Mengilhami Pangeran Cilik

IMG_20180107_234239_674.jpg

Keinginan untuk melihat bintang bersama sudah seringkali kuutarakan, tapi tidak pernah ada tanda-tanda kamu akan mengiyakan. Aku selalu berkata bahwa dari atas bukit, pendar lampu-lampu kota tidak akan mengganggu kita. Langit akan tampak lebih bersih dan bahagia, karena bintang-bintang berani menampakkan dirinya di atas sana, aku menambahkan. Malam ini, aku mencoba mengajakmu sekali lagi meski aku sudah nyaris menyerah ketika mencobanya terakhir kali. Aku berjanji ini akan menjadi permintaan yang terakhir kali, hanya supaya kamu merestui. Tapi ternyata, kamu memberikan jawaban yang jauh di luar dugaan. Kamu mengangguk, lalu memelukku sebagai tanda persetujuan.

“Berkali-kali lagi juga nggak apa-apa, kok.” Begitu ujarmu.

Continue reading “Mengilhami Pangeran Cilik”

Advertisements

Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami

Aku lahir dari pasangan beragama serupa. Ibu memeluk agama Islam, serupa dengan kedua orang tuanya dan sembilan saudaranya yang lain, serupa dengan kakek-neneknya serta garis leluhurnya bila terus dirunut ke atas. Ayah memeluk Islam saat SMA, setelah sebelumnya beragama Hindu. Lima saudaranya yang lain menempuh perjalanan yang bermacam-macam. Adik laki-laki satu-satunya tetap memeluk Hindu, tiga adik perempuannya beragama Islam, sementara adik bungsunya sempat beragama Kristen kemudian Islam. Kakekku dari pihak ayah adalah seorang Hindu, sementara nenekku sebelumnya beragama Islam, kemudian Hindu, kemudian Kristen setelah menikah dengan kakek tiriku yang juga beragama Kristen. Empat adik nenekku beragama Islam, sementara adik terakhirnya menganut Katolik. Bila garis leluhur dari pihak ayahku terus dirunut ke atas, hanya keberagaman demi keberagaman yang akan ditemui.

Meski tidak pernah dibahas secara mendalam dalam perbincangan keluarga besar kami, aku yakin kami semua bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga yang begitu berwarna.

Continue reading “Warisan yang Mengalir di Keluarga Kami”

2018 Tanpa Desember

Aku memulai 2018 dengan bercerita melalui gerakan @30haribercerita di Instagram. Meski pada akhirnya aku hanya mengunggah 15-20 cerita, aku tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk berbagi di awal tahun. Beberapa cerita berhasil kuselamatkan di blog ini, di antaranya adalah Auggie adalah Kita, Suara dalam Bingkai, Memahami Surabaya, dan Mawar untuk Ayah. Aku bahkan mendapatkan teman-teman baru melalui kegiatan tersebut. Dan lagi, aku justru menjadi lebih dekat dengan seorang perempuan yang tidak pernah kuduga akan menjadi tempatku melabuhkan rasa.

Continue reading “2018 Tanpa Desember”

tak ada puisi bulan ini

tak ada puisi yang ditulis bulan ini. begitu pula dengan tulisan yang layak baca. tidak ada. karena pemilik halaman ini telah kehilangan jiwanya. serupa dengan aku yang meninggalkan sahabat-sahabatku, jiwa ini telah meninggalkan ragaku pula sejak sangat lama. tidak tahu apakah aku, maupun jiwaku, akan kembali atau tidak. tidak baik menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi.

aku perlu menghentikan kalian di baris ini karena di tulisan ini kalian tidak akan menemukan apa-apa selain kebingungan. dan barangkali kekecewaan. karena isi kepalaku sangat berantakan dan seperti inilah jadinya jika pikiran-pikiran di dalamnya dibiarkan berkeliaran. sekali lagi, berhentilah membaca sampai titik ini. aku sudah memperingatkan.

Continue reading “tak ada puisi bulan ini”

Puisi-puisi November

1/ menyinggahi matamu

izinkan aku untuk menjaga malam dan mengganggumu sebentar saja dengan mengetuk matamu. di ketukan ketiga, kuharap kamu mempersilakanku masuk agar kamu tidak lagi bermimpi seorang diri.

aku memeluk sebuah toples kaca dan kuharap kamu bertanya perihal isinya agar aku bisa menjawabnya—hadiah untukmu. aku menyimpan hujan dan senja di dalamnya, dua hal yang dapat kamu temukan dengan mudah dalam sebuah puisi.

kutambahkan degup seorang pria yang baru saja berhujan-hujanan bersama kekasihnya saat aku masih di perjalanan menuju matamu. kupinta sekalian gigil sang kekasih dan ia memberiku gemeretak giginya—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bergetar di pelukanku. kupetik sedikit demi sedikit bau hujan di taman berharap kamu tersenyum ketika menghirupnya.

kuhubungi teman-temanmu dan meminta sepotong binar di mata mereka saat mengenang waktu-waktu bersamamu. tawa yang tak bisa mereka sembunyikan juga kusisipkan sekalian—sekarang kamu tahu mengapa toples ini bernyanyi di dadaku. kuberikan toples ini kepadamu berharap kamu tidak kesepian saat aku memutuskan pergi dari matamu.

Continue reading “Puisi-puisi November”

Puisi-puisi Oktober

1/ pulang ke tanganmu

aku ingin terlelap di atas lekuk tanganmu dan terbaca selamanya sebagai masa depanmu. berayun ke depan dan belakang mengikuti ke mana angin membawamu pulang. air matamu akan menari bersamaku dan detak di dadamu kelak mengiringi tiap kali kau memeluk dirimu sendiri.

aku ingin terbangun di balik lekuk merah jambu di bawah hidungmu. berjalan ke depan dan belakang mengelilingi jejak wangi tubuhku. sebelum lelah, matamu akan mengajakku singgah dan bersama air mata, aku kelak diantar pulang ke rumah.

kembali, ke telapak tanganmu.

Continue reading “Puisi-puisi Oktober”

Puisi-puisi September

1/ kening, tempat segala kenang

ceritakan kepadaku bagaimana kamu melihatku untuk pertama kali, karena aku melihatmu sebagai seseorang yang ingin

kukenang keningnya
                   keningnya kukenang
kenangnya kukening
                     kukening kenangnya

berulang
kali

agar tak ada yang perlu kamu tangisi lagi.

Continue reading “Puisi-puisi September”