Selamat Setahun, Safari!

Ketika aku berkata bahwa kalian seperti adik-adikku, aku tidak hanya menyiratkan perbedaan angkatan di antara kita dengan aku yang lebih tua dan kalian yang lebih muda. Aku tidak menyatakan bahwa aku dewasa sementara kalian tidak. Aku tidak bermaksud merendahkan dan mengatakan bahwa aku yang paling tahu segalanya.

Tidak, sama sekali tidak.

Yang sebenarnya hendak kukatakan adalah, sama seperti adik-adikku, kalian merupakan kepingan-kepingan fragmen yang saling menyempurnakan. Seperti adik-adikku, tidak ada istilah yang satu lebih dewasa dari yang lainnya. Kami semua justru saling mendewasakan. Sama seperti yang kulihat dalam diri kalian. Dari kalian, aku belajar banyak hal. Dan semoga, ada hal yang dapat kalian pelajari juga dariku.

DSC_0502-01.jpeg

Continue reading “Selamat Setahun, Safari!”

Advertisements

Tahan Baramu, Tanreren

Ketiga adik laki-lakiku lahir pada bulan Agustus. Iqra’ (almarhum) lahir pada tanggal 31 di tahun 1999, satu tahun setelahnya Tanreren menyapa dunia di tanggal 24, dan lima tahun kemudian Ganesha bergabung di tanggal 10. Aku sendiri lahir di antara adik-adik perempuanku: Arum di bulan November, aku di bulan Desember, Langgam di bulan Januari, dan Mawar di bulan Februari.

Atas kebetulan-kebetulan (yang dipaksakan) itu, sepertinya wajar jika aku lebih dekat dengan adik-adik perempuanku dibandingkan dengan Ganesha dan Tanreren. Namun sebenarnya, dengan Ganesha, aku tidak terlalu jauh juga mengingat ia selalu terbuka tentang segalanya. Mulai dari tugas-tugas sekolah, soal-soal olimpiade, rencana-rencana masa depannya, sampai tips-tips menjadi pengurus OSIS, selalu jadi bahan diskusi kami setiap bertemu.

Sementara dengan Tanreren, hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan kapan kami akan saling memahami. Dalam banyak hal, Tanreren adalah antitesisku. Ia pecinta kopi, sedangkan aku, minum kopi sedikit saja jantung sudah berdebar tak keruan. Ia seorang gamer, sementara aku, tertarik bermain game saja tidak. Ia merokok, aku tidak (tapi penasaran). Ia suka kebut-kebutan, sementara aku tidak pernah menembus 70 km/jam. Ia senang olahraga khususnya skateboard, aku boro-boro. Dan masih banyak daftar perbedaan di antara kami yang tidak akan habis diceritakan. Poinnya adalah, lantaran perbedaan-perbedaan itu, memahaminya membutuhkan usaha yang sedikit lebih ekstra.

***

Continue reading “Tahan Baramu, Tanreren”

Tetaplah Lapar, Ganesha

Tanggal sepuluh kemarin, Ganesha menginjak usia 11 tahun. Namun sayangnya, lantaran masih melakukan Kerja Praktik (KP) di Trenggalek, aku tidak bisa merayakan hari besar itu bersamanya di Sidoarjo sehingga aku hanya memberinya ucapan selamat melalui pesan singkat. Ada sedikit perasaan aneh yang merayapi hati setiap kali adik-adikku berulang tahun, rasanya seperti ketika kamu tak bisa tidur di malam hari dan merenung betapa cepatnya waktu merubahmu padahal satu hari yang lalu kamu hanyalah seorang anak yang menggambar dua gunung bersisian dengan matahari terbenam di antara keduanya. Melihat adik-adikku bertambah usia juga memberikan perasaan yang sama. Aku hanya berpaling sekian detik ketika menggendong mereka, dan tiba-tiba—poof!—mereka sudah bisa berdiri dan berlari ke sana dan kemari.

