Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan

“Yang indah dari Papua apa, sih?” Aku dan Sistha bertanya kepada wajah-wajah lugu di sekeliling kami.

Satu per satu dari mereka menjawab,
“Hutannya!”
“Lautnya!”
“Rusa-rusa!”
“Sungainya!”
“Sungai yang ada buayanya!”

Semua tertawa mendengar jawaban terakhir. Kami kebingungan di antara dua kemungkinan: apakah segala hal menjadi begitu indah di Papua atau justru semua kombinasi unik itu yang menjadikan Papua indah.

Continue reading “Tanah Papua — Kepingan Kecil Bernama Tanusan”

Advertisements

Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar

Aku, Arief, Cycy, Juwandy, dan Sistha adalah lima karakter dengan jalan hidup berbeda yang dipertemukan semesta di persimpangan yang sama. Persimpangan itu berupa jalanan terjal penuh batu dan liku di sudut Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Dikelilingi oleh cuaca ekstrem dan ganasnya lautan, persimpangan tersebut bernama Desa Tanusan.  Continue reading “Mengapa Tanusan? — Sebuah Daftar Putar”

Selamanya.

Goncangan akibat bertemunya roda pesawat dengan landasan bandara membangunkanku dari tidur paling singkat yang pernah kualami. Tiga puluh menit dari total waktu perjalanan yang enggan kusebutkan. Di pangkuanku, tersandar buku klasik The Origin of Species karya Charles Darwin yang kubeli di sebuah kota seharga 55.000 rupiah saja.

Di grup LINE dengan dua belas anggota—aku, Alief, Anggit, Dian, Fandi, Kevin, Kusnanta, Miw, Novita, Yoga, Zeniar, Zizi—ada sebuah daftar krusial yang kami susun sekitar bulan November 2017 lalu. Daftar tersebut diberi nama “BUKU YANG INGIN KITA BELI” dan seperti judulnya, daftar itu memang memuat rincian buku-buku yang secara impulsif ingin kami beli dan miliki. Selain memperkaya isi kepala, kami juga memiliki mimpi untuk bisa membangun perpustakaan bersama.

Salah satu buku dalam daftar tersebut adalah The Origin of Species yang, selain diminati olehku, juga diminati oleh Alief, Dian, dan Yoga. Maka, ketika aku menemukan buku itu dalam versi Bahasa Inggris dengan harga yang sangat terjangkau, mau tidak mau aku langsung membelinya (dan memamerkannya kepada mereka).

Sayang sekali aku justru tertidur di dalam pesawat ketika baru membaca beberapa halaman saja. Saat pesawat akhirnya benar-benar berhenti dan pilot mempersilakan para penumpang untuk turun, aku bergegas melepas sabuk pengaman dan menutup buku yang tertelungkup di pangkuanku itu. Aku mengingat-ingat halaman terakhir yang kubaca karena tidak ada pembatas buku sama sekali sementara aku sangat menghindari melipat halaman buku untuk menandai bacaanku.

Aku melangkah pelan seraya menghirup udara di luar pesawat dan mengembuskannya dengan perasaan lega.

Surabaya. Lagi.

***

Continue reading “Selamanya.”

Cahaya dari Punti Kayan: Sebuah Prolog

Sebelum bertolak ke Desa Mata Pyawu, Kec. Wewewa Timur, Sumba Barat Daya dan Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kec. Entikong, Kalimantan Barat, aku telah menyelesaikan sebuah kumpulan cerpen berjudul Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya karya Raka Ibrahim. Salah satu kisah dalam buku itu, Gambar Bergerak, kubaca lebih dari sekali karena mengingatkanku akan sebuah film yang sepertinya menjadi referensi kisah tersebut: Eternal Sunshine of the Spotless Mind—film yang sangat kugemari.

Dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind, setiap orang bisa menghapus kenangan mereka akan orang tertentu dengan bantuan sebuah perusahaan yang memang menyediakan jasa di bidang tersebut. Hanya dalam waktu semalam, seluruh ingatan akan seseorang yang pernah hadir dalam hidup mereka bisa lenyap begitu saja tanpa sisa. Esok dan seterusnya, mereka yang dihapus ingatannya tetap bisa menjalani hari seperti biasa, tanpa pernah menyadari ada seseorang yang hilang dalam hidup mereka.  Continue reading “Cahaya dari Punti Kayan: Sebuah Prolog”

Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka

Ada satu buku yang selalu kubawa setiap kali aku bepergian jauh. Aku tidak tahu pasti mengapa, aku hanya merasa harus membawanya. Seseorang yang istimewa—aku tahu ini menggelikan tapi aku bingung menentukan padanan kata yang sesuai—memberikannya kepadaku tiga tahun yang lalu.

Semua dimulai ketika aku menulis kutipan dari sebuah film yang baru saja selesai kutonton beberapa menit sebelumnya pada pukul tiga pagi.

“My dad told me that New York once had the Sixth Borough that floated away. They tried to save it but they couldn’t. And it’s never coming back. As much as I want him to, my dad is never coming back. And I thought I couldn’t be without him but now… I know I can. I think that would make my dad proud, which is all I’ve ever wanted.” [1] Continue reading “Perempuan (dan Perasaan) yang Berusaha Kuterka”

Perjalanan Hujan

Jika langit adalah rahim, maka

peluh para buruh yang mengaduh, berteriak dan menggertak dewa-dewa berdasi di atas singgasana yang tertawa mempermainkan hidup mereka, juga

riak sungai dan samudera yang telah memisahkan seorang istri dari suaminya, ayah dari anaknya, dan anak-anak dari masa depannya, juga

tangis para bayi yang bertanya-tanya mengapa sumur dan ladang di desanya tidak jauh berbeda keringnya dengan susu ibu-ibu mereka, juga

rintih batang demi batang pepohonan di tengah kobaran keserakahan yang menggerogoti habis setiap tarikan napas kita, juga

isak tanpa henti di sudut-sudut tergelap bumi atas kelaknatan bajingan yang telah menutup mata akan makna kehormatan

adalah benih
yang menguap bersama harap dan tumbuh

menjadi bayi kecil
bernama hujan:
buah penantian panjang yang lahir tanpa mampu bertanya mengapa di bumi ia harus jatuh.

Surabaya, 20 Maret 2017
Masih menyimpan harap akan tanah ini

Mengenang Sekali Lagi

Malam ini adalah malam tarawih pertama untuk beberapa (jika tidak semua) kalangan muslim Indonesia. Maka, tidak mengherankan apabila sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sidoarjo tadi pandanganku menyapu orang-orang yang berjejalan tak keruan menuju masjid. Mulai dari para ibu dan anak-anak gadisnya dengan mukena bermotif bunga-bunga, juga para bapak dan segerombolan pemuda dengan baju koko dan sarung terbaiknya. Tak lupa pula disematkan peci untuk melengkapi penampilan mereka. Semua tampak penuh sukacita menyambut bulan suci Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu kusaksikan pemandangan serupa meski di tempat yang berbeda-beda. Aku sempat dikejutkan dengan suara petasan yang meledak di sekitar motorku saat aku melambatkan laju motorku untuk menoleh sedikit ke arah masjid yang bahkan serambinya mulai tidak mampu menampung lebih banyak orang lagi. Sejurus kemudian, segerombolan anak terdengar tertawa-tawa mengetahui petasan yang mereka lemparkan berhasil mengejutkan seseorang. Aku melengos saja sambil ikut tertawa dalam hati, menerawang dan bernostalgia ketika aku melakukan hal yang sama saat seusia mereka.

Di setiap masjid yang kulewati, kondisinya tidak jauh berbeda. Semuanya penuh jamaah, sampai-sampai alas tambahan seperti tikar dan terpal perlu digelar di luar masjid agar mampu memuat mereka yang tidak bisa beribadah di dalam. Di masjid berikutnya, rupanya ibadah Isya’ telah dimulai dan secara serentak, seluruh jamaah mengikuti gerakan imam dengan khusyuk, sejauh yang dapat kulihat. Selang beberapa lama, ketika aku tiba di wilayah perumahanku di Sidoarjo, kudapati masjid dekat rumahku telah menunaikan ibadah tarawih dengan tak kalah khusyuknya. Continue reading “Mengenang Sekali Lagi”