“Mereka Benar-benar Pemberani.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra kedua yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Pernah suatu waktu salah seorang adikku menghampiri dan berbicara empat mata perihal depresi. Ia khawatir sedang mengidapnya karena ia merasakan berbagai gejala pada dirinya. Isi kepalanya seringkali kusut, banyak hal membuatnya takut, tampak luar ia tetap beraktivitas seperti biasa sesuai tanggung jawabnya meski sebenarnya tidak ada lagi hal yang menarik minatnya, berkali-kali menyalahkan diri atas berbagai kesalahan di masa lalu hingga merasa dirinya tak bernilai lagi, sampai akhirnya gagasan untuk menyakiti diri dan bunuh diri muncul berulang kali.

Aku tidak bisa memberikan diagnosis tentu saja, sehingga kuberikan seluruh waktu dan perhatian yang kupunya untuknya. Aku senang ia memilih untuk tidak melakukannya ketika pikiran bunuh diri itu menghampirinya, tidak bisa kubayangkan seandainya hal itu terjadi. Aku pun senang ia memilih untuk menghampiri dan menceritakan semuanya kepadaku. Sambil mengucapkan mantra pertama kepadanya, aku turut meyakinkan untuk pergi ke psikolog bersama-sama bila kami punya uang dan waktu kelak.  Continue reading ““Mereka Benar-benar Pemberani.””

Advertisements

“Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.”

PicsArt_07-26-05.54.34.jpg
Ilustrasi oleh: Nadia Kirana alias Kintut alias IWP 29075 MB.

Ditulis dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia) pada tanggal 10 September. Berikut merupakan mantra pertama yang selalu kutanamkan untuk memperdalam pemahaman terkait isu bunuh diri tersebut.

***

Mereka pikir aku hendak bunuh diri ketika aku meminta izin untuk pergi dan tidak perlu dicari. “Hati-hati,” demikian mereka menanggapi. Tidak ada pertanyaan selanjutnya. Tidak ada paksaan untuk bercerita. Tidak ada larangan untuk pergi. Sepenuhnya mereka memahami bahwa saat itu aku membutuhkan waktu bagi diriku sendiri.

Dan satu alasan mengapa sejak dulu aku tidak pernah meragukan mereka sebagai tempatku berbagi isi hati adalah karena kami sepenuhnya sepakat bahwa semua yang terjadi di internal kami akan tetap bertahan di internal kami. Belum pernah ada yang melanggar ini.

Beberapa bulan setelahnya, barulah mereka bercerita semuanya. Bahwa mereka membuat multi chat tanpaku untuk membahas ini, bahwa mereka khawatir karena aku tidak kunjung muncul di group chat, dan bahwa mereka senang melihatku kembali pulang (karena akhirnya mereka bisa memberikan kejutan ulang tahun yang lebih mewah ketimbang lagu ‘Sampai Jadi Debu’ di group chat—yang sejujurnya sudah lebih dari cukup).

Pembicaraan ini terangkat karena beberapa dari kami rupanya sempat dan masih memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Kami mendengarkan dengan saksama, dan seperti biasa, memberikan masukan yang jauh lebih menenangkan dari yang dibutuhkan. Salah satu tanggapan yang paling kuingat dan kupikir bisa menjadi benang merah dari dinamika pembicaraan kami adalah pernyataan yang entah keluar dari mulut siapa.

“Ajak aku bunuh diri bersamamu.”

Kurang lebih seperti itu.

***

Continue reading ““Ajak Aku Bunuh Diri Bersamamu.””

Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

IMG_6854

Sebelum membaca lebih jauh, pertama-tama, ketahuilah bahwa sebelum kamu memintaku menulis sebuah surat di hari ulang tahunmu, aku telah lebih dulu berencana untuk melakukannya sejak beberapa waktu menjelang hari bahagiamu itu. Aku telah memikirkan apa yang hendak kusampaikan sejelas mungkin, layaknya bayangan masa lalu di dalam kepalaku. Dan di dalam pikiranku tersebut, aku membayangkan akan membuka surat ini dengan sebuah adegan percakapan antara Tom Hansen dan Summer Finn, dua karakter utama dalam film yang rupanya sangat kamu sukai: (500) Days of Summer.

Continue reading “Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan”

Selamanya.

