Sepenggal Surat Cinta

dari: kantong plastik belanja
untuk: awan di atas sana

*

mereka bilang, kau dan aku tidak bisa bersama.

katanya kau terlalu tinggi sementara aku begitu membumi. katanya kau takkan pernah bisa setia, takkan bisa kupinta tinggal untuk waktu yang lama. katanya menggenggammu adalah sia-sia, kau akan selalu pergi dan terus mencari, sementara aku menghabiskan hidup mengejar dan mengharapmu kembali.

*

Continue reading “Sepenggal Surat Cinta”

Advertisements

Rumahku Sebuah Puisi

/i/

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun saban hari.

dindingnya kata-kata, berjejalan penuh sesak saling berebut membentuk makna. kupastikan huruf-huruf penyusunnya kecil semua, karena yang besar terlalu sulit untuk ditempa.

kusematkan titik sebagai jendela, sekadar pemanis yang takkan pernah kubuka. dan daun pintu—aku hampir saja lupa—ia kupetik dari sebuah tanda koma.

rumahku beratapkan air mata. tak hanya melindungi dari hujan dan matahari, tapi juga dari patah hati berulang kali.

lantainya kayu pohon jati, kutebang langsung dari belukar dalam kepala sendiri. tapi tidak dengan lantai kamar mandi, kubangun ia setelah seluruh jati habis ditebangi. dengan satu-satunya yang tersisa dalam kepala ini: sunyi.

rumahku adalah sebuah puisi yang kubangun seorang diri.

Continue reading “Rumahku Sebuah Puisi”