Saudade

Saudade [Portuguese] (n.) A nostalgic longing to be near again to something or someone that is distant, or that has been loved and then lost; “the love that remains”.

Continue reading “Saudade”

Advertisements

Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015

Sabtu lalu, aku membeli Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 dengan judul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” sebagai salah satu bacaan untuk menghabiskan waktu saat Kerja Praktik (KP) di Trenggalek selama dua bulan, yang dimulai sejak Senin kemarin. Kenyataan yang terjadi adalah, rupanya aku selesai melahapnya dalam waktu dua hari. Tidak begitu mengejutkan sebenarnya, mengingat seluruh cerpen yang pernah dimuat harian KOMPAS jarang sekali mengecewakanku (karena di sini aku menyebutkan jarang, maka tentu saja ada beberapa yang tidak memenuhi seleraku) terlebih lagi cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku ini begitu berkarakter dan mengalir sehingga, sulit rasanya untuk meletakkannya sebelum habis terbaca jika saja aku tidak ingat keharusan untuk membuat laporan KP setiap malam.

Meski aku tidak dibesarkan bersama cerpen-cerpen KOMPAS, aku bisa mengerti bahwa setiap karya yang dimuat selalu mengandung nilai serta pesan kemanusiaan yang nyata meski tidak selalu digambarkan secara realis dan gamblang. Bahkan, hampir semua yang pernah kubaca cenderung bergaya surealis, irasional, dan terkadang juga perlu diselami lebih dalam lantaran apa yang hendak disampaikan penulis tersembunyi jauh di dasar. Itulah yang membuat cerpen-cerpen KOMPAS khas dan penuh karakter meskipun diutarakan oleh banyak penulis dari Sabang sampai Merauke.

Cerpen-cerpen KOMPAS mampu menyingkap banyak kegelisahan, permasalahan, kemarahan, juga ironi yang banyak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Tanah Air. Berbeda dengan berita, aku merasa justru cerpen-cerpen ini lebih menohok dan jujur. Mereka menyajikan kepingan peristiwa melalui sebuah narasi yang apa adanya, terkadang jenaka, penuh ironi, atau pun menggelitik, dan hal itu justru membuatnya semakin getir dan menyentuh. Bahkan Efix Mulyadi, salah seorang juri dalam penentuan Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, turut menyatakan dalam kata pengantarnya: Justru lewat karya sastra hakikat ketertindasan itu lebih muncul secara penuh. Aku harap tidak berlebihan bila kukatakan bahwa cerpen KOMPAS tidak hanya dapat dinikmati sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi refleksi dan bahan perenungan bagi mereka yang membacanya.

Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015 yang memuat dua puluh tiga cerpen ini, secara khusus Efix Mulyadi memberi judul pada kata pengantarnya, “Yang Tersisih dan yang Dikorbankan” karena memang, hal itulah yang menjadi benang merah dari dua puluh tiga karya tersebut. Dan secara khusus pula, aku membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi atas beberapa karya yang kuanggap paling menyita perhatianku. Semua yang termuat tentu memberikan kesan tersendiri bagiku namun, tidak semuanya dapat kuinterpretasikan saat ini karena keterbatasan ilmu, pengetahuan, juga pengalaman. Oleh karenanya, hanya beberapa karya yang kuulas di sini. Bila kau khawatir ulasanku akan mengganggu kenikmatanmu yang baru hendak membaca Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2015, aku sarankan kau berhenti membaca di sini. Continue reading “Bercermin pada Cerpen Pilihan KOMPAS 2015”

Mengenang Sekali Lagi

Malam ini adalah malam tarawih pertama untuk beberapa (jika tidak semua) kalangan muslim Indonesia. Maka, tidak mengherankan apabila sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sidoarjo tadi pandanganku menyapu orang-orang yang berjejalan tak keruan menuju masjid. Mulai dari para ibu dan anak-anak gadisnya dengan mukena bermotif bunga-bunga, juga para bapak dan segerombolan pemuda dengan baju koko dan sarung terbaiknya. Tak lupa pula disematkan peci untuk melengkapi penampilan mereka. Semua tampak penuh sukacita menyambut bulan suci Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu kusaksikan pemandangan serupa meski di tempat yang berbeda-beda. Aku sempat dikejutkan dengan suara petasan yang meledak di sekitar motorku saat aku melambatkan laju motorku untuk menoleh sedikit ke arah masjid yang bahkan serambinya mulai tidak mampu menampung lebih banyak orang lagi. Sejurus kemudian, segerombolan anak terdengar tertawa-tawa mengetahui petasan yang mereka lemparkan berhasil mengejutkan seseorang. Aku melengos saja sambil ikut tertawa dalam hati, menerawang dan bernostalgia ketika aku melakukan hal yang sama saat seusia mereka.

