Saudade

Saudade [Portuguese] (n.) A nostalgic longing to be near again to something or someone that is distant, or that has been loved and then lost; “the love that remains”.

Continue reading “Saudade”

Advertisements

Mengenang Sekali Lagi

Malam ini adalah malam tarawih pertama untuk beberapa (jika tidak semua) kalangan muslim Indonesia. Maka, tidak mengherankan apabila sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sidoarjo tadi pandanganku menyapu orang-orang yang berjejalan tak keruan menuju masjid. Mulai dari para ibu dan anak-anak gadisnya dengan mukena bermotif bunga-bunga, juga para bapak dan segerombolan pemuda dengan baju koko dan sarung terbaiknya. Tak lupa pula disematkan peci untuk melengkapi penampilan mereka. Semua tampak penuh sukacita menyambut bulan suci Ramadhan ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu kusaksikan pemandangan serupa meski di tempat yang berbeda-beda. Aku sempat dikejutkan dengan suara petasan yang meledak di sekitar motorku saat aku melambatkan laju motorku untuk menoleh sedikit ke arah masjid yang bahkan serambinya mulai tidak mampu menampung lebih banyak orang lagi. Sejurus kemudian, segerombolan anak terdengar tertawa-tawa mengetahui petasan yang mereka lemparkan berhasil mengejutkan seseorang. Aku melengos saja sambil ikut tertawa dalam hati, menerawang dan bernostalgia ketika aku melakukan hal yang sama saat seusia mereka.

Di setiap masjid yang kulewati, kondisinya tidak jauh berbeda. Semuanya penuh jamaah, sampai-sampai alas tambahan seperti tikar dan terpal perlu digelar di luar masjid agar mampu memuat mereka yang tidak bisa beribadah di dalam. Di masjid berikutnya, rupanya ibadah Isya’ telah dimulai dan secara serentak, seluruh jamaah mengikuti gerakan imam dengan khusyuk, sejauh yang dapat kulihat. Selang beberapa lama, ketika aku tiba di wilayah perumahanku di Sidoarjo, kudapati masjid dekat rumahku telah menunaikan ibadah tarawih dengan tak kalah khusyuknya. Continue reading “Mengenang Sekali Lagi”

Tidak Perlu

Terlalu dini kurasa
untuk mendefinisikannya

Sebagai suka
sementara jiwa terguncang menyesap aroma tubuhnya
degup tak berirama membayangkan rengkuhan peluknya
dan batin tersiksa tak mampu mencium keningnya

Atau sebagai cinta
sementara hati mengaku bersalah telah menyimpan rasa
dan asa tak lagi ada
karena getar kehadirannya membuyarkan logika

Atau bahkan hawa nafsu belaka
meski yang diharap hanyalah sesederhana tawanya
meski tersiksa menyadari diri bukan alasannya
untuk bahagia

Atas dasar apa
manusia (mampu) mendefinisikan getar dalam hatinya

Tak bisakah ia mengalir tanpa jeda
kemanapun takdir menyeretnya
‘tuk bermuara
tanpa prasangka?

Surabaya, 20 September 2014
Dalam perjalanan menuju utuh