Mengenang Sekali Lagi

Malam ini adalah malam tarawih pertama untuk beberapa (jika tidak semua) kalangan muslim Indonesia. Maka, tidak mengherankan apabila sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sidoarjo tadi pandanganku menyapu orang-orang yang berjejalan tak keruan menuju masjid. Mulai dari para ibu dan anak-anak gadisnya dengan mukena bermotif bunga-bunga, juga para bapak dan segerombolan pemuda dengan baju koko dan sarung terbaiknya. Tak lupa pula disematkan peci untuk melengkapi penampilan mereka. Semua tampak penuh sukacita menyambut bulan suci Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu kusaksikan pemandangan serupa meski di tempat yang berbeda-beda. Aku sempat dikejutkan dengan suara petasan yang meledak di sekitar motorku saat aku melambatkan laju motorku untuk menoleh sedikit ke arah masjid yang bahkan serambinya mulai tidak mampu menampung lebih banyak orang lagi. Sejurus kemudian, segerombolan anak terdengar tertawa-tawa mengetahui petasan yang mereka lemparkan berhasil mengejutkan seseorang. Aku melengos saja sambil ikut tertawa dalam hati, menerawang dan bernostalgia ketika aku melakukan hal yang sama saat seusia mereka.

Di setiap masjid yang kulewati, kondisinya tidak jauh berbeda. Semuanya penuh jamaah, sampai-sampai alas tambahan seperti tikar dan terpal perlu digelar di luar masjid agar mampu memuat mereka yang tidak bisa beribadah di dalam. Di masjid berikutnya, rupanya ibadah Isya’ telah dimulai dan secara serentak, seluruh jamaah mengikuti gerakan imam dengan khusyuk, sejauh yang dapat kulihat. Selang beberapa lama, ketika aku tiba di wilayah perumahanku di Sidoarjo, kudapati masjid dekat rumahku telah menunaikan ibadah tarawih dengan tak kalah khusyuknya. Continue reading “Mengenang Sekali Lagi”

Advertisements

Merenung Sekali Lagi

“Aku sering diberitahu bahwa ketidakpercayaanku ini memastikan diriku kehilangan surga dan berakhir di neraka. Tapi surganya siapa? Nerakanya siapa?

Aku sering diberitahu bahwa untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku percaya Tuhan saja, karena toh aku tidak rugi apa-apa. Tapi Tuhan yang mana?

Dengan pilihan sebanyak itu, bukankah lebih besar kemungkinannya aku salah pilih? Tidakkah lebih baik aku bertaruh tak ada Tuhan ketimbang bertaruh pada Tuhan yang salah?

Kau bilang padaku, “Bagaimana kalau kau yang salah?” Tapi bagaimana kalau kau yang salah?

Sebenarnya, kau sudah tahu bagaimana rasanya tidak percaya pada semua Tuhan kecuali Tuhanmu sendiri. Bagimu, jelas bahwa para penganut agama lain itu keliru, tersesat, atau tertipu. Tapi mereka berpikir yang sama juga tentangmu.”

Dikutip dari video “Dear Believer: Why Do You Believe?” terjemahan Indonesia (link video asli: http://www.youtube.com/watch?v=xl_TrvIIcBY)

Isyarat Batas

Jika bukan karena
semburat senja yang tenggelam di hangat bibirmu
dan hamparan lembayung yang menunduk malu
samar-samar terganti gemulung kelabu

Katakan padaku
akankah kau tetap memilih ‘tuk bergegas
biarkan genggam ini terhempas?

Jika bukan karena
kemilau pasir yang memudar di tiap bisiknya
serta gaung yang diteriakkan gelapnya samudera
syahdu iringi gemintang berdansa

Aku benar ragu
kita akan berhenti dan memutar langkah
tinggalkan jejak yang gemakan pasrah

Dan jika bukan karena
hembus angin yang menelusup di sela peluk
juga purnama yang titahkan surya ‘tuk bungkuk
sebagaimana kita yang kepada-Nya tunduk

Yakinkan aku
tasbihmu malam ini mendengar nama kita
seperti tirthaku yang lelah menjadi saksi atas tiap doa

Surabaya, 17 Januari 2016
Menunggu purnama tiba
(dan kamu, yang bersimpuh di bawah teduhnya)