Ganesha, sejauh yang kuingat, adalah seorang anak kecil berkepala besar (secara harfiah) yang senang bergerak ke mana pun ia mau. Ketika kecil, ia gemar berjalan dan berlari di seluruh penjuru rumah dan baru akan berhenti ketika terjatuh. Ia juga senang menguji kemampuannya dengan memanjat kursi, tempat tidur, meja makan, meja kerja, dan baru akan berhenti pula ketika terjatuh. Aku rasa itu sudah cukup menjelaskan fenomena kepalanya yang besar. Continue reading “Tetaplah Lapar, Ganesha”

Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015

Sabtu lalu, aku membeli Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 dengan judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” sebagai salah satu bacaan untuk menghabiskan waktu saat Kerja Praktik (KP) di Trenggalek selama dua bulan, yang dimulai sejak Senin kemarin. Kenyataan yang terjadi adalah, rupanya aku selesai melahapnya dalam waktu dua hari. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya, mengingat seluruh cerpen yang pernah dimuat harian KOMPAS jarang sekali mengecewakanku (karena di sini aku menyebutkan jarang, maka tentu saja ada beberapa yang tidak memenuhi seleraku) terlebih lagi cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini begitu berkarakter dan mengalir sehingga, sulit rasanya untuk meletakkannya sebelum habis terbaca jika saja aku tidak ingat keharusan untuk membuat laporan KP setiap malam.

Meski aku tidak dibesarkan bersama cerpen-cerpen KOMPAS, aku bisa mengerti bahwa setiap karya yang dimuat selalu mengandung nilai serta pesan kemanusiaan yang nyata meski tidak selalu digambarkan secara realis dan gamblang. Bahkan, hampir semua yang pernah kubaca cenderung bergaya surealis, irasional, dan terkadang juga perlu diselami lebih dalam lantaran apa yang hendak disampaikan penulis tersembunyi jauh di dasar. Itulah yang membuat cerpen-cerpen KOMPAS khas dan penuh karakter meskipun diutarakan oleh banyak penulis dari Sabang sampai Merauke.

Cerpen-cerpen KOMPAS mampu menyingkap banyak kegelisahan, permasalahan, kemarahan, juga ironi yang banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Tanah Air. Berbeda dengan berita, aku merasa justru cerpen-cerpen ini lebih menohok dan jujur. Mereka menyajikan kepingan peristiwa melalui sebuah narasi yang apa adanya, terkadang jenaka, penuh ironi, atau pun menggelitik, dan hal itu justru membuatnya semakin getir dan menyentuh. Bahkan Efix Mulyadi, salah seorang juri dalam penentuan Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, turut menyatakan dalam kata pengantarnya: Justru lewat karya sastra hakikat ketertindasan itu lebih muncul secara penuh. Aku harap tidak berlebihan bila kukatakan bahwa cerpen KOMPAS tidak hanya dapat dinikmati sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi refleksi dan bahan perenungan bagi mereka yang membacanya.

Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 yang memuat dua puluh tiga cerpen ini, secara khusus Efix Mulyadi memberi judul pada kata pengantarnya, “Yang Tersisih dan yang Dikorbankan” karena memang, hal itulah yang menjadi benang merah dari dua puluh tiga karya tersebut. Dan secara khusus pula, aku membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi atas beberapa karya yang kuanggap paling menyita perhatianku. Semua yang termuat tentu memberikan kesan tersendiri bagiku namun, tidak semuanya dapat kuinterpretasikan saat ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan, juga pengalaman. Oleh karenanya, hanya beberapa karya yang kuulas di sini. Bila kau khawatir ulasanku akan mengganggu kenikmatanmu yang baru hendak membaca Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, aku sarankan kau berhenti membaca di sini. Continue reading “Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015”

