Mengapa Aku Kembali Menulis

Selama tidak menulis, aku berselancar ke dunia lain tanpa tahu kapan akan menulis lagi. Aku semakin menenggelamkan diri dalam LKMM TM terhitung sejak Oktober hingga Mei lalu. Berkejaran dengan timeline yang padat, mengurus konsep ini itu, teknis ini itu, seleksi ini itu, persiapan fakultas ini itu, semua persiapan dikerjakan dalam rentang waktu paling cepat satu bulan untuk setiap fakultas dengan pelaksanaan utuh lima hari saja. Dan jarak dari pelaksanaan fakultas satu dengan fakultas lainnya hanya dua minggu. Untungnya dikerjakan dengan cinta.

Aku menghabiskan waktu (dan uang) setiap awal bulan untuk membeli berbagai buku yang bahkan sampai sekarang beberapa masih tersegel dengan rapi. Tanpa mengecek rak buku, aku memperkirakan jumlah buku yang kubeli selama tiga-empat bulan itu ada lebih dari sepuluh buku. Jumlah yang cukup fantastis untuk mahasiswa melarat sepertiku. Beberapa di antaranya Semua Ikan di Langit, Botchan, My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry, The Seven Good Years, Perahu Kertas (tolong jangan ditertawakan), National Geographic Indonesia, 24 Jam Bersama Gaspar, The Geography of Faith, The Old Man and the Sea, dan masih banyak sisanya yang aku tidak ingat judulnya karena sama sekali belum kubaca.

Setiap kali membuka laptop, aku membuka semua situs dalam satu waktu. Facebook, Instagram, Youtube, Medium, Gmail, Tumblr, dan situs lainnya pada tab yang berbeda-beda. Aku tidak punya prioritas. Dan aku juga tidak tahu apa yang kucari sebenarnya. Terkadang aku juga terkagum-kagum sendiri setiap kali menemukan hal yang menarik dari dunia yang hanya sebatas layar 14 inci ini. Pernah aku menelusuri kolom komentar Facebook seseorang yang sedang membahas isu tertentu, dan tertawa-tawa sendiri membacanya. Pernah juga secara tidak sadar terjebak di kanal konspirasi pada situs Youtube (padahal awalnya aku membuka kanal squishy). Terkadang aku juga terheran-heran karena memiliki waktu untuk mengakses semua situs, kecuali WordPress.

Continue reading “Mengapa Aku Kembali Menulis”

Advertisements

Mengapa Aku Menulis

Aku mengenal rupa dari kata-kata untuk pertama kali ketika berusia tiga tahun. Saat itu aku melihat simbol-simbol tak dikenal pada pelat mobil yang ternyata merupakan huruf dan angka. Aku belajar bersama ayah dengan bekal rasa penasaran selayaknya anak kecil, dan menggunakan kemampuan baruku itu untuk diam-diam membaca surat-surat yang saling dikirimkan ayah dan ibu ketika muda dulu.

Beranjak ke taman kanak-kanak, kegemaranku pada tulisan membawaku menjadi juara tiga lomba puisi entah tingkat apa. Aku bahkan tidak ingat apa yang kutulis dan kubaca, aku hanya ingat berangkat dan pulang dari tempat lomba bersama ibu. Continue reading “Mengapa Aku Menulis”

Mengapa Aku Tidak Menulis

Sebenarnya, judul di atas tidak begitu cocok dengan apa yang akan tulisan ini sampaikan. Karena, ini bukan tentang aku berhenti menulis (sulit untuk tidak menulis dalam satu hari) tapi lebih tentang apa yang terjadi di balik kekosongan pada blog ini selama beberapa bulan terakhir.

Sebenarnya lagi, aku tidak begitu merasa perlu menceritakan ini. Tinggal menulis saja lagi dan mempublikasikannya setelah berbulan-bulan tenggelam. Tapi, tidak. Kalian yang senang menulis di luar sana bisa saja merasakan hal ini juga dan memutuskan untuk berhenti. Dan sebelum itu terjadi, izinkan aku untuk berbagi.

Continue reading “Mengapa Aku Tidak Menulis”

Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015

Sabtu lalu, aku membeli Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 dengan judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” sebagai salah satu bacaan untuk menghabiskan waktu saat Kerja Praktik (KP) di Trenggalek selama dua bulan, yang dimulai sejak Senin kemarin. Kenyataan yang terjadi adalah, rupanya aku selesai melahapnya dalam waktu dua hari. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya, mengingat seluruh cerpen yang pernah dimuat harian KOMPAS jarang sekali mengecewakanku (karena di sini aku menyebutkan jarang, maka tentu saja ada beberapa yang tidak memenuhi seleraku) terlebih lagi cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini begitu berkarakter dan mengalir sehingga, sulit rasanya untuk meletakkannya sebelum habis terbaca jika saja aku tidak ingat keharusan untuk membuat laporan KP setiap malam.

Meski aku tidak dibesarkan bersama cerpen-cerpen KOMPAS, aku bisa mengerti bahwa setiap karya yang dimuat selalu mengandung nilai serta pesan kemanusiaan yang nyata meski tidak selalu digambarkan secara realis dan gamblang. Bahkan, hampir semua yang pernah kubaca cenderung bergaya surealis, irasional, dan terkadang juga perlu diselami lebih dalam lantaran apa yang hendak disampaikan penulis tersembunyi jauh di dasar. Itulah yang membuat cerpen-cerpen KOMPAS khas dan penuh karakter meskipun diutarakan oleh banyak penulis dari Sabang sampai Merauke.

Cerpen-cerpen KOMPAS mampu menyingkap banyak kegelisahan, permasalahan, kemarahan, juga ironi yang banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Tanah Air. Berbeda dengan berita, aku merasa justru cerpen-cerpen ini lebih menohok dan jujur. Mereka menyajikan kepingan peristiwa melalui sebuah narasi yang apa adanya, terkadang jenaka, penuh ironi, atau pun menggelitik, dan hal itu justru membuatnya semakin getir dan menyentuh. Bahkan Efix Mulyadi, salah seorang juri dalam penentuan Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, turut menyatakan dalam kata pengantarnya: Justru lewat karya sastra hakikat ketertindasan itu lebih muncul secara penuh. Aku harap tidak berlebihan bila kukatakan bahwa cerpen KOMPAS tidak hanya dapat dinikmati sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi refleksi dan bahan perenungan bagi mereka yang membacanya.

Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 yang memuat dua puluh tiga cerpen ini, secara khusus Efix Mulyadi memberi judul pada kata pengantarnya, “Yang Tersisih dan yang Dikorbankan” karena memang, hal itulah yang menjadi benang merah dari dua puluh tiga karya tersebut. Dan secara khusus pula, aku membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi atas beberapa karya yang kuanggap paling menyita perhatianku. Semua yang termuat tentu memberikan kesan tersendiri bagiku namun, tidak semuanya dapat kuinterpretasikan saat ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan, juga pengalaman. Oleh karenanya, hanya beberapa karya yang kuulas di sini. Bila kau khawatir ulasanku akan mengganggu kenikmatanmu yang baru hendak membaca Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, aku sarankan kau berhenti membaca di sini. Continue reading “Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015”