Di setiap masjid yang kulewati, kondisinya tidak jauh berbeda. Semuanya penuh jamaah, sampai-sampai alas tambahan seperti tikar dan terpal perlu digelar di luar masjid agar mampu memuat mereka yang tidak bisa beribadah di dalam. Di masjid berikutnya, rupanya ibadah Isya’ telah dimulai dan secara serentak, seluruh jamaah mengikuti gerakan imam dengan khusyuk, sejauh yang dapat kulihat. Selang beberapa lama, ketika aku tiba di wilayah perumahanku di Sidoarjo, kudapati masjid dekat rumahku telah menunaikan ibadah tarawih dengan tak kalah khusyuknya. Continue reading “Mengenang Sekali Lagi”

Merenung Sekali Lagi

“Aku sering diberitahu bahwa ketidakpercayaanku ini memastikan diriku kehilangan surga dan berakhir di neraka. Tapi surganya siapa? Nerakanya siapa?

Aku sering diberitahu bahwa untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku percaya Tuhan saja, karena toh aku tidak rugi apa-apa. Tapi Tuhan yang mana?

Dengan pilihan sebanyak itu, bukankah lebih besar kemungkinannya aku salah pilih? Tidakkah lebih baik aku bertaruh tak ada Tuhan ketimbang bertaruh pada Tuhan yang salah?

Kau bilang padaku, “Bagaimana kalau kau yang salah?” Tapi bagaimana kalau kau yang salah?

Sebenarnya, kau sudah tahu bagaimana rasanya tidak percaya pada semua Tuhan kecuali Tuhanmu sendiri. Bagimu, jelas bahwa para penganut agama lain itu keliru, tersesat, atau tertipu. Tapi mereka berpikir yang sama juga tentangmu.”

Dikutip dari video “Dear Believer: Why Do You Believe?” terjemahan Indonesia (link video asli: http://www.youtube.com/watch?v=xl_TrvIIcBY)

Malam Panjang di Kayungyun

“Apa arti kebahagiaan bagimu?”

Suatu malam, perempuan di depanku berkata bahwa ia masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Setelah menelan beberapa suap es bubur kacang hijau dan bercerita ngalor ngidul tentang banyak hal, ia mengatakannya. Dari semua pertanyaan yang dilayangkan teman-teman diskusinya, hanya pertanyaan itu yang membuatnya diam sejauh ini. Sejurus kemudian, ia berceloteh lagi tentang sebuah topik. Aku menimpali, kadang sedikit mendebat ketika topiknya kukuasai, kadang kurespon dengan anggukan ketika topiknya tak kusukai (dan tak kukuasai). Tak jarang pula obrolan kami berbelok jauh dari topik awal, karena entah mengapa kami selalu saja menemukan celah untuk diperbincangkan, dan itu semua berimbas pada durasi diskusi yang semakin tak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Continue reading “Malam Panjang di Kayungyun”

Kerdil

Semakin sering aku belajar, semakin banyak aku tahu, semakin luas wawasan dan pengalamanku, semakin banyak orang yang singgah dalam perjalanan hidup, di saat yang sama aku semakin merasa kerdil atas semuanya. Semakin aku merasa tidak ada apa-apanya dan jauh tertinggal dibanding yang lain.

Namun di saat yang sama pula, aku semakin terpacu. Bukan untuk menjadi lebih superior atas yang lain, bukan juga untuk berkompetisi dalam parameter semu yang hanya dirasa diri sendiri. Melainkan terpacu untuk mempertahankan pandangan positif atas setiap potensi orang lain, terus memupuk potensi diri, dan mencoba perlahan menghilangkan perasaan kerdil atas diri.

Karena perasaan rendah yang berlebihan tentu tidak akan mengantarku maju kemanapun.

Ilusi Secangkir Kopi

Kau dengar secangkir kopi ini berbisik
Beriak hening di sudut meja yang tak kau sentuh
Dalam tanya kau terusik
Kemana pekat ini ‘kan membawamu berlabuh

Di pandang pertama riaknya berkata
“Aku diam tak bergelombang
Namun takutmu yang jadikannya nyata”
Dan ia biarkan tanyamu mengambang

Di sesap pertama aromanya menyahut
“Aku memikat jejak langkah pertamamu
Membentangkan layarmu ‘tuk terhanyut
Tenggelam dalam rekam perjalanan yang baru”

Di teguk pertama derainya menantang
“Kehendakmu putuskan ‘tuk bermula
Bak seorang dalang yang berwayang
Bagaimana akhirnya pilihanmu pulalah kuncinya”

Kau bisa berhenti
Mengaku kalah dan menyerah
Tak lagi menenggak kopi
Karena hanya berimu resah

Menenggaknya habis pun tak apa
Abaikan aromanya
Melawan pahitnya
Hingga ampas tersisa

Atau menyesapnya perlahan
Menikmati setiap teguk yang mencekat
Yakin bahwa hanya dengan bertahan
Kau mampu melihat yang tersirat

Bahwa kesederhanaan kopi
Berkisah akan ceritera
Berbalut ilusi juga ironi
Tentang mahakarya bernama semesta

Jumat, 30 Januari 2015 pukul 20.37 WIB
Dalam kereta menuju Surabaya