Mengenang Sekali Lagi

Malam ini adalah malam tarawih pertama untuk beberapa (jika tidak semua) kalangan muslim Indonesia. Maka, tidak mengherankan apabila sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sidoarjo tadi pandanganku menyapu orang-orang yang berjejalan tak keruan menuju masjid. Mulai dari para ibu dan anak-anak gadisnya dengan mukena bermotif bunga-bunga, juga para bapak dan segerombolan pemuda dengan baju koko dan sarung terbaiknya. Tak lupa pula disematkan peci untuk melengkapi penampilan mereka. Semua tampak penuh sukacita menyambut bulan suci Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu kusaksikan pemandangan serupa meski di tempat yang berbeda-beda. Aku sempat dikejutkan dengan suara petasan yang meledak di sekitar motorku saat aku melambatkan laju motorku untuk menoleh sedikit ke arah masjid yang bahkan serambinya mulai tidak mampu menampung lebih banyak orang lagi. Sejurus kemudian, segerombolan anak terdengar tertawa-tawa mengetahui petasan yang mereka lemparkan berhasil mengejutkan seseorang. Aku melengos saja sambil ikut tertawa dalam hati, menerawang dan bernostalgia ketika aku melakukan hal yang sama saat seusia mereka.

Di setiap masjid yang kulewati, kondisinya tidak jauh berbeda. Semuanya penuh jamaah, sampai-sampai alas tambahan seperti tikar dan terpal perlu digelar di luar masjid agar mampu memuat mereka yang tidak bisa beribadah di dalam. Di masjid berikutnya, rupanya ibadah Isya’ telah dimulai dan secara serentak, seluruh jamaah mengikuti gerakan imam dengan khusyuk, sejauh yang dapat kulihat. Selang beberapa lama, ketika aku tiba di wilayah perumahanku di Sidoarjo, kudapati masjid dekat rumahku telah menunaikan ibadah tarawih dengan tak kalah khusyuknya. Continue reading “Mengenang Sekali Lagi”

Merenung Sekali Lagi

“Aku sering diberitahu bahwa ketidakpercayaanku ini memastikan diriku kehilangan surga dan berakhir di neraka. Tapi surganya siapa? Nerakanya siapa?

Aku sering diberitahu bahwa untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku percaya Tuhan saja, karena toh aku tidak rugi apa-apa. Tapi Tuhan yang mana?

Dengan pilihan sebanyak itu, bukankah lebih besar kemungkinannya aku salah pilih? Tidakkah lebih baik aku bertaruh tak ada Tuhan ketimbang bertaruh pada Tuhan yang salah?

Kau bilang padaku, “Bagaimana kalau kau yang salah?” Tapi bagaimana kalau kau yang salah?

Sebenarnya, kau sudah tahu bagaimana rasanya tidak percaya pada semua Tuhan kecuali Tuhanmu sendiri. Bagimu, jelas bahwa para penganut agama lain itu keliru, tersesat, atau tertipu. Tapi mereka berpikir yang sama juga tentangmu.”

Dikutip dari video “Dear Believer: Why Do You Believe?” terjemahan Indonesia (link video asli: http://www.youtube.com/watch?v=xl_TrvIIcBY)

Kerdil

Semakin sering aku belajar, semakin banyak aku tahu, semakin luas wawasan dan pengalamanku, semakin banyak orang yang singgah dalam perjalanan hidup, di saat yang sama aku semakin merasa kerdil atas semuanya. Semakin aku merasa tidak ada apa-apanya dan jauh tertinggal dibanding yang lain.

Namun di saat yang sama pula, aku semakin terpacu. Bukan untuk menjadi lebih superior atas yang lain, bukan juga untuk berkompetisi dalam parameter semu yang hanya dirasa diri sendiri. Melainkan terpacu untuk mempertahankan pandangan positif atas setiap potensi orang lain, terus memupuk potensi diri, dan mencoba perlahan menghilangkan perasaan kerdil atas diri.

Karena perasaan rendah yang berlebihan tentu tidak akan mengantarku maju kemanapun.