Goncangan akibat bertemunya roda pesawat dengan landasan bandara membangunkanku dari tidur paling singkat yang pernah kualami. Tiga puluh menit dari total waktu perjalanan yang enggan kusebutkan. Di pangkuanku, tersandar buku klasik The Origin of Species karya Charles Darwin yang kubeli di sebuah kota seharga 55.000 rupiah saja.

Di grup LINE dengan dua belas anggota—aku, Alief, Anggit, Dian, Fandi, Kevin, Kusnanta, Miw, Novita, Yoga, Zeniar, Zizi—ada sebuah daftar krusial yang kami susun sekitar bulan November 2017 lalu. Daftar tersebut diberi nama “BUKU YANG INGIN KITA BELI” dan seperti judulnya, daftar itu memang memuat rincian buku-buku yang secara impulsif ingin kami beli dan miliki. Selain memperkaya isi kepala, kami juga memiliki mimpi untuk bisa membangun perpustakaan bersama.

Salah satu buku dalam daftar tersebut adalah The Origin of Species yang, selain diminati olehku, juga diminati oleh Alief, Dian, dan Yoga. Maka, ketika aku menemukan buku itu dalam versi Bahasa Inggris dengan harga yang sangat terjangkau, mau tidak mau aku langsung membelinya (dan memamerkannya kepada mereka).

Sayang sekali aku justru tertidur di dalam pesawat ketika baru membaca beberapa halaman saja. Saat pesawat akhirnya benar-benar berhenti dan pilot mempersilakan para penumpang untuk turun, aku bergegas melepas sabuk pengaman dan menutup buku yang tertelungkup di pangkuanku itu. Aku mengingat-ingat halaman terakhir yang kubaca karena tidak ada pembatas buku sama sekali sementara aku sangat menghindari melipat halaman buku untuk menandai bacaanku.

Aku melangkah pelan seraya menghirup udara di luar pesawat dan mengembuskannya dengan perasaan lega.

Surabaya. Lagi.

***

Continue reading “Selamanya.”

Cahaya dari Punti Kayan: Sebuah Prolog

Sebelum bertolak ke Desa Mata Pyawu, Kec. Wewewa Timur, Sumba Barat Daya dan Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kec. Entikong, Kalimantan Barat, aku telah menyelesaikan sebuah kumpulan cerpen berjudul Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya karya Raka Ibrahim. Salah satu kisah dalam buku itu, Gambar Bergerak, kubaca lebih dari sekali karena mengingatkanku akan sebuah film yang sepertinya menjadi referensi kisah tersebut: Eternal Sunshine of the Spotless Mind—film yang sangat kugemari.

Dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind, setiap orang bisa menghapus kenangan mereka akan orang tertentu dengan bantuan sebuah perusahaan yang memang menyediakan jasa di bidang tersebut. Hanya dalam waktu semalam, seluruh ingatan akan seseorang yang pernah hadir dalam hidup mereka bisa lenyap begitu saja tanpa sisa. Esok dan seterusnya, mereka yang dihapus ingatannya tetap bisa menjalani hari seperti biasa, tanpa pernah menyadari ada seseorang yang hilang dalam hidup mereka.  Continue reading “Cahaya dari Punti Kayan: Sebuah Prolog”

Menggenggam Tanah Papua: Wajah-wajah di Pelabuhan

Berbicara mengenai pertemuan-pertemuan, harus kuakui bahwa sejujurnya aku mengingat wajah lebih baik ketimbang nama-nama. Ketika aku bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya, lalu berkenalan, mataku menangkap respon lebih cepat dibanding daun telinga. Aku merekam wajah (warna mata, bentuk alis, tahi lalat, model rambut, gerak bibir), gestur tubuh (tangan di dada, menyilangkan kaki, menggaruk kepala), hingga pakaian dan aksesoris yang dikenakan (gaya jilbab, ikat rambut, topi, bentuk kacamata, letak jam tangan, warna baju, jenis sepatu). Tapi seringkali aku justru gagal mengingat sesuatu yang tidak kalah esensial: nama.

Aku tidak jarang merasa bersalah ketika bertemu seseorang untuk kedua atau ketiga kalinya dan dengan mudahnya melupakan nama tapi mengingat wajah mereka dan apa yang mereka kenakan saat pertama kali bertemu. Biasanya, mereka akan tertawa dan memperkenalkan diri kembali. Jika beruntung, aku akan mengingat namanya selalu. Jika tidak, aku akan melupakannya tanpa sadar sampai akhirnya kembali bertemu.

Continue reading “Menggenggam Tanah Papua: Wajah-wajah di Pelabuhan”