Lara dan Kepalanya

Dunia berhenti mengeja tahun selepas 2100. Setelahnya, digunakan sistem penanggalan baru dimulai dari tahun 1 PX. Tidak ada tahun 2101. Tidak ada yang tahu kepanjangan dari PX. Aku sendiri menduga P merupakan singkatan dari pasca, tapi aku benar-benar tidak bisa menebak huruf X setelahnya berarti apa. Sekolah kami tidak mengajarkan sejarah hingga sedalam itu. Pengetahuan tentang masa lalu yang perlu kami semua tahu hanya dua: bahwa tahun-tahun sebelum 1 PX merupakan masa paling kelam dalam sejarah manusia, dan bahwa rekayasa genetika global yang dilakukan pada akhir 2100 merupakan awal dari tatanan dunia yang lebih baik.

Aku tidak tahu wujud manusia sebelum tahun 1 PX, tapi guruku selalu menekankan bahwa wujud kami saat ini adalah wujud yang paling sempurna. Karenanya, kami semua harus berterima kasih kepada rekayasa genetika yang telah mewujudkannya.

Continue reading “Lara dan Kepalanya”

Advertisements

Mengapa Aku Tidak Menulis

Sebenarnya, judul di atas tidak begitu cocok dengan apa yang akan tulisan ini sampaikan. Karena, ini bukan tentang aku berhenti menulis (sulit untuk tidak menulis dalam satu hari) tapi lebih tentang apa yang terjadi di balik kekosongan pada blog ini selama beberapa bulan terakhir.

Sebenarnya lagi, aku tidak begitu merasa perlu menceritakan ini. Tinggal menulis saja lagi dan mempublikasikannya setelah berbulan-bulan tenggelam. Tapi, tidak. Kalian yang senang menulis di luar sana bisa saja merasakan hal ini juga dan memutuskan untuk berhenti. Dan sebelum itu terjadi, izinkan aku untuk berbagi.

Continue reading “Mengapa Aku Tidak Menulis”

Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015

Sabtu lalu, aku membeli Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 dengan judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” sebagai salah satu bacaan untuk menghabiskan waktu saat Kerja Praktik (KP) di Trenggalek selama dua bulan, yang dimulai sejak Senin kemarin. Kenyataan yang terjadi adalah, rupanya aku selesai melahapnya dalam waktu dua hari. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya, mengingat seluruh cerpen yang pernah dimuat harian KOMPAS jarang sekali mengecewakanku (karena di sini aku menyebutkan jarang, maka tentu saja ada beberapa yang tidak memenuhi seleraku) terlebih lagi cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini begitu berkarakter dan mengalir sehingga, sulit rasanya untuk meletakkannya sebelum habis terbaca jika saja aku tidak ingat keharusan untuk membuat laporan KP setiap malam.

Meski aku tidak dibesarkan bersama cerpen-cerpen KOMPAS, aku bisa mengerti bahwa setiap karya yang dimuat selalu mengandung nilai serta pesan kemanusiaan yang nyata meski tidak selalu digambarkan secara realis dan gamblang. Bahkan, hampir semua yang pernah kubaca cenderung bergaya surealis, irasional, dan terkadang juga perlu diselami lebih dalam lantaran apa yang hendak disampaikan penulis tersembunyi jauh di dasar. Itulah yang membuat cerpen-cerpen KOMPAS khas dan penuh karakter meskipun diutarakan oleh banyak penulis dari Sabang sampai Merauke.

Cerpen-cerpen KOMPAS mampu menyingkap banyak kegelisahan, permasalahan, kemarahan, juga ironi yang banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Tanah Air. Berbeda dengan berita, aku merasa justru cerpen-cerpen ini lebih menohok dan jujur. Mereka menyajikan kepingan peristiwa melalui sebuah narasi yang apa adanya, terkadang jenaka, penuh ironi, atau pun menggelitik, dan hal itu justru membuatnya semakin getir dan menyentuh. Bahkan Efix Mulyadi, salah seorang juri dalam penentuan Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, turut menyatakan dalam kata pengantarnya: Justru lewat karya sastra hakikat ketertindasan itu lebih muncul secara penuh. Aku harap tidak berlebihan bila kukatakan bahwa cerpen KOMPAS tidak hanya dapat dinikmati sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi refleksi dan bahan perenungan bagi mereka yang membacanya.

Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 yang memuat dua puluh tiga cerpen ini, secara khusus Efix Mulyadi memberi judul pada kata pengantarnya, “Yang Tersisih dan yang Dikorbankan” karena memang, hal itulah yang menjadi benang merah dari dua puluh tiga karya tersebut. Dan secara khusus pula, aku membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi atas beberapa karya yang kuanggap paling menyita perhatianku. Semua yang termuat tentu memberikan kesan tersendiri bagiku namun, tidak semuanya dapat kuinterpretasikan saat ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan, juga pengalaman. Oleh karenanya, hanya beberapa karya yang kuulas di sini. Bila kau khawatir ulasanku akan mengganggu kenikmatanmu yang baru hendak membaca Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, aku sarankan kau berhenti membaca di sini. Continue reading “Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015”