Selepas Surga

/i/

pada mulanya surga
dan untuk kesekian kalinya, dunia.

konon sebentang padang mempertemukan orang tua kita untuk kedua kalinya. ayah yang tengah lelah melihat ibu serupa anggur: sebuah alasan mengapa menunggu itu memabukkan dan alasan lain mengapa ia tak perlu berpaling kepada yang liyan.

sayang, ayah kita terlambat menyadarinya.

ibu begitu bungah melihat ayah. di matanya, ayah adalah buah terlarang yang terakhir kali dilumatnya. sebutir biji yang bergetar di balik leher ayah mengingatkan ibu bahwa ia masihlah orang yang sama: pria yang memikul dosa bersamanya.

dedaunan gugur, ibu siap terusir untuk kali kedua.

Continue reading “Selepas Surga”

Advertisements

Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi

Seated Female Nude, 1921
Oleh: Faisal Oddang

Aku menebak apa yang dipikirkan
cahaya lampu tentang tubuhmu,
aku menebak apa yang tengah
kau renungi, jika sebenarnya
perkara paling rumit di dunia
ini adalah persoalan sederhana.

Apa yang kupikirkan tentang
sepasang puting susumu adalah
apa yang kau pikirkan tentang
sepasang bola mataku
; apa yang patut disembunyikan
jika kemaluan telah pindah
dari selangkang ke kepalamu?

Continue reading “Memahami Objektifikasi dalam Tubuh Puisi”

Sepenggal Surat Cinta

dari: kantong plastik belanja
untuk: awan di atas sana

*

mereka bilang, kau dan aku tidak bisa bersama.

katanya kau terlalu tinggi sementara aku begitu membumi. katanya kau takkan pernah bisa setia, takkan bisa kupinta tinggal untuk waktu yang lama. katanya menggenggammu adalah sia-sia, kau akan selalu pergi dan terus mencari, sementara aku menghabiskan hidup mengejar dan mengharapmu kembali.

*

Continue reading “Sepenggal Surat Cinta”

Rumahku Sebuah Puisi

/i/

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun saban hari.

dindingnya kata-kata, berjejalan penuh sesak saling berebut membentuk makna. kupastikan huruf-huruf penyusunnya kecil semua, karena yang besar terlalu sulit untuk ditempa.

kusematkan titik sebagai jendela, sekadar pemanis yang takkan pernah kubuka. dan daun pintu—aku hampir saja lupa—ia kupetik dari sebuah tanda koma.

rumahku beratapkan air mata. tak hanya melindungi dari hujan dan matahari, tapi juga dari patah hati berulang kali.

lantainya kayu pohon jati, kutebang langsung dari belukar dalam kepala sendiri. tapi tidak dengan lantai kamar mandi, kubangun ia setelah seluruh jati habis ditebangi. dengan satu-satunya yang tersisa dalam kepala ini: sunyi.

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun seorang diri.

Continue reading “Rumahku Sebuah Puisi”

Puisi-puisi November

1/ menyinggahi matamu

izinkan aku untuk menjaga malam dan mengganggumu sebentar saja dengan mengetuk matamu. di ketukan ketiga, kuharap kamu mempersilakanku masuk agar kamu tidak lagi bermimpi seorang diri.

aku memeluk sebuah toples kaca dan kuharap kamu bertanya perihal isinya agar aku bisa menjawabnya—hadiah untukmu. aku menyimpan hujan dan senja di dalamnya, dua hal yang dapat kamu temukan dengan mudah dalam sebuah puisi.

kutambahkan degup seorang pria yang baru saja berhujan-hujanan bersama kekasihnya saat aku masih di perjalanan menuju matamu. kupinta sekalian gigil sang kekasih dan ia memberiku gemeretak giginya—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bergetar di pelukanku. kupetik sedikit demi sedikit bau hujan di taman berharap kamu tersenyum ketika menghirupnya.

kuhubungi teman-temanmu dan meminta sepotong binar di mata mereka saat mengenang waktu-waktu bersamamu. tawa yang tak bisa mereka sembunyikan juga kusisipkan sekalian—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bernyanyi di dadaku. kuberikan toples ini kepadamu berharap kamu tidak kesepian saat aku memutuskan pergi dari matamu.

Continue reading “Puisi-puisi November”

Puisi-puisi Oktober

1/ pulang ke tanganmu

aku ingin terlelap di atas lekuk tanganmu dan terbaca selamanya sebagai masa depanmu. berayun ke depan dan belakang mengikuti ke mana angin membawamu pulang. air matamu akan menari bersamaku dan detak di dadamu kelak mengiringi tiap kali kau memeluk dirimu sendiri.

aku ingin terbangun di balik lekuk merah jambu di bawah hidungmu. berjalan ke depan dan belakang mengelilingi jejak wangi tubuhku. sebelum lelah, matamu akan mengajakku singgah dan bersama air mata, aku kelak diantar pulang ke rumah.

kembali, ke telapak tanganmu.

Continue reading “Puisi-puisi Oktober”