa keluarga. Betapa langit malam begitu gelap, seakan memberi jalan bagi bintang dan serpihan galaksi untuk menampakkan diri. Betapa akses terhadap air begitu sulit, sementara keberadaan hujan tidak selalu bisa diandalkan.

Barangkali aku juga akan bercerita soal Desa Tanusan di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, tempatku belajar dan mengajar selama dua minggu lamanya. Betapa kini aku memahami mengapa harus Kaimana yang diabadikan keindahannya melalui nada-nada. Betapa aku menikmati setiap ikan, kepiting, lobster, dan makanan laut lainnya yang disuguhkan setiap hari di sana. Betapa anak-anak di sana enggan ke Jawa setelah kuceritakan bahwa aku harus membeli ikan, kepiting, lobster, dan makanan laut lainnya dengan harga yang luar biasa.

Su di sini saja, Kakak. Ikan tra usah bayar,” ucap mereka. “Jangan pulang ke Jawa, ya?”

Continue reading “Budaya Masturbasi Inspirasi Harus Berhenti”

tak ada puisi bulan ini

tak ada puisi yang ditulis bulan ini. begitu pula dengan tulisan yang layak baca. tidak ada. karena pemilik halaman ini telah kehilangan jiwanya. serupa dengan aku yang meninggalkan sahabat-sahabatku, jiwa ini telah meninggalkan ragaku pula sejak sangat lama. tidak tahu apakah aku, maupun jiwaku, akan kembali atau tidak. tidak baik menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi.

aku perlu menghentikan kalian di baris ini karena di tulisan ini kalian tidak akan menemukan apa-apa selain kebingungan. dan barangkali kekecewaan. karena isi kepalaku sangat berantakan dan seperti inilah jadinya jika pikiran-pikiran di dalamnya dibiarkan berkeliaran. sekali lagi, berhentilah membaca sampai titik ini. aku sudah memperingatkan.

Continue reading “tak ada puisi bulan ini”

“You’re a Blessing to Me.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra ketiga yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Jauh sebelum aku mengenal Ekspresi dan mendekatkan diri dengan adik-adikku, ada seseorang yang selalu menjadi yang pertama mengetahui segalanya. Tempat semua ceritaku bermuara.

Tentang pacar pertama. Kenakalan-kenakalan saat SMA. Masalah keluarga. Meminta doa sebelum lomba. Pengakuan dosa. Buku yang kubaca. Lagu yang kusuka. Cita-cita. Cinta-cinta. Semuanya.

Setelah tujuh tahun lamanya—tujuh tahun penuh liku: bertemu, bertengkar, berdamai, berpisah, bertemu, bertukar kisah, berpisah, bertemu, berkeluh kesah, berpisah—hubunganku dengannya tetap tidak berubah. Terlepas dari banyak orang baru yang hadir dalam hidup kami berdua, kepadanyalah aku tetap bercerita, meski kini ia tidak selalu menjadi yang pertama.

Sebagaimana telah diketahui, kepalaku adalah dunia yang aku sendiri tidak bisa mengerti. Ia benar-benar berantakan seperti kamar tahanan, atau lebih buruk dari itu bahkan. Dari hari ke hari, ia meminta untuk selalu kubenahi meski pada akhirnya kekacauannya justru semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaosan tersebut tiba di puncaknya, sahabatku ini adalah salah satu yang kerap menerima getahnya. Aku bisa meneleponnya berkali-kali, mengiriminya pesan yang luar biasa panjang dengan bahasa yang sangat tidak tertata (percayalah, ketika aku berada di fase seperti ini, tidak ada satupun sahabat-sahabatku yang mengerti apa yang aku bicarakan dan tuliskan karena rangkaian kalimatku benar-benar berantakan), bahkan mengirim pesan suara yang tidak jelas isinya.  Continue reading ““You’re a Blessing to Me.””

“Mereka Benar-benar Pemberani.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra kedua yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Pernah suatu waktu salah seorang adikku menghampiri dan berbicara empat mata perihal depresi. Ia khawatir sedang mengidapnya karena ia merasakan berbagai gejala pada dirinya. Isi kepalanya seringkali kusut, banyak hal membuatnya takut, tampak luar ia tetap beraktivitas seperti biasa sesuai tanggung jawabnya meski sebenarnya tidak ada lagi hal yang menarik minatnya, berkali-kali menyalahkan diri atas berbagai kesalahan di masa lalu hingga merasa dirinya tak bernilai lagi, sampai akhirnya gagasan untuk menyakiti diri dan bunuh diri muncul berulang kali.

Aku tidak bisa memberikan diagnosis tentu saja, sehingga kuberikan seluruh waktu dan perhatian yang kupunya untuknya. Aku senang ia memilih untuk tidak melakukannya ketika pikiran bunuh diri itu menghampirinya, tidak bisa kubayangkan seandainya hal itu terjadi. Aku pun senang ia memilih untuk menghampiri dan menceritakan semuanya kepadaku. Sambil mengucapkan mantra pertama kepadanya, aku turut meyakinkan untuk pergi ke psikolog bersama-sama bila kami punya uang dan waktu kelak.  Continue reading ““Mereka Benar-benar Pemberani.””

“Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra pertama yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Mereka pikir aku hendak bunuh diri ketika aku meminta izin untuk pergi dan tidak perlu dicari. “Hati-hati,” demikian mereka menanggapi. Tidak ada pertanyaan selanjutnya. Tidak ada paksaan untuk bercerita. Tidak ada larangan untuk pergi. Sepenuhnya mereka memahami bahwa saat itu aku membutuhkan waktu bagi diriku sendiri.

Dan satu alasan mengapa sejak dulu aku tidak pernah meragukan mereka sebagai tempatku berbagi isi hati adalah karena kami sepenuhnya sepakat bahwa semua yang terjadi di internal kami akan tetap bertahan di internal kami. Belum pernah ada yang melanggar ini.

Beberapa bulan setelahnya, barulah mereka bercerita semuanya. Bahwa mereka membuat multi chat tanpaku untuk membahas ini, bahwa mereka khawatir karena aku tidak kunjung muncul di group chat, dan bahwa mereka senang melihatku kembali pulang (karena akhirnya mereka bisa memberikan kejutan ulang tahun yang lebih mewah ketimbang lagu ‘Sampai Jadi Debu’ di group chat—yang sejujurnya sudah lebih dari cukup).

Pembicaraan ini terangkat karena beberapa dari kami rupanya sempat dan masih memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Kami mendengarkan dengan saksama, dan seperti biasa, memberikan masukan yang jauh lebih menenangkan dari yang dibutuhkan. Salah satu tanggapan yang paling kuingat dan kupikir bisa menjadi benang merah dari dinamika pembicaraan kami adalah pernyataan yang entah keluar dari mulut siapa.

“Ajak aku bunuh diri bersamamu.”

Kurang lebih seperti itu.

***

Continue reading ““Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.””